![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
babas sudah memperbaiki body motornya, akibat di tegur pak polisi di persimpangan jalan waktu itu. kalung lonceng yang di pakai di motornya pun sudah di copot.
babas sebenarnya enggan untuk mencopot kalung lonceng itu, tapi dari pada nanti di hukum suruh push up lagi sama pak polisi, babas pun merelakan kalung lonceng itu untuk di copot.
kalung lonceng itu sekarang di gantungnya di depan jendela balkon kamarnya. jadi kalau angin bertiup kencang, kalung itu akan berbunyi nyaring.
pastinya akan ada yang terganggu akan bunyi nyaring lonceng itu, kita tunggu saja. hehe....
÷÷÷÷÷
tin.....tin.... babas membunyikan klakson motornya saat melihat wayan dan abi di parkiran.
"woyyy... cendol," teriak babas pada wayan dan abi.
"enak dimakan dingin," sahut wayan ngekek.
"tambah gula merah, biar mantap." jawab abi datar.
babas dan wayan yang mendengar abi menjawab pun saling pandang, dan kemudian tertawa kencang.
abi pun akhirnya ikut tertawa, menyadari terpancing oleh bualan babas dan wayan.
tidak lama dinda datang dengan motor kesayangannya. disusul salsa dan lyli, yang turun dari mobil lyli diantar supir lyli.
"woy.... mana kalung lonceng lu?" tanya wayan yang melihat motor babas dalam keadaan normal.
"sehat motor lu bas?" timpal abi.
"ya iya lah sehat, kemaren pas pulang di stop pak polisi, pake di hukum malah," sahut salsa yang tiba-tiba muncul langsung nyerocos.
"bawel lu, masih untung gue anter sampe rumah dengan selamat, coba kemaren itu gue tinggal aja lu sama pak polisi." ucap babas sewot.
"tapi motor lu lebih keren kaya gini bas," ucap dinda.
"iya benar bas," timpa abi.
"tapi lebih keren lagi kalo gak usah bawa motor bas." ledek dinda.
uaahahaa.... tawa mereka pecah mendengar sindiran dinda kepada babas.
"cinderella kok gitu sih sama pangeran, nanti pangeran sedih nih." sahut babas dengan muka berpura-pura sedih.
"jijik sih bas dengernya, dinda boleh jadi cinderella, tapi lu jadi pangeran???, ancur bas istana." timpal abi.
"sirik lu bi," ucap babas. "gini-gini gue pangeran, iya kan cinderella?" babas mengedipkan matanya pada dinda. dinda hanya menghela napasnya sambil melotot kearah babas.
"woww.... atutttt.... cinderella ku marah..." celetuk babas.
"jadi lu pulang bareng sama babas sa?" tanya lyli penasaran.
"ya iya lah, gadis mana yang menolak diantar om babas." sahut babas sambil mengangkat kerah bajunya.
"preeettttt.... mau muntah gue dengernya bas." timpal salsa. "kalo bukan terpaksa, gak bakalan gue mau dianter lu, bikin malu lagi." dumel salsa.
"cie....cie.....cie..... ada yang pulang bareng nieyyy yeee....." ledek wayan.
"wayan......." salsa berteriak. salsa sudah akan mengacak-acak muka wayan, lalu terdengar suara motor seseorang.
brum....brumm..... terlihat james dan motornya memasuki parkiran sekolah.
"james....." teriak salsa kegirangan begitu mengetahui yang datang adalah james.
"james kemana aja, kemaren2 kok lama banget gak masuk?" tanya salsa dengan suara manja.
james tak menjawab pertanyaan salsa, james memilih memarkirkan motornya terlebih dahulu.
dinda melirik babas, abi, wayan, dan lyli. memberi kode agar mereka lekas masuk kelas meninggalkan salsa dan james. diam-diam mereka meninggalkan parkiran, terlihat salsa masih setia menatap james.
james yang melihat teman-teman yang lain sudah pada kabur, dengan cepat melepas helmnya, meletakan helm itu diatas motor, dengan cepat pula meninggalkan salsa yang masih mematung menatapnya.
tak lama salsa tersadar, melihat sekeliling dan para sahabatnya sudah tidak ada di sana lagi, begitu pula dengan james yang berjalan dengan tergesa-gesa memasuki kelas.
merasa kesal, salsa menghentakan kakinya, memasang wajah cemberut, dan bergegas menyusul ke dalam kelas.
÷÷÷÷÷
"tega lu semua ya, gue ditinggal sendirian di parkiran." salsa langsung mengomel saat tiba di kelas.
yang lain hanya senyum-senyum saling melirik.
"ya lu terpesona aja sama babang james, kita tinggal lah, dari pada jadi nyamuk kan." ucap babas.
james yang di sindir hanya acuh tak menghiraukan sama sekali.
"padahal babang babas jeles tuh......," sahut wayan.
lyli langsung tertawa, di ikuti, abi dan dinda.
"eitsttttt...... bukan babang tapi "om"," sangkal babas.
"sungguh teganya kau sayang membiarkan om babas merasa diabaikan." sahut babas dengan tawanya yang pecah.
"ck........ laga lu bas.... "om"?????? om pim pah." protes salsa.
"babas....." salsa sudah akan menjambak rambut babas.
"selamat pagi anak-anak." ucap bu rita yang baru datang.
(masih ingat bu rita?, wali kelas mereka. oya, bu rita itu guru matematika).
mendengar suara bu rita, dengan segera mereka kembali ke bangku masing-masing.
"selamat lu ya," omel salsa pada babas.
babas hanya senyum-senyum saja.
"minggu depan kita akan ulangan, jangan lupa belajar dan ibu tidak mau ada yang remedial." bu rita memberitahu.
"sekarang buka halaman 65, kerjakan latihan 2, soal nomor 1 sampai 5. ibu kasih waktu 25 menit, setelah itu kita bahas bersama." perintah bu rita.
mereka mengerjakan soal yang di berikan bu rita, wayan sibuk melihat buku latihan abi.
salsa menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa soal itu tak mampu di kerjakannya.
babas dengan santai dan cepat menjawab soal itu, tidak butuh waktu sampai 25 menit, seperti yang diberikan bu rita. babas sudah menyelesaikan hanya dalam waktu 15 menit. setelahnya babas malah membuka komik di sela buku pelajarannya.
saat babas sedang asik membaca komik, tanpa sadar bu rita berdiri di belakangnya.
"sudah selesai bastino?" tanya bu rita mengagetkan.
sontak babas menutup buku matematika yang di tengahnya ada komik. "ee...uu....udah... bu...." jawab babas gelagapan.
bu rita mengambil buku latihan babas, melihat buku itu, ternyata benar babas sudah menyelesaikan soal yang di berikan, dan jawabannya benar semua. padahal bu rita belum menjelaskan materi dari soalnya itu.
"kamu ke depan kelas," perintah bu rita pada babas.
teman-teman yang lain menatap babas, ada yang merasa kasihan, ada juga yang nyukurin.
"baiklah sepertinya sudah 25 menit berlalu, sekarang kita akan membahas bersama." ucap bu rita
"bastino akan menjelaskan jawaban dari soal yang kalian kerjakan. bastino maju." perintah bu rita.
babas yang kikuk lantas maju ke depan kelas, "saya harus menjelaskan apa bu?" tanya babas
"jelaskan jawaban dari soal yang kamu kerjakan. ini buku mu bukan?" ucap bu rita sambil menunjukan buku yang di pegang ditangannya.
"iya itu buku saya bu." jawab babas.
"kalau begitu sekarang jelaskan kepada semua teman-teman mu jawaban dari soal-soal ini." ucap bu rita. "lalu yang lain perhatikan bastino, bagi yang belum selesai mengerjakan harap mencatat dengan baik."
mau tak mau babas menjelaskan di depan kelas, gayanya sudah seperti seorang guru profesional.
bu rita memandang babas takjub, dia tidak menyangka anak seperti babas ternyata sepintar ini. padahal babas yang dikenal di sekolah adalah babas yang usil dan suka seenaknya sendiri.
teman-teman yang lain pun terdiam dan memperhatikan setiap penjelasan babas.
"gile... si tengil ternyata pintar juga." ucap wayan.
"sudah selesai bu." babas memberitahu.
"baiklah anak-anak, ada yang ingin kalian tanyakan? apa penjelsan bastino bisa kalian pahami?" tanya bu rita.
"paham bu.....," mereka menjawab serempak.
bastian menganga mendengar teman-temannya, "apa yang udah gue lakuin? bisa kacau kalo gini?" bastian pun mengalihkan perhatian teman-temannya.
"wuaaahhhh..... lu pada ngerti semua??? padahal gue ngasal aja." ucap bastian cengengesan sambil garuk-garuk tengkuknya.
"bas jadi lu ngasal?" tanya salsa.
"hehehe.... ya kan mungkin lagi beruntung aja." jawab babas sekenanya.
"nyesel gue udah serius merhatiin." jawab salsa dongkol.
"bastino kamu boleh duduk." perintah bu rita.
babas pun duduk kembali di bangkunya.
"woy... bas.. gak nyangka gue, lu pinter juga ya dul." ucap wayan.
"hadeehhhhhh.... gue kemaren diajarin abang gue soal itu, yang ngerjain jawabannya juga abang gue. emang nasib baik gue kali ya," babas tersenyum menaik turunkan alisnya.
pletakkk... wayan menjitak babas. "gue kira lu beneran pinter. sia-sia gue muji lu." gerutu wayan.
"sakit woyy..... bisa blenyon gue nanti gara-gara lu jitak yan." protes babas.
"emang udah blenyon kan?" balas wayan.
dinda yang melihat hanya tersenyum, dinda sebenarnya tau kalo otak babas di atas rata-rata, jadi wajar babas dengan mudah menyelesaikan soal itu.
sedangkan babas tidak ingin kalo teman-temannya menganggap dia pintar. babas hanya ingin dianggap sama saja dengan teman-teman yang lainnya dan berteman seperti biasa. bukan karena dia pintar, atau karena siapa keluarganya.
babas hanya ingin teman-temannya menerima dia yang biasa saja. makanya babas selalu bertingkah konyol, dan ngomong seenaknya.