Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode EMPATPULUHEMPAT



andra sudah turun dari motor dinda, berpamitan pada dinda. "ndra hari ini bunda pulang, nanti gue jemput lu kaya biasa" dinda memberitahu.


"serius kak? bukan nya besok bunda sama ayah baru balik"


"hari ini bunda aja yang balik, ayah besok, udah sana masuk, wa gue kalo ada apa-apa"


"dian" joni datang merangkul andra, berjalan bersama menuju kelas mereka.


"lu udah tau belum? kakaknya cinta udah masuk, tadi gue liat dia sama kedua temannya."


"terus apa hubungannya sama gue jon?"


"ya kali aja lu suka gosip di pagi hari" ucap joni meledek andra. "oya... gue dapat info, katanya si angga itu berantem dengan anak sekolah bla...bla...."


"dari mana lu tau?" tanya andra.


"ya elah dian, gue gitu loh, j..o..n..i.., pasti tau lah" joni membanggakan dirinya.


"ahh...sok tau lu" sahut andra berjalan mendahului joni.


"dian..., ishh.... kok gue ditinggal"


÷÷÷÷÷


angga sudah masuk sekolah setelah empat hari tidak masuk, luka lebam di wajahnya sudah membaik. angga di sambut kedua teman akrabnya.


"gimana kabar lu ngga?" tanya salah satu teman angga.


"udah baik lah, lu liat sendiri kan. oya, gimana dengan si adik kelas itu, udah lu ancem lagi belum, gue mau buat perhitungan sama kakaknya" ucap angga.


"mending kita langsung buat pergitungan sama kakaknya aja ngga, gak usah ganggu adiknya"


"kenapa? lu pada takut? yahh... baru juga kena kaya kemaren udah pada ciut nyali lu semua" hardik angga.


"bukan gitu ngga, kemaren kita sempet ngancem si andra, tapi tiba-tiba kakaknya muncul, terus ngancem balik kita" jelas salah seorang teman angga.


"maksud lu?"


"adi bilang jangan ganggu adek dia, kalo kita tetap ganggu adiknya si andra itu, dia bakal ------" teman angga melirik temannya, agak ragu mau bilang ke angga yang sebenarnya.


"bakal apa???" tanya angga dengan penasaran.


"dia bakal bales lu lewat cinta" sahut teman angga. sedangkan angga yang mendengar sudah mengepalkan tangannya, terlihat angga menahan amarahnya.


"saran gue sih nga, mending kita bales langsung ke si adi aja, gak usah ganggu adeknya, lagian kita juga gak mau kalo adek lu si cinta ikut terlibat" ucap teman angga.


"iya ngga bener, lagian masalah kita kan sama adi, kita pikirin bales si adi aja, kalo dia sampe ngapa-ngapain cinta ------"


"jaga ucapan lu ya" angga mencengkram kerah baju temannya.


"ng.....ngga.... gue kan cuman ngingetin lu aja, cinta juga udah kaya adek kita kali"


angga melepaskan cengkraman pada temannya, "sorry, gue emosi" ucap angga menyesal atas tindakannya barusan.


"gak apa ngga kita ngerti kok" sahut kedua teman angga.


÷÷÷÷÷


Pesan WhatsApp


"kak, angga sudah masuk sekolah hari ini" (andra)


"dia ganggu lu lagi?" (dinda)


"gak kak" (andra)


"ya udah nanti pulang sekolah gue jemput depan gerbang" (dinda)


begitu bel pulang sekolah dinda langsung menuju parkiran, tapi lyli memanggil dengan berteriak.


"adi....., hari ini pulang sekolah kita kumpul di rumah wayan ya" ucap lyli.


"aduh gue gak bisa ly, di suruh bunda langsung pulang hari ini, lain kali lah" sahut dinda.


"yah di, udah lama kan kita gak kumpul"


"iya, tapi gue beneran gak bisa kalo hari ini"


÷÷÷÷÷


dinda segera menuju sekolah andra. james yang melihat dinda tidak sempat berbicara. padahal james ingin menyampaikan sesuatu kepada dinda.


sedang babas jangan di tanya, babas sedang asik menikmati harinya yang di gilai para siswi di sekolah. banyak siswi yang minta diantar babas pulang, bahkan ada yang membawakan bekal makan siang untuk babas. padahal baru dua hari babas sekolah dengan penampilan barunya. babas sampai kewalahan meladeni para siswi itu, tapi dia menikmatinya. babas jadi seperti idola baru di sekolah.


wayan pun sempat mengekori babas, lumayan katanya mungkin aja kecipratan.


"kenapa adi gak ikut? tanya abi pada teman-temannya.


"disuruh bundanya pulang cepet" jawab lyli.


"lah james biasanya lu ngekor si adi, tumben banget disini. ada gula ada semut, ada adi ada james" timpal babas.


james tidak menanggapi babas, seperti biasanya jika ada yang meledek james hanya diam atau berdehem saja.


÷÷÷÷÷


"kak" panggil andra menggampiri dinda yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.


"angga, itu si adi" teman angga memberitahu keberadaan dinda di depan gerbang.


angga melihat kearah yang di tunjukkan temannya, angga menatap tajam pada dinda, tapi tidak dengan dinda, dinda tak menghiraukan keberadaan angga dan kedua temannya.


"mau kita samperin gak ngga?" tanya teman angga.


"gak usah hari ini, biar aja dulu, nanti lain kali kita bales dia" jawab angga dengan yakinnya.


÷÷÷÷÷


"dinda ada yang mau kamu ceritain sama bunda?" tanya bunda dengan wajah serius.


"cerita apaan bun? gak ada kayaknya bun" jawab dinda.


"ya sudah kalau tidak mau cerita, besok tunggu ayah kamu cerita sama ayah" bunda sudah berdiri hendak pergi ke dapur mau menyiapkan makan malam.


"bun" panggil dinda lirih. "emang pak yanto ngadu apa sama bunda?" taya dinda.


"memang kalau pak yanto gak ngadu sama bunda, kamu gak akan cerita? iya?"


"dinda gak ngelakuin yang salah kok bun, malem itu dinda pergi ke rumah sakit, temen dinda si dodi kecelakaan" dinda mulai menjelaskan.


"tapi apa harus kamu? kamu bisa pergi besok paginya kan. memang teman mu itu gak punya keluarga? kenapa harus kamu yang pergi malam-malam gitu. kamu gak pikir kalau itu bahaya? kamu itu perempuan dinda, bahaya keluar sendirian malam-malam" bunda mulai memberi petuah pada dinda.


"dodi itu anak yatim bun, ipul yang kasih tau dinda kalau dodi kecelakaan, makanya dinda pergi malam itu juga, kasihan kan bun, kalau dia kenapa-kenapa gimana sama ibunya. ipul takut nelpon ibunya dodi bun, jadi dia nelpon dinda. lagian ayah sama bunda kan yang ngajarin dinda untuk selalu membantu orang yang dalam kesusahan tanpa melihat statusnya." dinda membela diri.


"iya tapi tidak dengan membahayakan keselamatan kamu juga dinda" bunda sedikit melunak, walau marah dan kesal dengan tindakan dinda tapi bunda senang anak perempuannya ini punya kepribadian yang baik. jadi selama ini yang diajarkan bunda dan ayah dapat di pahami dinda dengan baik.


"memang ayah tau ya bun?" tanya dinda takut-takut.


"belum, tapi kalau kamu gak jujur sama bunda, mungkin ayah akan tau" ucap bunda.


dalam hati dinda merasa lega, berarti baru bunda yang tau, bunda kan biasanya selalu belain di depan ayah, jadi kali ini gak peru menghadapi amarah ayah.


"lalu siapa teman mu yang membuat onar di depan rumah?" tanya bunda.


dinda berpikir, teman yang bikin onar??? "owgh pasti babas" dinda menghela napas, pak yanto emang antek-antek ayah sama bunda, mulutnya lebih ember dari salsa.


"itu si babas bun, bunda kenal kok" jawab dinda malas, masa iya gara-gara si babas bakal dengerin bunda nyanyi sampe makan malem. "hemmm..... apess"


"siapa?? masa bunda kenal?" tanya bunda sambil mengingat-ingat teman dinda yang bernama babas, tapi sayangnya bunda gak ingat.


"itu loh bun anak om bram sama tante sinta" sahut dinda sudah duduk santai gak setegang tadi.


"tino? owgh.... tino anak jeng sinta" kok bisa kamu pergi sama dia?" tanya bunda yang sudah berganti kepo ala emak-emak. "kalian pacaran???" kan bener bunda kepo, bisa-bisanya menuduh tanpa mendengarkan penjelasan dulu.


"siapa yang pacaran sih bun, bunda kaya gak tau ayah aja. (dinda masih sekolah tidak boleh pacar-pacaran)" dinda mengulang ucapan ayah padanya.


bunda hanya senyum-senyum saja, soalnya bunda menyukai anak tante sinta, yang menurut bunda menggemaskan apalagi rambutnya yang keriting itu, sangat lucu menurut bunda. jadi dalam hati bunda tidak keberatan kalau dinda berjodoh dengan anak sahabat suaminya itu.


"udah kan bun, dinda mau ke kamar aja, mau ngerjain tugas sekolah" ucap dinda yang sebenarnya ingin menghindar dari pertanyaan bunda selanjutnya.


"tunggu dulu? terus siapa yang kirim banyak buah-buahan?" tanya bunda.


"hadehh...., ya si tino bun" jawab dinda malas, benar-benar malas. ini bakalan panjang kalo bunda terus nanya tentang si babas.


"kok bisa tino kirim buah-buahan sebanyak itu? untuk apa? jangan-jangan dia naksir kamu ya?" kan benar panjang urusannya.


"ya enggak lah bun, mana mungkin si babas suka dinda, dia mah sukanya cewek-cewek sexy yang centil dan kegenitan" sahut dinda asal.


"kamu cemburu ya?" tanya bunda yang tingkat keponya naik level.


"aaa.... udah ahh... bun malas bahas si babas, gak penting" dinda sudah mulai hendak melangkahkan kaki pergi menuju kamarnya.


"tunggu, bunda belum selesai ngomong" jadilah dinda kembali duduk di sofa, dan dari pada kesal dinda memgambil toples berisi camilan, mulai memakan camilan.


"dalam rangka apa si tino kirim kamu buah-buahan?"


"dinda sakit jadi dia kirim buah" jawab dinda spontan tak sengaja keceplosan.