Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode SEBELAS



dinda sudah di kamar, berbaring untuk beristirahat. "lebih bagus suruh gue tanding tinju dari pada di suruh pake gaun ke pesta."


"gimana caranya ya gue bisa ikut balapan itu, gue harus dapet motor bagus nih. biar bisa ngalahin si dino."


"kali ini gak mungkin pake motor si dodi, walau motor bebek dia udah di modif, tapi tetap aja gak bisa ngalahin motor dino."


pikiran dinda masih menerawang, otaknya terus berpikir soal balapan


"yap... binggo, gue tau harus pake motor siapa."


dinda pun memejamkan matanya, terlelap dalam mimpi indah.


÷÷÷÷÷


__________________________


"tolong....tolong...


lepasin gue, apa mau kalian, woy.... lepasin gue.


lu pada denger gak, lepasin gue.."


dinda terus berteriak.


tangan dan kaki dinda terikat tali dengan sangat kuat, dinda terikat pada sebuah pohon besar. dinda berada di tengah hutan.


bahkan dinda tidak bisa bergerak sedikitpun untuk melepaskan diri dari ikatan itu.


"tolong.... siapapun, tolong gue..."


sudah lama dinda berteriak, sampe suaranya serak dan hampir hilang.


lama kelamaan dinda lelah, lantas menyerah, dia mulai berlinang, menangis pelan.


"tuhan jika ada yang bisa menolong ku, aku akan sangat berterimakasih."


"jika yang menolong ku perempuan, maka akan aku jadikan dia saudara?"


"jika yang menolongku seorang laki-laki maka akan aku jadikan suami."


lah kenapa kok kaya di cerita film ya..


dinda pingsan karena terlalu lelah meronta. dia sudah tak mampu berteriak meminta tolong.


ada cahaya terang menyinari hutan gelap itu, dinda membuka matanya perlahan karena silau.


"hei..hei.. kamu.."


"bagun.." seseorang dengan suara berat, menepuk pipi dinda, mencoba membangunkan dinda.


dinda membuka matanya, ada seorang lelaki didepannya, tapi dia tidak melihat dengan jelas wajah lelaki itu.


lelaki itu tampak tersenyum, "hayo bangun," suaramya berubah menjadi lembut. dinda membalas senyuman itu. tapi tiba-tiba terdengar ---


"bangun........ dinda.... bangun....."


suara nyaring bunda membangunkan dinda.


__________________________________


"jiah, gue cuman mimpi." dinda mengusap wajahnya.


"cepetan bangun dinda, kamu kan mesti berangkat sekolah, udah jam berapa ini?" bunda mulai bernyanyi di pagi hari


"itu tadi salsa nelpon kamu. bunda bilang kamu masih tidur, katanya nanti nelpon lagi." bunda memberitahu.


"iya bun, ini dinda mau mandi."


"kamu berangkat bareng sekalian sama andra aja." perintah bunda


÷÷÷÷÷


"kak, kak dinda.." panggil andra


kami di dalam mobil menuju sekolah.


"hem.."


"kakak kenapa? kok ngelamun?" tanya andra.


"bukan urusan lu dek."


"uuuu ditanya baik-baik juga," omel andra


mimpi apaan sih gue ya, kok aneh gitu mimpinya, cowok yang di ngimpi gue itu siapa lagi. dinda mengaruk kepalanya yang gak gatal.


ngapain juga mikirin mimpi, gak penting banget.


"non, udah sampe." pak supir memberitahu ku. salah lebih tepatnya salah satu anggota ayah.


dinda turun dari mobil, "dah kak dinda," andra melambaikan tangan.


sedang dinda hanya menjulurkan lidahnya pada andra.


gak mau kalah andra pun membalas dinda.


dinda berjalan menuju kelasnya.


"abi mana si james?" tanya dinda


"belum liat gue, mungkin belum dateng."


"masih pagi udah nyariin james, lu gak nyariin gue cinderella?" babas biasa jahil


dinda duduk di samping babas, lantas berbisik pada babas.


"lu tau yang nyokap lu bilang tadi malem, tino?


nyokap lu bilang ada anak yang kalo tidur suka ngemut jempol, terus kalo ada petir pas ujan tidurnya minta di kelonin, tuan kecil"


"masih berani lu sama gue?" dinda menaik turunkan alisnya. tersenyum penuh arti sama babas.


babas melipat kedua tangannya seraya meminta ampun pada dinda. "baik tuan puteri, hamba tidak akan mengusik ketenangan tuan puteri. silahkan tuan puteri kembali ke singasana." babas membungkuk layaknya punggawa.


"hehh.. begitu lebih baik." sahut dinda


"si babas kenapa bi?" tanya wayan


"lagi maen drama kali," abi mengangkat bahu, sama aja gak tau apa yang terjadi.


"morning," salsa datang dengan wajah ceria ala salsa.


"adi, lu kok belum bangun sih gue telpon." ambek salsa pada dinda.


"ngapa emang sa?"


"hehe, tadinya mau nebeng. tapi gak jadi, noh gue nebeng lyli, ya kan ly."


lyli baru msuk kelas, "iya udah nebeng gak tau diri lagi, gue malah di tinggal." lyli ngambek sama salsa


bel tanda masuk sudah berbunyi, mereka sudah duduk di bangku masing-masing.


bu rita masuk, wali kelas mereka. guru matematika sekaligus mengajar mata pelajaran bahasa inggris.


"anak-anak keluarkan buku paket, kerjakan halaman 78, bagian A dab B. lalu kumpulkan." perintah bu rita.


"hari ini kita akan pulang lebih cepat, jam 11, dikarenakan persiapan study tour besok. bagi yang ikut harap membawa perlengkapan pribadi yang di butuhkan, jangan ada yang tertinggal apa lagi alasan lupa." terang bu rita.


"iya bu." semua menjawab berbarengan.


"terdengar langkah kaki masuk terburu-buru, maaf bu saya telat," james baru datang.


bu rita melipat tangan di dada. "apa alasan mu james?"


"kucing tetangga lahiran bu." ucap james asal


"hahaha....." teman sekelas pada ketawa.


"gak sekalian james lu susuin anak kucingnya," teriak babas


mereka semua tertawa lagi. lelucon di pagi hari nan cerah ini.


"sudah, anak-anak," bu rita memperingati.


"kamu boleh masuk james, tapi sebagai hukuman kamu kerjakan soal dari bagian A sampai bagian D." perintah bu rita.


"kenapa si james gak di suruh ngerjain satu buku aja bu," sahut babas.


"muka bule mah, bahasa inggris makanan hari-hari bu," ledek babas.


"sudah... duduk di bangku kamu james." perintah bu rita


"kok lu baru dateng kutu?" tanya babas berbisik.


"kalo gue dateng dari tadi, berarti gue gak telat donk," sahut james


"katanya kucing tetangga lu lahiran, anaknya cewek apa cowok?" tanya babas.


"dua-duanya," jawab james


"terus siapa bapaknya?" babas masih beraksi.


"kata induknya, bapaknya punya rambut keriting, terus dekil, tukang godain kucing betina yang lain." sahut james.


"kok ciri-cirinya mirip gue," babas menunjuk dirinya sendiri.


"au ah, gue gak ngomong kalo lu itu lu, ya kalo lu ngerasa silahkan."


"babas, james," panggil bu rita


"kalo kalian mau ngobrol sana di tiang bendera."


mereka berdua mengakhiri pembicaraan kurang faedah itu.


÷÷÷÷÷


Pesan WhatsApp


"bun, dinda pulangnya gak usah di jemput. mau pulang bareng salsa dan lyli." (dinda)


"sekalian mau ke mall bentar, beli persiapan buat besok." (dinda)


bunda gak bales, cuman dibaca doang. ya udah, yang pentingkan udah ngabarin bunda.


sekitar 20 menitan baru bunda bales


"jangan pulang terlalu sore." (bunda sayang)


"siap bun." (dinda)


÷÷÷÷÷


"james," panggil dinda.


dinda berlari menghampiri james.


"lu ada acara malem ini?" tanya dinda


james pura-pura mikir.


"halah pake mikir segala james. bilang aja gak ada."


"udah tau kenapa nanya," sahut james


"gue mau minta tolong sama lu," ucap dinda sambil ngerangkul james.


"apaan?"


"anterin gue ke panti," pinta dinda


"hadeh... gue kira apaan."


james mengeluarkan kunci motor. melempar kunci pada dinda dari jarak dekat.


"ops.. ngomong dong james. maen lempar aja."


"tapi kan lu bisa nangkep."


"bentar gue whatsapp si dodi." pinta dinda


dinda mengirim pesan pada dodi untuk ketemuan di panti, buat ngebahas balapan nanti malam.


"yah, james gue lupa bawa jaket, tadi gue berangkat bareng adek gue, andra, naik mobil."


james memberikan jaket miliknya.


"thanks james, lu emang the best."


"hayoo mau kemana?" salsa dateng dengan manjanya. "james, gue pulang bareng lu ya." rengek salsa.


"gue bareng adi." sahut james.


"adi kan bawa motor sendiri. kok bareng adi." salsa masih berusaha.


"adi gak bawa motor." ucap james datar.


"lu kan tadi berangkat bareng lyli, dah sono pulang bareng lyli aja."


"gak mau, mau bareng lu, james."


"noh, babas nganggur. sama babas aja sono." tutur james.


"bas anter si salsa balik nih," ucap dinda


"hai ayang salsa, mau pulang bareng om babas gak?" goda babas.


salsa membuang mukanya, "ma..les..."


"ya udah gue pulang bareng lyli aja."


÷÷÷÷÷


salsa sudah di mobil nebeng lyli.


"ly, si adi sama james gak ada hubungan apa-apa kan ya?" tanya salsa


"mana gue tau, gue bukan paranormal," jawab lyli


"ishh gue serius ly."


"kok gue agak curiga ya sama mereka. masa adi mau nusuk gue dari belakang sih."


"mana mungkin adi nusuk lu dari belakang," ucap lyli


iya, "gue juga mikir gitu sih ly."


"kalo dia mau nusuk lu pasti dari depan," sambung lyli


"lyli, jahat lu."


"lagian lu mikir kok cetek amat, kaya kubangan."


÷÷÷÷÷


"gimana di, lu ikut kan?" tanya dodi


dinda berbisik pada dodi, dodi mengerti maksud dinda.


dia menjawab oke. dan menyetujui yang dinda katakan.


"james," rangkul dinda


"gue minta tolong lagi boleh?"


"apaan, habis ini, anterin lu pulang ke rumah?" tebak james


"termasuk itu, dinda nyengir."


james tampak bingung,


"apaan di? gak usah basa basi. nanti busuk."


"gue pinjem motor lu, boleh?"


"buat apaan, kan lu punya motor sendiri."


"gue gak bisa make motor gue, lu kan tau ayah gue gak kasih."


"emang lu mau kemana, udah gue temenin aja." james menawarkan diri.


"gimana dod?" dinda melirik dodi.


÷÷÷÷÷