Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode TIGAPULUHEMPAT



babas tampak melamun di kamarnya, mengingat kejadian tadi sore.


"apa gue gak salah lihat ya, beneran itu tadi si adi."


babas mengacak-ngacak rambutnya seperti orang frustasi. "ahhhh..... kayaknya otak gue emang udah gesrek ini", maki babas pada diri sendiri.


"si adi?????, kok bisa ya?????, aaarrrgggghhhh........"


dalam hati babas antara kagum dan terkejut bukan main akan sosok dinda. ada hal yang tidak diketahui oleh babas tentang dinda, dan itu sukses membuat babas makin penasaran dengan dinda. babas pun berniat akan mecaritahu tentang dinda, tentunya tanpa sepengetahuan dinda. menurut babas dinda adalah sosok perempuan yang penuh dengan kejutan.


"hampir aja tadi gue ketahuan, bisa kacau".


"ahhh.... gak mungkinkan gue ------ ------!!!!"


"gak, gak, gak" babas menggeleng-geleng kepalanya, memukul kepalanya, mungkin biar tersadar dari pikirannya sendiri.


"fix, gila nih...., gue beneran udah gila....., gak, gila beneran ini". babas kembali mengacak rambut keritingnya.


sebenarnya rambut babas gak keriting-keriting amat sih, bisa di bilang ikal lah, bukan keriting keribo. itu pun karena rambut babas yang agak panjang, kalau babas mencukur rambutnya pendek, maka rambutnya tampak lurus.


padahal sudah sering babas di tegur guru di sekolah, untuk mencukur rambutnya, tapi bukan babas kalo tidak membuat banyak alasan.


÷÷÷÷÷


angga pulang kerumah diantar oleh kedua temannya. mama angga yang melihat anaknya babak belur langsung histeris, maklum mama angga type orang yang panikan.


"angga kamu kenapa?" tanya mama vika sudah menangis memeluk angga.


angga yang di tanya tidak menjawab. mama vika melihat kedua teman angga.


"kenapa dengan angga?" tanya mama vika kepada kedua teman angga.


kedua teman angga saling liril melirik, senggol menyenggol lengan, untuk menentukan siapa yang akan menjelaskan.


"kok malah diem aja, tante tanya kenapa angga bisa begini?" mama vika mulai emosi, tapi tangisnya tak mereda.


"aa...ang..ga di gebukin orang tan" jawab teman angga takut.


"apaaaa..... angga kamu berantem nak?" mama vika makin panik.


"pa...papa..." teriak mama vika memanggil suaminya.


teman angga saling melirik lagi, "tante kami permisi dulu, nga kita balik ya". kedua teman angga pun ngacir memilih pulang, dari pada di tanya macam-macam oleh orang tua angga.


"pa.. hayoo kita bawa angga ke rumah sakit" ucap mama vika pada suaminya.


papa danil tampak kecewa kepada angga. apa lagi melihat wajah angga yang sudah penuh luka. angga pun hanya dapat menundukkan wajahnya, bersembunyi dibalik pelukan mamanya.


angga di bawa oleh orang tuanya ke rumah sakit. mama vika lah yang memaksa agar angga di bawa ke rumah sakit. mama vika begitu khawatir dengan anak lelaki satu-satunya itu.


angga terlihat pasrah saja, dia siap jika papanya akan memarahinya nanti. angga pun tak berniat mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya.


÷÷÷÷÷


james tampak mondar-mandir di kamarnya. james ingin menelpon dinda, tapi di urungkan niatnya. kemudian berbaring di tempat tidur. tapi tak lama kemudian james mengambil ponselnya, sudah memencet nomor dinda, tapi tidak jadi lagi menghubungi dinda.


"adi gimana keadaan lu?" pikiran james masih pada dinda.


"untung aja gue sama babas ngikutin si adi, gue gak tau gimana jadinya???"


james akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan saja pada dinda.


Pesan WhatsApp


"gue harap lu baik-baik aja adi, kabarin gue kalo lu butuh sesuatu". (james)


begitu lah isi pesan yang dikirim kan oleh james kepada dinda. tapi dinda belum mebaca pesan james, dinda sudah tertidur dengan lelapnya. untung saja besok akhir pekan dan sekolah libur.


÷÷÷÷÷


andra mengetuk kamar dinda pelan, "kak" panggil andra. dibuka pintu kamar dinda dengan pelan, dilihat kakak perempuannya sudah tertidur.


andra masuk ke kamar dinda, melangkah dengan pelan agar tidak membangunkan dinda.


dilihat kakaknya sudah tertidur dengan pulas. andra memperhatikan tangan dinda, tapi dinda memakai piyama lengan panjang, sehingga andra tidak dapat melihat luka di tangan dinda.


"makasih kak, lu kakak terhebat yang gue punya, gue beruntung bisa terlahir sebagai adik lu. selamat tidur kak, mimpi indah"


andra membenarkan letak selimut dinda, menyelimuti dinda hingga lehernya.


"gue janji kak, nanti gue yang bakal lindungin dan jagain lu" andra tersenyum melihat wajah kakaknya yang begitu lelap.


÷÷÷÷÷


dinda terbangun, merasakan denyut dan nyeri di tangannya. "wah gila bengkak tangan gue". ucap dinda sambil memperhatikan kedua tangannya.


"non" tina mengetuk pintu kamar dinda. "tina bawa sarapan untuk non, tina masuk ya non".


"tin mana salep penghilang bengkaknya?" tanya dinda.


tina meletakkan sarapan dinda di atas meja. ada segelas susu hangat dan roti bakar isi coklat.


"bentar tina ambil ya non" lantas tina pergi mengambil salep yang di minta dinda.


"sini non biar tina bantu salepin" ucap tina.


"non kenapa gak ke dokter aja, ini kayaknya parah non."


"males tin, gue benci bau rumah sakit" jawab dinda.


"kan tina bilang ke dokter non, bukan rumah sakit. ke klinik gitu non." tina masih membujuk dinda.


dinda tampak memikirkan ucapan tina.


dinda memperhatikan luka di tangannya lagi, memang kali ini lukanya agak sedikit parah. mungkin apa yang tina bilang bener juga.


"ya udah, siap-siap sono, abis gue sarapan temenin gue ke dokter" ucap dinda.


tina tersenyum, non dinda mau mendengarkan perkataannya. "iya non, tina suruh mang bowo siapin mobil ya" ucap tina hendak meninggalkan kamar dinda.


"kita naek motor aja tin" ucap dinda tegas.


"tapi no-----" tina tak jadi melanjutkan bantahan pada dinda, karena dinda sudah melotot kearahnya.


"iya non"


÷÷÷÷÷


"kamu mau kemana nduk? kok udah rapih, hari ini kan kamu gak ada kursus." tanya bi ijah yang nelihat anaknya sudah berpakaian dengan rapih.


"disuruh nemenin non dinda keluar mak" jawab tina.


"ooo... ya udah hati-hati, ingat jangan macem-macem." emak memperingati.


"iya emmak....."


"non, tina udah siap"


"iya bentar gue mau mandi dulu"


"dih si enon, dari tadi ngapain aja, orang di suruh siap cepet, nah dia aja belum mandi" dumel tina dalam hati.


"kakak mau keman?" tanya andra yang melihat dinda sudah rapih.


"mau ke dokter" jawab dinda yang sedang memakai sepatunya.


"andra temenin ya"


"gak usah, gue pergi sama tina. noh si tina udah siap dari tadi"


andra menghela napasnya, agak kesal karena dinda gak mau di temanin. setidaknya andra ingin berguna sebagai adik.


"ngapain lu masih bediri di sini? udah sono ahh... minggir gue mau lewat." dinda menggeser badan andra yang berdiri menghalangi jalannya.


andra makin bertambah kesal. "andra aja yang nemenin" ucap andra sedikit kencang.


"apaan sih lu, kasian noh si tina udah dandan menor masa gak jadi di ajak" ucap dinda sambil melihat pada tina.


"siapa yang dandan menor, perasaan tina biasa aja deh." tina ngedumel lagi di dalam hati.


"ayo tin.." ajak dinda.


÷÷÷÷÷


dinda sudah di dokter memeriksa lengannya. tina menunggu di ruang tunggu.


"jangan lupa diminum obatnya ya dinda" ucap dokter.


"baik dok". jawab dinda.


"lain kali jangan menangkis kayu dengan tangan, tangan kamu bukan besi yang bisa mengalahkan kayu." dokter itu memberitahu dinda lantas tersenyum.


dinda hanya menanggapi dengan senyum kecut di wajahnya. bisa-bisanya dokter ini meledek dinda, bikin kesal saja, untung dokter, coba kalo babas, udah disumpel mulutnya pake kayu.


dinda memang menceritakan kepada dokter mengapa tanganya bisa terluka. dokter yang mendengar cerita dinda hanya bisa menggelengkan kepala.


÷÷÷÷÷


dinda sudah beristirahat di rumah, dinda membuka ponselnya, membaca pesan dari james. ada dua kali panggilan dari babas.


"ngapain itu si gerandong nelpon gue"


Pesan WhatsApp


"thanks batuannya james. gue baik-baik aja james, gak perlu khawatir gitu keles. kaya pacar aja lu, posesif." (adi)


james yang membaca pesan balasan dari dinda, menautkan kedua alisnya. "pacar???"


"ini si adi yang baleskan?, kok kayak bukan adi ya??" james bergedik ngeri, memutuskan tidak membalas pesan dinda, melempar hp nya ke atas sofa.


"masa gara-gara lengan dihajar kayu, otak ikutan geser???" prasangka james.


kalau babas yang kena hajar mungkin otaknya geser, tapi ini adi loh, adi yang cuek abizz.


÷÷÷÷÷


tak lama hp dinda berbunyi, ada telpon dari babas. dinda mengangkat panggilan dari babas.


"hallo"


"hai cinderella, kangen ya sama pangeran babas, makanya telpon kan?"


"......??????" dinda melongo, yang nelpon siapa coba.


"kesambet lu ya? yang nelpon siapa woyyy.... bas ngaca sono, gak punya kaca lu di rumah?"


"haha... cinderella gitu ajah marah, nanti tambah cantik loh, pangeran babas jadi tambah kelepek-kelepek"


"kalo cuman mau ngomong yang gak ada faedahnya mending gue tutup aja bas telponnya, sakit kuping gue denger bacot lu"


"beugh sakit-sakit masih aja tetap galak, ihhhh..... atut...."


"dah babas...."


"ehh... adi, tunggu jangan di matiin" babas memelas.