Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode EMPATPULUHTIGA



pelajaran olah raga pun di mulai, pak bobi sudah membagi team laki-laki dan perempuan. mereka bermain bola basket dengan semangat. babas bermain menggunakan helm di kepalanya. wayan yang melihat babas tiba-tiba punya ide untuk menjahili babas. wayan melempar bola tepat ke arah kepala babas, babas tidak dapat menangkap bola itu, lalu mengenai kepalanya, tentu terhalang oleh helm.


"sengaja kan lu" tuduh babas pada wayan.


"piss bro..." wayan mengangkat jari tangan tanda damai.


hingga akhir pelajaran jam olah raga babas masih mengenakan helm. mereka sudah di kelas untuk pelajaran berikutnya.


"bas lu masih mau terus pake itu helm? bentar lagi pelajaran bu nurma (guru ppkn), lu mau kena hukum sama bu nurma?" tanya dinda pada babas.


"gue gak pede sama rambut gue di" sahut babas.


dinda ingin bilang bahwa rambut babas bagus, babas terlihat rapih dan lebih keren, tapi kalau nanti di bilang begitu udah pasti ujungnya rame, mending biarin aja, toh nanti juga babas sadar sendiri.


"ya udah nih pake kupluk gue aja, dari pada lu pake helm di kelas, sono cepet lu ganti"


babas pun mengambil kupluk yang di berikan dinda. mengganti helm dikepalanya.


÷÷÷÷÷


bu nurma sudah masuk kelas, semua murid memberi salam. seperti biasa bu nurma akan memberi pertanyaan secara acak tentang pelajaran minggu lalu kepada beberapa murid.


saat mata bu nurma melihat babas yang mengenakan kupluk, bu nurma langsung bertanya. "bastino mengapa kamu memakai topi di dalam kelas? cepat lepaskan" perintah bu nurma.


"tadi babas malah pakai helm bu" celetuk salsa.


bu nurma melihat pada salsa seraya memasang wajah tidak suka. bu nurma memang tidak suka dengan murid yang menimpalinya ketika ia berbicara. sepertinya salsa lupa akan hal itu.


"salsa kamu maju ke depan salin jawaban halaman 46 di papan tulis" perintah bu nurma.


murid yang lain sudah menunduk dan menutup mulut rapat-rapat. bu nurma memang salah satu guru yang di takuti oleh murid di sekolah itu. sebenarnya bu nurma tidak galak dan asal menghukum. bu nurma ingin mengajarkan kepada muridnya untuk lebih disiplin dan menghargai sesama. bu nurma sangat menyukai murid yang memiliki sopan santun. maklum bu nurma salah satu guru tertua dan sudah sepuh, jadi peraturannya sudah ketat dari dulu hingga sekarang.


dengan ragu babas melepaskan kupluknya. "nasib.. paling di ledekin" batin babas.


"nah begitu kan lebih baik" ucap bu nurma.


diam-diam semua murid melirik ke babas, dalam hati banyak yang berucap, tapi tak berani bersuara, soalnya bu nurma masih di kelas. terlebih salsa yang memperhatikan babas.


akhirnya pelajaran bu nurma telah selesai, bel istirahat pun berbunyi. para murid berucap syukur dalam hati, hanya babas yang tidak demikian, takut kalau di ledek teman-temannya karena rambut barunya itu.


"dekil... kemana rambut keriting lu?" salsa sudah mulai menggoda babas.


"gue lebih gantengkan" jawab babas sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jarinya.


"keren bas, setidaknya lu lebih rapih, jadi si salsa gak bisa ngatain lu dekil lagi" timpal wayan.


babas gak menyangka ternyata teman-temannya tidak ada yang mengejek rambut barunya, sehingga dengan percaya diri babas memamerkan rambut barunya itu. dan benar saja, ketika di kantin beberapa murid perempuan berbisik memperhatikan babas, ada yang tersenyum malu, ada juga yang berdehem menggoda babas.


"itu anak baru ya?" tanya seorang murid perempuan pada temannya.


"mana?"


murid itu menunjuk dengan matanya ke arah babas.


"gak tau juga gue, kok baru ihat ya, cakep ya" ucap temannya.


"gue yang lihat duluan, jadi dia gebetan gue"


begitu lah kira-kira mereka berdebat tentang babas. babas makin besar kepala saja. dia berpikir kenapa tidak dari dulu saja memotong rambutnya, jika gara-gara rambut bisa di rebutin banyak cewek kaya gini.


"lu harus berterima kasih sama pak wahyu" ucap dinda tiba-tiba yang sudah duduk di depan babas.


babas hanya cengir saja, "kayanya gue harus makasih sama lu deh di, kan lu yang nyarani tukang salonnya potong kaya gini. gue makin ganteng ya di?" tanya babas.


"maap bas, lu tadi nanya apa, kuping gue gatel nih, gak denger" timpal dinda.


"yahhh..... udah ada nyemotnya" ucap salah seorang murid perempuan yang sejak tadi memperhatikan babas di bangku dekat gerobak bakso.


"ehh... itu bukannya kakak kelas kita yang tomboy itu?, yahhh... mending lu mundur aja kalo saingan sama kak adi" ucap teman murid perempuan itu yang duduk bersama.


"perempuan kok namanya adi, gak banget sih" timpal murid perempuan itu.


andai babas dan dinda tau mereka sedang dibicarakan , apa jadinya lah. jika babas pasti akan senang sekali. namun tidak dengan dinda, bisa habis di damprat sama dinda. soalnya dinda tidak suka dengan orang yang membicarakan dia di belakang, kalau berani kenapa gak langsung di depan orangnya.


÷÷÷÷÷


dulu dengan rambut keritingnya babas terlihat seperti badboy, urakan, dan terlihat dekil. namun dengan rambut yang di cukur pendek model seperti ala-ala prajurit militer, babas terlihat rapih dan keren. wajah tampan babas pun lebih terlihat. babas jadi rebutan beberapa cewek yang setingkat dengannya, bahkan adik kelas juga banyak yang menyukai babas.


babas pun makin tebar pesona, dan gombal sana sini, layaknya don juan yang di perebutkan.


salsa mencebik kesal, pasalnya dia tidak bisa mengatai babas lagi dengan sebutan dekil. dalam hati salsa memuji ketampanan babas tidak kalah dengan james. malah jadi lebih tampan dari james.


"pasti nyeselkan gak mau sama babas" ucap lyli pada salsa.


"dihh.... sapa yang nyesel, gak penting banget sih ly" sahut salsa salah tingkah, ketahuan lagi merhatiin babas. lyli hanya tersenyum melihat tingkah salsa.


÷÷÷÷÷


dinda sudah di depan sekolah andra, menunggu andra keluar. masih duduk di atas motor mengenakan helm dan jaketnya seperti biasa.


kedua teman angga yang kemarin terlibat perkelahian dengan dinda terlihat berdiri di depan gerbang sekolah, mereka tak menyadari kehadiran dinda,tapi tidak dengan dinda, dinda sudah memperhatikan mereka sejak tadi.


tampak andra berjalan menuju gerbang sekolah, kedua teman angga rupanya sengaja menunggu andra. mereka menghampiri andra dengan memepet sebelah kanan dan kiri.


"ada apa nih kak?" tanya andra yang agak takut. mata andra melihat sekeliling mencari sosok dinda, ketika matanya melihat dinda di luar gerbang sekolah andra tampak lebih tenang.


"ikut kita" kedua teman angga membawa andra keluar gerbang sekolah, mereka menggiring andra berjalan ke samping gerbang. andra sempat melirik pada dinda, tapi dinda tak bergeming masih memperhatikan saja.


andra pun mengikuti kedua kakak kelasnya itu, dia tidak takut seperti tadi, karena tau dinda mengawasinya.


salah satu teman angga mendorong andra ke dinding, yang satu sudah memepet. mengintimidasi andra serta mengancam andra.


"lepasin adek gue" perintah dinda terdengar mengancam.


sontak kedua orang itu menjaga jarak sedikit menjauh dari andra, ketika meliaht siapa orang yang menyuruh mereka, terlihat ketakutan di wajah keduanya.


"dek, tunggu gue di motor" ucap dinda pada andra, langsung andra berjalan cepat ke arah motor dinda.


dinda memperingati kedua teman angga. "jangan pernah gangu adek gue lagi, gue gak jamin tangan kaki lu semua masih utuh kalo sampe berani nyentuh adek gue lagi, dan bilang ke teman lu yang bernama angga itu, kalo memang laki-laki hadapain gue sendiri, jangan ganggu adek gue. dia juga punya adek kan, cinta, jangan sampe gue buat dia menyesal" ucapnya dengan penuh ancaman.


kedua teman angga hanya mengangguk, lantas pergi dari sana.


÷÷÷÷÷÷


"non ada telepon dari ibu" tina memberitahu dinda.


dinda menjawab telpon dari bunda, memberi salam pada bunda.


"bunda akan pulang besok" ucap bunda memberitahu.


"loh kok cepat bun, bukannya kata bunda lusa" sahut dinda.


"kenapa? kamu bikin masalah ya?" tanya bunda yang sebenarnya sudah mendapat laporan dari satpam rumah.


"emm... ee... gak ada bun, dinda sama andra baik-baik aja, gak ada bikin masalah" jawab dinda mengontrol kegugupannya.


"bunda gak tanya andra, bunda tanya kamu"


"ya gak ada bun" jawab dinda masih berusaha menutupi.


"ya udah biar nanti bunda kasih tau ayah"


"jangan.... bun, oke bun nanti dinda ceritain kalo bunda udah pulang, emang ayah ikut pulang juga ya bun?"


"gak, ayah lusa baru nyusul"


dinda menghela napas lega, lebih baik di omelin bunda dari pada ketahuan ayah bisa lebih parah di hukum sama ayah.


"ingat besok pulang sekolah langsung pulang, jangan pergi kemana-mana" bunda memperingati.


"siap bun"