![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
mamah melangkahkan kaki keluar kamar babas, ketika sampai di depan pintu, mamah berbalik dan bertanya lagi.
"yakin kamu gak ikut?"
"yakin mah, seribu persen" jawab babas lantang.
"ya sudah kalau kamu tidak mau ikut, jangan menyesal ya..." ucap mamah ingin mengalihkan perhatian babas.
"gak bakal mah, ngapain juga tino nyesal, kecuali mamah mau ke rumah cinderella, gak usah di paksa juga tino ikut dengan suka rela mah"
sambil berlalu mamah membalikan badan keluar kamar babas "padahal kita mau makan malam di rumah om santo sahabat papah, ayahnya dinda" ucap mamah memberitahu kemudian langsung menutup pintu kamar babas.
awalnya babas masih belum sadar dengan ucapan mamah, tapi ketika menyadari bahwa makan malam itu di rumah adi, lantas babas berdiri lalu berlari membuka pintu kamar dengan cepat dan berteriak.
"mahh.....tino ikut, tungguin, tino ganti baju lima menit mah....." babas langsung secepat kilat mengganti bajunya, menyisir rambut dan memakai parfum kesukaannya.
mamah yang mendengar teriakan babas tadi tersenyum penuh arti, tidak apa jika harus membocorkan pada babas kemana mereka akan pergi makan malam, yang penting babas jadi semangat mau ikut.
"mana tino mah? udah siap belum?" tanya papah bram.
"sudah itu pah, ckk.... begitu dengar mau ke rumah cewek cantik saja langsung cepat" dumel mamah sambil melihat ke papah bram.
papah bram malah celingak celinguk ke kanan dan kiri, juga ke belakang. "ya itu kaya papah, gak bisa denger cewek cantik dikit langsung kupingnya merah" sindir mamah sudah cemberut karena papah bram gak peka.
"siapa mah? yang pasti bukan papah kan, ardo mungkin mah." papah bram malah menuduh ardo yang duduk diam sejak tadi. papah bram sudah merangkul mesra istrinya itu. sedangkan ardo tidak menanggapi sama sekali tingkah kedua orang tuanya itu.
babas sudah siap dan terlihat rapih juga keren. "mah, pah ayo kita berangkat, nanti kemaleman, pasti udah di tungguin sama keluarga om santo" ucap babas dengan semangat empat lima.
papah dan mamah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah babas. mereka pun berangkat menuju rumah dinda. "tadi saja menolak keras tidak mau ikut, sekarang malah dia yang ingin cepat sampai ke sana" dumel mamah sinta.
÷÷÷÷÷
"tina tolong panggil dinda dan andra turun, sebentar lagi tamunya datang" perintah bunda.
di kamar dinda teringat ucapan andra, walau andra becanda mengatakannya, tapi entah mengapa itu terngiang di telinga dinda. "gimana kalau ucapan andra tadi bener ya, ahh.... tapi mana mungkin ayah sama bunda jodohin gue, emang ini jaman siti nurbaya apa???" dinda berasumsi sendiri.
"kalau gitu sebelum acara makan malem gue harus tau siapa tamu ayah itu. kalau gue kenal berarti ini bukan acara perjodohan, tapi kalau gue gak kenal, bisa jadi benar apa yang di bilang andra. ahh... gak...gak..." dinda menggelengkan kepala.
tiba-tiba dinda mendapatkan ide untuk melancarkan niatnya itu.
tina sudah memanggil andra untuk turun, tinggal memanggil dinda. saat tina mengetuk pintu kamar dinda, tampak muka dinda meringis, "tin bilang bunda gue sakit perut, mau nabung dulu ke kamar mandi, nanti kalo perut gue udah enakkan gue turun." ucap dinda.
tina pun menyampaikan apa yang di bilang dinda tadi pada bunda. bunda sedikit heran soalnya tadi dinda tampak baik-baik saja, kenapa bisa tiba-tiba sakit perut. andra yang ikut mendengar pun hanya senyum-senyum saja, soalnya andra tau pasti kakak perempuannya itu sedang membuat alasan.
÷÷÷÷÷
babas dan keluarganya sudah di rumah dinda, kedatangan mereka disambut hangat oleh bunda dan ayah.
"mah ardo permisi sebentar, nanti ardo menyusul" ardo berbisik pada mamah sinta karena mendapat telpon dari temannya jadi dia permisi sebentar, ardo pun menunduk sesaat untuk permisi pada ayah dan bunda tak lupa dia tersenyum. ardo agak menjauh dari semuanya, pergi ke halaman untuk menerima telpon.
babas sendiri tampak celingak-celinguk mencari sosok dinda. "andra mana adi?" tanya babas berbisik pada andra.
"lagi nabung di toilet katanya, nanti juga turun" jawab andra apa adanya.
"bilang adi nabung itu bukan di toilet, tapi di bawah kasur"
"ihh.... jorok sih" sahut andra.
babas malah tertawa mendengar andra, ternyata andra gak nyambung dengan gurauan babas.
babas mengikuti andra ke ruang tv, menonton film superhero kesukaan mereka.
ayah mengobrol bersama om bram di ruang tamu, sedangkan bunda dan tante sinta sudah ngerumpi ala emak-emak, tak lupa bunda juga sesekali mengecek menu makan malam yang di siapkan bi ijah.
÷÷÷÷÷
dinda masih memakai celana jeans dan kaos oblong, berserta kupluknya. dinda turun ke bawah melalui balkon kamarnya, hal biasa yang dilakukan jika mau pergi diam-diam tanpa ketahuan.
"auchh...." dinda mengibas bajunya yang kotor terkena rumput.
saat berbalik dinda terkejut melihat seorang lelaki berdiri tepat di belakangnya. lelaki itu menatap dinda dengan handphone masih di telinganya.
"siapa lu? maling ya?" tanya dinda sinis pada laki-laki di hadapannya.
"saya tamu di rumah ini, kamu siapa? kenapa kamu turun dari balkon kamar itu? jangan-jangan ka-----"
"halahhh...... berisik, minggir" dinda mendorong tubuh lelaki itu yang menghalangi jalannya.
dinda melihat ada sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya. tapi dinda tidak tau itu mobil siapa, dinda belum pernah melihatnya. dinda berpikir bahwa teman ayahnya yang datang mungkin belum pernah di kenalnya. lantas dinda pergi menuju pintu samping, masuk kedalam rumah melewati dapur.
"adelardo..., masih di sana kamu?" tanya seseorang yang sedang menelpon ardo.
"emm... iya" jawab ardo.
"ada apa?" tanya teman ardo.
"itu ada orang jatuh dari balkon, ahh... gak penting, nanti kita sambung lagi ya, bye..." ardo mengakhiri panggilan telponnya.
÷÷÷÷÷
ardo masuk ke dalam rumah, dan tidak melihat babas juga mamah sinta. hanya ada papah bram dan ayah dinda yang sedang asik mengobrol.
"pah dimana tino?" tanya ardo pada papah bram.
"mungkin di dalam, tadi dia bilang mau nonton dengan andra" jawab papah bram. ardo pun menyusul babas dan andra ke ruang tv. mereka bertiga duduk menonton tv.
"ndra, katanya lu punya game baru, gue lihat dong" pinta babas. lalu andra dan babas pergi ke kamar andra untuk melihat game baru yang andra miliki. sedang ardo tinggal sendiri di ruang tv. ardo pun asik memainkan handphonenya.
saat menuju kamar andra, tak sengaja babas melihat sebuah ruangan, mungkin kamar, menurut babas, ruangan yang pintunya terbuka sedikit itu begitu menarik perhatian babas. "ndra itu kamar siapa?" tanya babas.
"owgh.. itu kamar kak dinda" jawab andra.
"oooo.... jadi kamarnya adi" gumam babas dalam hati. babas sebenarnya ingin sekali melihat seperti apa kamar dinda, apakah berwarna pink seperti kamar cewek-cewek yang babas tau, atau malah seperti kamar cowok yang penuh poster dan bernuansa maskulin. babas menerka sendiri.
÷÷÷÷÷
"loh, non dinda kok disini?" tanya tina yang melihat dinda datang dari pintu belakang.
dinda menghiraukan pertanyaan tina, dinda melangkahkan kaki hendak ke kamarnya, lalu terbesit apakah ayah dan tamunya sudah makan malam.
"tamu ayah udah di meja makan belum?" tanya dinda.
" belum non" jawab tina.
lantas dinda berlari menuju kamarnya. saat di kamar dinda teringat lelaki yang dia temui dibawah tadi, mungkinkah lelaki itu salah satu tamu ayah, tapi siapa dinda belum pernah melihatnya.
sedangkan ardo terlintas memikirkan orang yang di temuinya di halaman tadi, wajahnya tampak tak asing, seperti pernah bertemu. tapi ardo yakin bahwa dia adalah seorang wanita, hanya penampilannya seperti pria.
÷÷÷÷÷
"jeng dewi dimana putri mu?" tanya mamah sinta pada bunda.
"mungkin masih dandan di kamarnya jeng, sebentar ya" bunda lalu pergi ke kamar dinda. saat akan membuka pintu kamar dinda, dinda sudah keluar.
"dinda...." bunda sedikit berteriak, terkejut melihat penampilan dinda. "cepat ganti baju kamu, masa kamu mau turun ke bawah dengan baju compang-camping kaya gini" perintah bunda.
bunda agak lebay, masa celana belel dan kaos oblong yang sudah berulang kali di cuci di bilang baju compang-camping, kesannya dinda memakai baju tak layak pakai saja.
dinda sempat menolak dan berdebat dengan bunda. bunda menyuruhnya memakai dress, dinda tentu tidak mau. tapi karena bunda yang terus memaksa akhirnya dinda pasrah dan memakai dress pilihan bunda.
dress sederhana dengan panjang selutut berwarna biru dongker, terdapat hiasan rempel pada bagian bawah. dinda menggerai rambut panjangnya, tidak memakai make up, hanya memakai bedak tipis saja. namun demikian dinda terlihat anggun dan cantik.
"kenapa mesti dandan kaya gini sih bun? gak bisa pakai celana jeans dan kaos aja bun?" protes dinda yang melihat dirinya di pantulan cermin tampak sangat feminim.