Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode ENAM



"gimana keadaan lu pul?" tanya dinda yang baru datang. "udah mendingan di."


"dodi belum dateng pul?," tanya dinda


"belum, mungkin lagi di jalan."


"e.. adi.."


ipul takut-takut mau bertanya pada dinda.


terdengar suara ipul bergetar.


"kenapa pul? ngomong aja."


"di, adek panti ada yang sakit, tapi kami belum punya uang mau bawa berobat ke dokter. udah tiga hari demam, tapi belon sembuh juga."


"bii..bisa gak gue minta tolong sama lu, pinjemin gue duit buat ke dokter. ke puskesmas aja di, biar gak terlalu mahal."


sebenarnya ipul tidak enak hati mau minta tolong sama dinda, tapi meihat adik panti yang sakit dan belum sembuh juga, ipul takut terjadi sesuatu.


dinda sudah terlalu banyak membantu anak di panti itu, bahkan sekolah ipul, orang tua dinda yang biayai.


"kenapa lu gak ngomong sama gue kemaren, kan udah gue bilang kalo ada apa-apa jangan sungkan hubungin gue. kaya ama siapa aja sih pul."


"kalo nanti gue udah sehat gue bakal dagang lagi di pasar, nanti gue ganti uang lu, di."


"lu ngomong apa sih pul, nyantai aja lah. gue juga seneng kok bisa bantu lu dan anak panti yang lain."


"gak perlu lu pikirin buat ganti, lu jaga aja adik-adik dengan baik, itu udah lebih dari cukup. urusan biaya lu gak usah pikirin, itu urusan gue."


"maaf ya di, gue nyusahin lu terus." ucap ipul merasa bersalah sambil menundukan wajahnya.


"ya udah kita tunggu dodi dulu ya, nanti baru kita bawa adik panti ke dokter."


"soalnya gak mungkinkan naik motor gue, bisa melotot semua nanti tu orang sekampung."


mereka tertawa bersama, walau ipul masih meringis saat tertawa, wajahnya terasa ngilu. tapi di tahan, takut dinda khawatir.


dulu pernah dinda naek motor sportnya ngantar ipul ke puskesmas, orang sekampung pada ngeliatin, belum lagi anak-anak kampung pada ngarak motor dinda sampe depan jalan. riuh banget dah pokoknya. udah kaya artis yang dateng.


lebih parah lagi, suster di rumah sakit, bisa-bisanya ngegoda dinda. dikira dinda cowok kali. tapi pas dinda buka helm, eh... semua pada menghela napas kecewa. dinda mau ketawa tapi takut dosa, ketawain suster yang udah emak-emak semua.


"nanti sekalian aja cek luka lu, pul, di puskes, pasti kemaren lu gak ke dokter juga kan." tebak dinda


ipul hanya cengengesan, tebakan dinda tepat sasaran. gimana ipul mau berobat ke dokter, uang hasil dagangnya dirampas tio dan anak buahnya.


÷÷÷÷÷


biarlah ipul diam saja, jangan sampai dinda tau. lihat ipul babak belur saja, dinda sudah mematahkan jari tio. apa lagi tau uang hasil kerja keras ipul di rampas tio. gak tau deh apa yang bakal dilakuin dinda.


mungkin lebih parah lagi. bisa gak berbentuk itu muka si tio.


ipul merasa beruntung di pertemukan dengan dinda dan keluarganya. ipul menganggap dinda seperti kakak baginya. salah, tapi dinda adalah malaikat penyelamat bagi ipul dan anak panti lainnya.


malaikat yang perkasa, menyembunyikan kecantikan di balik jaket dan helmnya.


panti tempat ipul tinggal juga di bangun oleh orang tua dinda. ipul anak tertua di panti itu, jadi dia harus mampu menjaga adik-adiknya. ada sekitar 17 orang anak panti di sana. ada juga mak parti yang bertanggung jawab di panti.


mak parti janda tanpa anak, dia memutuskan untuk mengabdikan sisa hidupnya mengurus anak-anak panti.


ipul juga di ajarin dinda cara membela diri, dodi dan angel juga ikut andil mengajari ipul. dinda bilang biar ipul bisa menjaga dirinya sendiri dan juga anak panti kalo dinda dan dodi sedang tak ada.


tapi kalo di keroyok rame-rame ya pasti ipul kalah juga. alhasil babak belur kaya sekarang.


÷÷÷÷÷


mereka membawa adik panti yang sakit memakai motor bebek milik dodi, sedang dinda naek sepedah yang ada di panti. untung puskesmas gak jauh dari panti.


setelah membawa adik panti berobat, dan mengobati luka ipul, mereka kembali ke panti.


"kak adi makasih ya, ucap adik panti yang sakit."


"iya, sama-sama."


"doain kak adi sehat terus ya, biar bisa jagain kalian." dinda mengelus sayang kepala adik panti itu.


"pasti dong kak adi, setiap kami berdoa selalu ada nama kakak di dalamnya."


senyum tulus anak panti, dan kasih sayang mereka yang membuat dinda ingin selalu melindungi mereka.


÷÷÷÷÷


"dod, gimana si tio dan anak buahnya?" tanya dinda


mereka gak bakal berani lagi nampakin batang "hidungnya depan kita di." dodi memberitahu dengan yakin.


"mereka gak ada ngelibatin aparat hukum kan?"


"ya mana berani di, ada juga mereka yang masuk kerangkeng."


"tio dan anak buahnya kan preman pasar, orang pasar juga udah pada gerah sama mereka, cuman pada gak berani ngelawan aja."


"sekarang pasti si tio lagi makan pake tangan kirinya," dodi ngebayangin tio yang gak bisa ngegunain tangan kanan karena jarinya yang remuk.


"coba yang lu patahin jari kiri nya di, pasti dia gak bisa cebok kan." dodi tertawa terbahak-bahak. dinda pun ikut tertawa.


"otak lu dod, ada-ada aja. tapi bener juga sih ya."


"asik banget ketawanya, gak ngajak-ngajak gue." angel datang menyandar di tiang garasi panti dan sudah melipat kedua tangannya di dada.


"gel, dari mana?" tanya dinda


"nih si dodi, maen tinggalin gue aja. udah gue bilang mau ikut ke panti buat ketemu lu. l" angel marah sama dodi.


"gue tadi lagi ngadep pelatih, buat nyiapin kejuaraan bulan depan. malah di tinggal." angel duduk dengan sebel.


"ya elah, gel, pake ngambek, gak cocok kali ama muka." ledek dodi.


"lagian lu dod, kenapa si angel di tinggal." tanya dinda.


dinda tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


"gue balik dulu ya," ucap dinda. "udah sore banget. tar kalo balik kemaleman si bunda bisa nyanyi seharian."


dodi dan angel saling melirik, mereka mengangkat bahu, gak mengerti maksud perkataan dinda.


"hati-hati ya di, ucap dodi dan ipul."


"yups..."


sebelumnya dinda memberi uang kepada ipul dan mak parti, untuk kebutuhan anak panti, gak banyak, hanya uang jajan dari ayah dan bunda yang sedikit-sedikit di sisihkan oleh dinda.


"adi, gue boleh nebeng lu aja pulangnya," pinta angel. "dari pada pulang sama si dodi nyebelin."


"ya udah, ayo."


÷÷÷÷÷


"di depan aja di, gue turunnya, nanti kalo masuk jalan rumah gue lu muter balik kejauhan." ucap angel.


"oke," dinda menurunkan angel di tempat sesuai permintaannya.


"thanks ya di."


"sama-sama."


"gue balik ya,"


"hati-hati ya di."


dinda melajukan motornya pulang kerumah, takut kalo ayah nyampe rumah duluan, bisa runyam urusan. bukan hanya dinda yang bakal di gantung di tiang bendera di halaman rumah, bisa-bisa motor sportnya ikutan digantung di sana.


÷÷÷÷÷


angel berjalan kaki ke rumahnya. datang seorang lelaki tentangga angel, juga temen angel dari kecil. cowok ini naksir berat sama angel, udah dari kecil soalnya suka mandangin angel, ampe sekarang suka ganguin angel. tapi angel gak nanggepin.


"dianter siapa gel? cowok lu?"


"mau tau aja lu, kepo banget." jawab angel


"kerenan juga gue gel, kalo cuman motor sport gue juga punya." ucap angga.


nama cowok yang suka angel itu adalah angga.


tapi sayangnya angga gak bisa satu sekolah sama angel. makanya cuman bisa deketin angel kalo udah di rumah.


angel berjalan cepat supaya menghindari angga.


angga masih ngikutin angel, menyesuaikan langkah angel.


"gue liat, lu udah beberapa kali diantar dia." ucap angga menyelidik.


"terus... apa urusannya sama lu?" tanya angel sinis.


"besok gue aja yang nganterin lu ya." tawar angga.


"males."


"kok gitu gel?"


"mending gue di anter adi. nanti kalo dianter lu gue di apa-apain lagi."


"ooo... jadi namanya adi?"


"si adi kali yang bakal ngapai-ngapain lu. gue mah bakal jagain lu gel."


"lu jagain gue??? apa gue yang jagain lu???"


angga tersenyum cengegesan.


siapa yang gak tau kalo angel atlet taekwondo. angga tau dia gak ada apa-apanya kalo berantem sama angel.


÷÷÷÷÷


"dinda kok baru pulang?" tanya bunda yang udah nungguin di teras rumah.


"untung ayah kamu belum pulang, kalo ketauan ayah kamu bawa motor, bunda bisa kena marah sama ayah."


"tadi dinda mampir ke panti bun, jadi baru pulang sekarang."


"kok gak ngabarin bunda?" tanya bunda.


"lupa bun." dinda mengaruk kepalanya dan menyengir.


"maaf ya bun."


"marahin aja bun," andra sudah bergelayutan di pundak bunda. "kak dinda itu nakal bun."


"eh.. bocah ikut-ikutan aja. sini kamu." dinda mengejar andra yang berlari menghindarinya.


"bunda..." jerit andra


"tolongin andra bunda... kak dinda nakal ni bun"


andra sudah ngos-ngosan.


"dinda sudah berhenti," ucap bunda.


"uuu... dasar tukang ngadu."


"wek... andra mengejek dinda, karena di belain bunda."


"udah sana kamu mandi dinda, bau." bunda menutup hidung. dinda melengos ke kamarnya.


÷÷÷÷÷