Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode DUAPULUHTIGA



"lu tunggu di mobil," perintah dinda pada andra. "kunci mobilnya. jangan dibuka. denger lu." tampak wajah dinda serius. andra pun menganggukkan kepalanya. agak takut kalo sudah lihat muka kak dinda kaya gitu.


dinda memakai topi kupluknya, kemudian turun dari mobil.


"woy.........bisanya maen keroyokan, banci lu pada semua." ucap dinda pada tiga orang lelaki yang sedang memukuli satu orang itu. tampak lelaki yang di pukuli itu menunduk melindungi tubuh dan wajahnya.


sontak ketiga lelaki itu berhenti, melihat ke arah dinda.


dinda melihat ke arah orang yang di pukulin, "james..." ucap dinda pelan.


james tampak meringis, mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"dasar banci lu semua, beraninya keroyokan, lepasin temen gue." pinta dinda. "sini lawan gue kalo berani." ucap dinda menantang.


ketiga lelaki itu tertawa, mereka saling menatap. "hajar." ucap salah seorang dari lelaki itu, yang mungkin adalah bosnya.


mereka bertiga menyerang dinda, dengan mudah dinda menghindar dari tinju lelaki itu, dinda menendang dan menghajar ketiga lelaki itu. mereka tumbang, wajah mereka sudah benjut dan penuh luka.


"bangun lu semua, cuman itu aja kemampuan lu." ucap dinda emosi.


ketiga lelaki itu, jalan merayap nyamperin salah satu lelaki lainnya, "bos gak apa-apa?" tanya lelaki itu. "lepasin gue," hardik lelaki yang mau dibantu itu.


dia bangkit, melayangkan sebuah pukulan pada dinda, dinda menangkisnya, memelintir tangan lelaki itu, "ammm....ammpunnn..." ucap lelaki itu.


dinda menginjak punggung lelaki itu, dengan tangan satunya yang masih di pelintir dinda.


"pergi lu semua, atau mau gue laporin polisi." ancem dinda.


"amp...ampuunnnn bang, kami pergi bang..." ucap lelaki yang mungkin adalah bos mereka itu.


mereka bertiga pergi dengan tertatih, dengan wajah yang sudah babak belur.


"james.... gimana keadaan lu?" tanya dinda.


dinda memapah james. membantu james berdiri.


"adi...," panggil james.


"iya ini gue, adi."


"kok bisa lu di pukulin kayak gini james." tanya dinda.


dinda membantu james menuju mobilnya.


"lu pindah belakang dek," perintah dinda pada andra.


andra langsung pindah duduk di kursi belakang tanpa berucap.


andra yang melihat dinda hendak dihajar tadi, sempat akan turun dari mobil untuk membantu dinda. tapi andra mengurungkan niatnya ketika melihat kakak perempuannya justru menghajar ketiga lelaki itu tanpa ampun. di dalam mobil andra sempat menyemangati, walau hanya dirinya sendiri yang dapat mendengar. "hayooo.....kak...."


"terus.... kak...."


"hajar.... kak...."


"habisin......."


(begitulah kata-kata dukungan andra)


____________________


dalam hati andra takut melihat kak dinda yang dengan mudah menghajar ketiga lelaki itu.


bagaimana kakak perempuannya bisa sehebat itu, bahkan kak dinda tidak luka sama sekali. kak james yang lelaki saja kalah.


tapi sebenarnya andra jadi lebih takut dengan kak dinda, bagaimana jika nanti kalo dia membuat kak dinda kesal atau marah, maka kak dinda bisa membuat wajah andra juga babak belur. tanpa sadar andra meraba wajahnya sendiri. andra bergedik ngeri.


sejujurnya andra merasa kagum sekaligus bangga mempunyai kakak sehebat dinda.


____________________


andra masih menatap dinda seolah tak percaya dengan apa yang disaksikannya.


"sekarang ceritain ke gue, kenapa mereka bisa mukulin lu?" tanya dinda pada james.


"mereka itu begal di, tadi mereka ngambil motor gue, gue ngelawan, malah gue di keroyok."


"terus motor lu dimana?" tanya dinda


"karena gue dikejer-kejer ya motornya ketinggal di jalan depan." jawab james.


dinda menghidupkan mobilnya, menuju jalan yang di tunjukan james. setelah sampai disana, dinda turun memeriksa, dia melihat sekeliling, tapi tidak ada motor james sama sekali. dinda memeriksa sekali lagi.


"gimana keadaan kak james?" tanya andra.


"gak apa-apa ndra, gue baik-baik aja." jawab james.


"emang gak sakit kak?" andra menekan luka di muka james.


"james meringis, sakit sih..." ucap james tersenyum.


"kata kakak tadi baik-baik aja. gimana sih kak james ini." protes andra.


james hanya tersenyum menanggapi andra.


"thanks udah perhatian sama gue." ucap james tulus.


andra balas tersenyum.


"kak james, kak dinda itu ----------- ?????"


"motor lu gak ada james." ucap dinda yang sudah masuk kembali kedalam mobil.


"ya udah lah di, biar aja." sahut james.


"ya gak bisa gitu james," ucap dinda geram. "ini namanya kejahatan, harus dilaporin polisi. biar nanti gue bilang sama om gue." ucap dinda.


"terserah lu aja di." james hanya bisa menuruti kemauan dinda, protes juga percuma, james tau betul dinda paling gak suka dengan tindak kejahatan. masih teringat dengan jelas saat dinda membela ipul anak panti itu.


"gue anter lu pulang." ucap dinda.


mereka sudah di rumah james. dinda melihat sekeliling, rumah james tampak gelap, hanya lampu teras yang hidup.


"ada, si mbok, paling di belakang."


"thanks ya di." ucap james.


dinda pergi dari rumah james, dia pulang menuju rumah.


"dek, nanti lu jangan kasih tau bunda ya gue tadi nolongin james."


"kenapa kak?" tanya andra. "kakak kan tadi hebat banget, kalo bunda tau kak dinda sehebat itu pasti bunda seneng kak." ucap andra dengan polosnya.


andra gak tau kalo ayah dan bunda sampe tau, bisa digantung dinda di tiang bendera.


"nurut aja bisa gak? gue bilang jangan ya jangan." ucap dinda dengan menatap andra tajam.


"i.....ya.... kak." jawab andra takut.


(iya aja lah dari pada benjut kaya tiga orang tadi)


÷÷÷÷÷


****Pesan WhatsApp****


"james besok lu sekoah gak? mau berangkat bareng gue? " (adi)


hape dinda berbunyi, dilihatnya james yang menghubungi. dinda segera mengangkat panggilan dari james.


"ya james,


gimana luka lu? dah di obatin?"


"udah, gak parah kok di, paling besok udah baikan."


"kalo masih memar lu gak usah masuk aja james, nanti gue bilang ke bu rita kalo lu sakit."


"gue besok sekolah aja di, nanti kalo gue gak masuk, gue di panggil sama bu rita lagi."


"emang kapan lu di panggil bu rita?"


"senin kemaren.


bu rita bilang nilai gue turun. dia mau ketemu sama bonyok gue. kan lu tau sendiri gimana kondisi keluarga gue." terdengar sura james parau.


"lu yang kuat ya james. inget lu gak sendiri. ada gue, abi, wayan, babas, lyli, sama salsa. yaaaa.... walau salsa cuman bisa bikin rusuh lu aja." ledek dinda.


"besok berangkat bareng gue aja, gue jemput lu jam 6.30 ya." ucap dinda.


"thanks ya di."


sekali lagi james bersyukur memiliki sahabat seperti dinda, terkadang bisa seperti bidadari, terkadang bisa juga seperti -------. james tersenyum mengingat dinda.


÷÷÷÷÷


tin.....tin...


james keluar, "hei di." sapa james.


"giimana luka lu james?" tanya dinda.


"udah lebih baik." jawab james.


"halah.... ketara banget muka lu kalo bohong james, tu buktinya iler lu netes."


james mengelap mulutnya, kering gak ada iler seperti yang dibilang dinda. "rese lu di, bohongin gue."


dinda tertawa, melihat james yang kena tipu.


"woy... udah bangun belum sih lu?" tanya dinda


"ya udah lah," jawab james


"tapi masih setengah tuh nyawa lu." sahut dinda sambil tertawa.


mereka ke sekolah bersama, seperti biasa dinda yang mengendarai motor dan james yang diboncengin.


terkadang james malu pada dinda, dia lelaki tapi entah kenapa dinda lebih hebat darinya. namun james tak pernah merasa direndahkan oleh dinda, james tau sifat dinda seperti apa, makanya james selalu merasa nyaman bersama dinda dibanding bersama dengan teman-teman yang lain. walaupun semua teman-temannya adalah orang yang baik dan setia kawan.


÷÷÷÷÷


mereka sudah di sekolah. dinda sengaja datang agak lebih pagi sedikit. sebelum masuk ke dalam kelas, dinda menarik tangan james agar mengikutinya.


"mau kemana di?" tanya james.


"udah ikut gue sebentar." ucap dinda.


dinda membawa james ke ujung dekat toilet, dimana jarang ada anak-anak yang bakal lewat kalo masih sepagi ini.


james masih bingung kenapa dinda membawanya kesini.


dinda mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"diem lu jangan bergerak," perintah dinda pada james.


james pun menuruti perintah dinda.


dinda membuka sebuah kotak kecil, yang isinya ternyata adalah bedak. kemudian dinda menyapu bedak itu ke muka james. dimana ada luka lebam kena pukul semalam.


"auchh.... sakit...." ucap james meringis.


"hadeh... tahan bentar aja." sahut dinda.


"emang mau lu apain sih?" tanya james.


"sabar, bentar lagi juga lu tau. lu bakal berterimakasih sama gue." ucap dinda bangga.


sedangkan james hanya dapat terdiam, membiarkan dinda melakukan apa pun padanya.


dari balik tembok tampak babas menguping, tadi babas dari toilet habis kebelet pipis. babas penasaran siapa murid sepagi ini yang berdiri dibalik tembok itu. babas pun makin penasaran ketika mendengar percakapan mereka yang terdengar ambigu di telinga babas.


"nah udah selesai," dinda menutup bedak itu kembali, kemudian mengambil handphone nya, membuka aplikasi cermin.