Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode DELAPANBELAS



"pas gue sampe rumah, -----"


dinda menatap james, menunggu kata-kata james selanjutnya.


james membuang pandangan ke arah lain, tidak mau melihat pada dinda. menyembunyikan matanya yang memerah menahan tangis.


"mereka berantem di." ucap jemes dengan wajah kecewa.


"gue gak berani ikut campur, jadi gue dengerin perdebatan mereka dari balik pintu kamar mereka."


"nyokap gue pergi ninggalin rumah di, dia balik ke negara kakek gue. gue liat nyokap bawa dua koper. nyokap gue cuman bisa nangis. tapi -----"


lagi-lagi james menjeda ucapannya, terhenti dan tak melanjutkan. dinda masih setia menjadi pendengar james.


"ternyata bokap punya wanita lain, dan itu yang buat nyokap gue pergi ninggalin bokap gue."


"gue kecewa sama bokap gue di, padahal selama ini gue kagum dan pingin sukses seperti bokap gue. tapi ngeliat bokap yang tega buat nyokap gue kaya gitu, -----"


"gue benci dia di. gue gak mau jadi seperti dia. ucap james dengan emosi."


james menarik napas panjang, mengusap wajahnya kasar. matanya sedikit berkaca-kaca, tapi tangisnya tak keluar, mungkin karena malu di hadapan dinda atau ada alasan lain, dinda juga gak tau.


"gue gak tau harus gimana di???,


kemaren nyokap minta gue ikut dia ke jerman."


dinda tampak berpikir, dia juga gak tau soal masalah seperti ini. "terus lu mau pergi?" tanya dinda.


"gue bingung di," ucap james.


"gue mau tetap di sini, tapi itu berarti gue harus tinggal bareng bokap gue. tapi gue juga gak mau pisah sama nyokap gue." ucap james dengan suara rendah.


"gue gak tau harus ngomong apa james. tapi gue dukung apapun yang terbaik buat lu. inget...!!! lu gak sendiri james. gue dan teman-teman yang lain selalu ada buat lu." dinda memberitahu.


"thanks di. gue tau lu sahabat terbaik yang gue miliki. gue gak akan ngecewain orang yang gue sayang. gue gak mau kaya bokap gue." ucap james ambigu.


"ya udah kita balik, udah malem, nanti gue dicariin bunda." ucap dinda.


"biar gue yang nyetir, gue anter lu balik." tawar james.


dinda membiarkan james yang menyetir, setelah melihat james sudah cukup tenang.


sebelum melajukan mobil, james terdiam sejenak.


"kenapa lagi?" tanya dinda.


"lu gak mau kasih gue pelukan gitu di, pelukan menenangkan gitu, kaya di film-film." ucap james sambil tersenyum memiringkan kepalanya.


"sempet-sempetnya lu ya," ucap dinda udah mau marah, dan hampir menjitak kepala james. untung saja james cepat menghindar.


"sono operasi jadi cewek dulu, nanti gue peluk kalo lu lagi sedih. hahaha....." dinda tertawa.


"masa iya gue berubah jadi cewek di, tega lu. nanti lu kehilangan sahabat tampan bak pangeran inggris ini."


"pluugg......" dinda melempar botol air mineral ke arah james, tapi james dengan sigap menangkap botol itu, kalau tidak pasti kepala james sudah benjol. "lu ketularan si babas ya, mulai sengklek otak lu." ucap dinda emosi.


james tertawa, melihat tingkah lucu dinda, menurutnya.


dinda pun pada akhirnya ikut tertawa bersama james. dinda senang sahabatnya ini masih bisa tertawa di antara kesedihannya. setidaknya dinda sedikit berguna sebagai sahabat. ucap dinda dalam hati.


÷÷÷÷÷


di sekolah james sudah tampak seperti biasa.


"weewwww..... ekor adi udah balik," ejek babas


mereka duduk di kantin sambil makan siang.


"tar pulang sekolah ngumpul rumah wayan ya," ucap abi.


"emang ngapain di rumah wayan," tanya dinda bingung.


"lah kan kita mau ngerjain tugas yang di kasih bu siska (guru biologi)." sahut lyli.


"lu kebiasaan di, molor aja sih kalo guru lagi jelasin."


dinda hanya cengengesan.


"gak apa-apa tukang molor, tapi kalo malam jadi cinderella." ucap babas gak sadar.


lalu babas menutup mulutnya pakai sebelah tangan.


"hehe.. cinderella rock & roll." lanjut babas.


dinda menatap babas dengan tatapan tajam.


"apa bedanya sama lu bas," ucap salsa.


"lu aja paling males ngerjain tugas, belon kalo guru nanya pasti lu jawabnya nyeleneh." sambung salsa.


"iya betul itu," timpal wayan, yang langsung kena timpuk tulang ayam sama babas.


"emang gue guguk, lu kasih tulang bas." ucap wayan.


÷÷÷÷÷


****Pesan WhatsApp****


"dinda, pulang sekolah om jemput ya?" (om andre)


kebetulan amat om andre mau jemput, tau aja gue hari ini gak bawa kendaraan.


****Pesan WhatsApp****


"oke om, dinda balik jam 3 om." (dinda)


÷÷÷÷÷


"om andree..." teriak dinda heboh.


"hei ponakan om udah gede hah..."


"ya iya lah, kan dinda di kasih makan sama bunda."


om andre hanya tertawa, dan mengajak dinda masuk ke dalam mobil.


"om andre gak masuk kantor, kok bisa jemput dinda?"


"hari ini kerjaan om gak terlalau banyak, jadi di sempetin ketemu kamu."


"mau om traktir makan apa nih?"


"emmm.... apa ya...??? makanan jepang gimana? tanya dinda."


"oke." langsung di setujui om andre.


÷÷÷÷÷


dinda memesan sushi, ramen, takoyaki, sukiyaki, dan mochi.


"om gak pesen." tanya dinda.


om andre menggelengkan kepala.


"tadi udah makan, om minum matcha ice aja."


makanan pesanan dinda sudah datang.


om andre menelan ludah, "kamu habis semuanya dinda?" tanya om andre yang melihat begitu banyak pesanan dinda.


"abis dong, kalo kurang dinda boleh pesan lagi kan?" tanya dinda antusias.


om andre cuman manggut-manggut aja.


dinda makan dengan lahap, sampai suapan terakhir terdengar suara sendawa dinda. "oopps.. maaf om," dinda menutup mulutnya karena tak sengaja bersendawa.


dinda memengang perutnya, "beughh..... kenyang buanget om." ucap dinda.


"mau nambah lagi?" tanya om andre tersenyum.


"om mau bikin dinda gendut ya?" tanya dinda balik.


"katanya kalo masih kurang mau pesan lagi," ucap om andre.


"tapi dinda kan gak bilang kurang, malah udah penuh banget nih perut dinda."


÷÷÷÷÷


"om boleh tanya sesuatu?"


"apaan om?" dinda menyeruput minumannya.


"kamu ada dimana hari minggu, tanggal xx-xx-xxxx?" tanya om andre serius.


dinda memasang muka bingung, sambil mikir.


"lupa om, kayanya di rumah deh om." dinda berusaha menyembunyikan kepanikannya. sepertinya dia tau kemana arah pertanyaan om andre.


"emang kenapa om?" tanya dinda.


"kamu yakin kamu di rumah? kamu tau om tidak suka jika kamu berbohong dinda." wajah om andre lebih serius lagi saat mengatakannya?


dinda terdiam, berpikir mau jawab apa. seingatnya dia selalu memakai helm dan jaket, jadi tidak mungkin ada yang mengenalinya. dia juga gak melihat om andre malem itu.


"kamu masih gak mau bilang?" tanya om andre.


"i...iya... dinda ngaku." ucap dinda cepat. karena takut kalo om nya sampai marah terus bilang ke bunda, otomatis pasti nyampe ke telinga ayah.


"dinda ikut ba....la...pan...."


dinda menundukan wajahnya. merasa bersalah.


om andre mengusap wajahnya gusar. ponakannya ini memang perempuan, tapi kelakuannya lebih nekad dari laki-laki.


melihat om andre seperti itu, dengan wajah yang sulit diartikan dinda menjadi ciut. mending dia ngegebukin sepuluh preman dari pada harus di sidang kaya terdakwa gini.


"om maapin dinda." ucap dinda pelan.


"om jangan bilang sama bunda dan ayah ya. dinda janji gak bakal ikut balapan lagi." ucap dinda menyesal.


"kenapa kamu gak bilang sama om, kalo kamu suka balapan? om kan bisa bantu kamu masuk ke club, kamu bisa balapan di tempat yang benar, bukan balapan liar."


"om.... gak marah sama dinda?" tanya dinda takut.


"dinda, kamu tau om menyayangi mu, om yang mengurus mu sejak kecil. bukankah selama ini om selalu mendukung keinginanmu? om tidak mau kamu sampai salah jalan dan mengecewakan orang tua mu.


bla....bla....bla....bla......"


setelah cukup lama om andre memberikan wejangan sama dinda, akhirnya om andre mengantar dinda pulang.


dinda pun sudah berjanji tidak akan ikut balapan liar lagi.


÷÷÷÷÷


"loh... kok kamu pulang bareng om mu?" tanya bunda yang melihat dinda diantar om andre.


"iya tadi dinda di traktir makan sama om andre, katanya om andre ulang tahun. iya kan om?"


tapi andre tidak mengiyakan ucapan dinda, hanya tampak bingung dan tersenyum.


dinda lalu masuk ke dalam, "bun, om, dinda ganti baju dulu ya lengket nih."


"lah... ndre emang kamu ulang tahun hari ini?" tanya bunda bingung. seingat bunda ulang tahun andre masih empat bulan lagi.


andre tertawa, "ahh.... mba dikerjain dinda aja kok percaya. mba kali yang lupa ulang tahun andre."


"karena mba ingat, makanya mba tanya, mana tau ulang tahun mu berubahkan." ucap bunda sambil tertawa.


"kok traktir gak ngajak-ngajak mba sih ndre? mba kan juga mau di traktir."


"ya ampun mba, kaya anak abege aja. mba minta traktir sama mas santo aja lah."


"tunggu mba ngambek dulu itu mah, baru mas santo mau ajak mba makan diluar." ucap bunda sambil tertawa. om andre juga ikut tertawa.