Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode DUAPULUHDUA



"baiklah anak-anak, jangan lupa belajar. ingat minggu depan kita ulangan." bu rita mengingatkan kembali sebelum meninggalkan kelas.


kemudian bu rita mendekati james.


"james setelah jam istirahat kamu ke ruangan ibu ya." ucap bu rita.


"baik bu," jawab james.


÷÷÷÷÷


james sudah di ruangan bu rita, saat bell istirahat dia langsung menemui bu rita.


"james, nilai mu akhir-akhir ini turun, dan ibu perhatikan kamu selalu tidak fokus saat jam pelajaran. ada yang mau kamu ceritakan james?" tanya bu rita.


james terdiam, "tidak ada bu." ucap james mantap.


"baiklah jika begitu, lantas apa yang menyebabkan nilai mu turun?" tanya bu rita.


james hanya terdiam.


"james bisa ibu bertemu dengan kedua orang tua mu?"


"tidak bu, emmm... maksud saya, orang tua saya sedang tidak di sini bu, mereka sedang ada urusan di luar."


"saya berjanji akan belajar lebih giat bu," ucap james bersungguh-sungguh.


"ibu harap kamu baik-baik saja james, jika ada apa-apa jangan sungkan untuk cerita kepada ibu."


"iya bu." jawab james.


"sebenarnya ada apa dengan anak itu?" tanya bu rita dalam hati. orang tuanya pun dihubungi tidak bisa.


÷÷÷÷÷


"dinda temenin bunda belanja yuk..." ajak bunda


"ah... males bun, nanti bunda lama milih-milih." jawab dinda.


"terus bunda pergi sama siapa dong, masa bunda pergi sendirian."


"bunda ajak andra aja tuh, kan biasanya juga kalo bunda pergi belanja sama andra." ucap dinda.


"iya, tadinya bunda mau pergi sama andra, tapi andra bilang ada kerja kelompok sama teman-temannya."


"emang bunda mau belanja apaan sih?" tanya dinda.


"belanja sayur, emang kamu gak mau makan?" tanya bunda.


"kok tumben bunda yang belanja, biasanya bi ijah."


"bi ijah lagi sakit gigi, gak tega bunda nyuruhnya."


"ya udah suruh tina aja bun," ucap dinda.


"ihhh.... kamu ini gimana sih, tina mana pandai belanja."


"ahh.... bunda ribet." sahut dinda.


"udah cepat ganti baju, bunda tunggu di mobil, gak pake lama ya, pokoknya harus temenin bunda." perintah bunda.


"lahhhh.... bunda ini pemaksaan loh." dinda berjalan ke kamar menganti bajunya.


"lama amat kamu ganti baju gitu aja," ucap bunda pada dinda yang baru masuk ke dalam mobil.


"ayo wo jalan." perintah bunda pada pak supir keluarga kami (namanya mang bowo).


mang bowo pun menjalankan mobil menuju tempat belanja yang bunda perintahkan.


÷÷÷÷÷


"bun gak salah kita kesini?" tanya dinda melihat sekeliling ramai sekali.


bunda rupanya mau belanja sayur ke pasar, bukan ke supermarket. mereka sudah di parkiran sebuah pasar.


"ya kan bunda bilang mau beli sayur dinda, masa kita ke toko bangunan. gak jual mereka sayuran." ucap bunda.


"kenapa gak belanja di supermarket aja sih bun?" tanya dinda.


"di sini sayurannya lebih seger," jawab bunda. "udah ayo turun." ajak bunda.


"gak ah bun, dinda tunggu di sini aja." ucap dinda.


"kamu ini gimana, kalau kamu tunggu di sini bukan nemenin namanya. udah cepet," paksa bunda.


dengan sangat, amat, terpaksa dinda menurut. mengikuti bundanya dari belakang.


sebenarnya ini bukan pertama kali dinda ke pasar, dan bukan berarti dinda tidak suka dengan pasar. dinda hanya sedang malas saja.


dinda malah pernah nemenin ipul berjualan di pasar.


dinda juga pernah bantu emaknya dodi nganter kue ke pasar.


"ya ampun bun, banyak amat belanjanya, kaya buat ngasih makan satu kelurahan." ucap dinda yang melihat begitu banyak bunda membeli sayuran juga buah-buahan.


mang bowo membantu membawa belanjaan bunda, memasukan ke dalam mobil.


÷÷÷÷÷


"dinda, bunda bisa minta tolong kamu jemput andra di rumah temannya."


"kok dinda bun, lagi asik nonton film ni bun."


"kenapa gak suruh mang bowo aja sih bun." ucap dinda.


"si bowo lagi bunda suruh nganter bi ijah ke dokter gigi, abis bunda lihat bi ijah meringis gitu, pipinya pun sampe bengkak."


"suruh andra naek ojol aja lah bun, laki ini, manja amat pake di jemput." sahut dinda.


"dinda....." bunda sudah menaikan volume suaranya.


"iya, iya, bunda ku sayang, yang cantik. anak mu adinda ini akan menjemput anak kesayang bunda di rumah temannya." ucap dinda sengaja di buat-buat agar bundanya tidak jadi marah.


bunda pun akhirnya tersenyum menang, karena dinda sudah mengambil jaket dan helm.


"jangan naik motor," cegah bunda menghentikan langkah dinda yang sudah menuju motornya.


"ya masa jemput andra jalan kaki sih bun," sahut dinda.


"bawa mobil aja sana, ini udah malem, nanti kenapa-kenapa kalo naek motor." perintah bunda.


"terus dinda bawa mobil make jaket sama helm gitu bun?"


"ya terserah kamu, gak ada salahnya juga naek mobil pake helm. pembalap juga naek mobil pake helm." ucap bunda sambil tersenyum.


maksud hati mau becandaiin bunda. malah dinda yang kena. "hahhh....apes."


dinda pergi menjemput andra dengan mengendarai mobil, sesuai dengan perintah bunda.


÷÷÷÷÷


"ndra, gue udah di luar, buru lah," ucap dinda.


"iya kak, ini andra udah mau keluar."


"kok kak dinda yang jemput?" tanya andra. "biasanya mang bowo."


"mang bowo lagi nganter bi ijah ke dokter gigi." jawab dinda.


"teman andra boleh nebeng gak kak? kasihan dia gak ada yang jemput."


"jadi gue suruh nganter temen lu gitu? males amat, gue bukan supir ya ndra, suruh pulang sendiri aja lah sana."


"emang kakak tega biarin temen andra pulang sendirian. tuh..." tunjuk andra pada seorang anak perempuan.


dinda yang mengetahui teman andra yang mau nebeng anak perempuan jadi gak tega juga.


"ya udah buruan naek, atau mau pulang jalan kaki?," ancam dinda.


"jadi cinta boleh nebeng kan kak?" tanya andra memastikan.


"hemmm......" dinda memalingkan wajahnya.


ternyata rumah teman andra yang bernama cinta itu satu komplek dengan rumah angel. bahkan hanya berjarak dua rumah saja dari rumah angel.


"makasih ya kak dinda, sudah nganter cinta sampai rumah." ucap cinta.


dinda hanya berdehem tapi tersenyum.


"kok sama gue gak bilang makasih ta," protes andra.


"hehe... cinta lupa," jawab cinta malu-malu. "makasih ya andra."


"sama-sama ta. gue balik ya. dahh...."


"cewek lu dek?" tanya dinda.


"masih kecil udah pacaran, ketauan ayah baru tau rasa."


"siapa?" andra sewot, "cinta? dihhhh...... bukan lah kak.


cinta itu teman sekelas andra. kak dinda jangan ngarang deh." sahut andra


"lah.... kok marah, kalo marah berarti bener." timpal dinda.


"siapa yang marah, biasa aja. lagian kakak itu maen tuduh sembarangan. cinta itu bukan pacar andra. oke. titik."


dinda hanya senyum-senyum melihat andra ngambek.


÷÷÷÷÷


"kak kita beli sate dulu yuk, andra laper nih." pinta andra.


"ngambek masih bisa laper juga," ledek dinda


"siapa yang ngambek, weee....." ejek andra.


"emang di rumah temen lu, gak dikasih makan apa? pelit banget temen lu."


"ihh.... kak dinda ini gimana sih, andra kan ke sana mau ngerjain tugas kelompok, bukan mau minta makan."


dinda menepikan mobilnya ketika melihat sebuah warung sate.


"bang sate kambing satu porsi," pinta andra.


"makan di sini atau bungkus?" tanya abang sate.


"makan disini bang." jawab andra


"kok gak bungkus aja?" tanya dinda.


"enak makan sini aja kak, nanti kalo bungkus gak napsu lagi makanya udah sampe rumah."


"alesan aja lu."


"kak dinda gak makan." tanya andra.


"gak, gue udah kenyang."


dinda sedang menunggu andra makan sate.


"woy..... pelan-pelan makannya, kaya gak pernah makan aja." hardik dinda yang melihat andra makan sate dengan lahap.


"abis enak kak," jawab andra dengan mulut penuh lontong dan sate.


"berapa bang?" tanya andra pada penjual sate.


"30 ribu." jawab abang sate.


"kak, tuh 30 ribu." andra memberitahu dinda.


"lah ya udah bayar, kan yang makan elu dek, masa gue yang bayar."


"hehe.. andra kan gak bawa duit kak." andra cengengesan sambil menggaruk kepalanya.


dinda menghela napasnya, "nyusahin aja lu." dinda membayar sate yang dimakan andra.


mereka menuju pulang ke rumah.


"kak...." andra memanggil dinda.


"apa sih ngagetin aja, gue kan lagi nyetir, nanti kalo nabrak gimana." protes dinda.


"itu..kak..... itu......" andra menunjuk ke arah sebrang. "ada orang di kejar-kejar kak." ucap andra.


andra melihat ada tiga orang lelaki yang mengejar satu orang lelaki.


"ahh.... biar aja bukan urusan kita." ucap dinda cuek dan tetap melajukan mobilnya.


"tapi kasihan kak," andra melihat orang yang dikejar itu dari jendela mobil, tampak mobil makin menjauh.


"kak......" teriak andra.


cittttt........ dinda menginjak rem.


"apa sih lu dek," tanya dinda marah.


"i...it...tu...... orang itu dipukulin kak. hayooo.... kak kita tolongin." pinta andra.


dinda melihat ke arah yang andra tunjukkan, ternyata benar ada seseorang yang di keroyok.


dinda memutar balik mobilnya menuju orang yang di keroyok itu.