Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode TIGA



dinda dan keluarganya menikmati makan malam. makan malam yang begitu khidmat, karena ada ayah dinda di sana. saat sudah selesai makan, dinda mengambil air mineral di dalam kulkas.


"bun, dinda mau ngerjain PR di kamar, bis tu langsung bobo." pamit dinda pada bundanya.


dinda mengunci kamarnya. dia membuka beberapa camilan, dan mengelurkan sebagian isinya, membuka kemasan air mineral dan minuman ringan, lalu membuang isinya sebagian ke kloset.


dia juga membuka beberapa buku, dan meletakan di atas meja.


dinda memakai celana panjang berbahan jeans dengan beberapa kantong di kiri dan kanan. lalu memakai kaos dan dilapisi kemeja tanpa di kancing.


dinda menguncir rambutnya.


kemudian dia mengambil jaket dan kupluk memasukan ke dalam ranselnya.


dia membuka pintu kamarnya sedikit, mengintip keadaan. kemudian menutup pintu kamar kembali.


sengaja tak mengunci kamarnya, dan membiarkan lampu kamar menyala.


tidak lupa dia mempersiapkan guling lalu di tutupi selimut, seolah-olah itu dia yang sedang tertidur.


dinda mengambil ransel, dan memakai di punggungnya. kemudian dia membuka jendela kamar, lantas menutupnya kembali tanpa terkunci.


dinda turun dari kamarnya melewati jendela. dia sudah pernah melakukannya beberapa kali. jadi dia sudah cukup mahir menuruni kamarnya yang berada di lantai dua.


diam-diam dinda melangkah, menuju tembok samping rumah, yang ada pohon mangga berukuran cukup besar.


dinda memanjat pohon itu untuk meloncati tembok. dinda tidak memilih keluar melewati pintu gerbang, karena pasti itu akan ketahuan. ada beberapa orang anggota ayahnya yang berjaga di pos penjagaan.


dinda berhasil keluar, dia sudah di persimpangan jalan rumahnya.


÷÷÷÷÷


pesan WA


"dimana dod?" (adi)


"gue di persimpangan deket rumah." (adi)


saat dinda menunggu balasan dari dodi, ada sebuah motor sport berhenti di dekatnya.


orang yang diatas motor, memakai jaket hitam dan helm hitam. dinda tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang itu.


tapi dinda tidak asing dengan motor sport itu. motor sport itu berwarna merah.


james, tebak dinda.


james membuka penutup kaca helm, dia tersenyum.


"butuh tumpangan?" tanya james


"ngapain lu di sini?" tanya dinda


"mau naik atau gue tinggal." ancam james.


"berani lu mengancam gue james." ucap dinda sinis


"iya maaf adi, ayo cepet, dodi dah nungguin lu."


dinda malas berpikir kenapa james bisa disini.


"gue yang nyetir." ucap dinda.


dinda sudah memakai jaket dan kupluk, lalu dia pakai helm yang di bawa james.


james bergeser duduk di belakang.


÷÷÷÷÷


mereka sudah di tempat yang dituju.


"mana yang lain." tanya dinda pada dodi.


"itu." tunjuk dodi pada kawan-kawannya.


"dod, gue bilang jangan banyak. kok jadi sekampung gini." ucap dinda.


"ini gak banyak di, cuman 40 orang doang." ucap dodi terkekeh.


"gue udah janji sama ipul gak bakal rusuh. kalo lu bawa segini banyak, ya pasti rusuh lah dod."


dodi menghela napasnya. "terus mau lu gimana di?"


"sisahin 5 orang aja, suruh yang lainnya pulang." perintah dinda.


"tapi lu gak boleh nyuruh gue pulang adi." ucap angel yang sudah berdiri di belakang dinda.


"loh, gel, kok lu disini." tanya dinda.


"gue mau bantuin lu lah. emang gue disini buat masak."


dinda mendengus kesal. dia tidak mau angel celaka.


"bentar, gue mau ngomong sama angel." ucap dinda yang sudah membawa angel menjauh dari dodi dan james.


perkenalkan angel, teman dinda yang satu sekolah sama dodi. angel berambut pendek seperti lelaki, berbadan tinggi, sama tinggi dengan dinda. kulit angel sedikit cokelat. angel salah satu atlet taekwondo.


dodi yang mengenalkan angel pada dinda, saat dinda datang melihat pertandingan dodi. sejak itu mereka dekat, dan saling membantu.


"gel, lu dengerin gue. ini gak ada hubungan dengan lu. please, lu balik ya." ucap dinda lembut.


"adi, adi,.. lu kenal gue dengan baik kan. kita berteman udah sejak kelas satu. urusan lu, urusan gue juga." ucap angel tegas.


"gel, gue gak mau lu kenapa-kenapa. dengerin gue kali ini ya." dinda masih membujuk angel.


"gue jamin, gue bakal berguna buat lu." angel mengedipkan sebelah matanya pada dinda. pergi meninggalkan dinda. lalu kumpul bareng teman-teman yang lain.


"adi, gue udah nyuruh yang lain pulang," ucap dodi.


"jadi kita bersembilan ya." ucap dinda.


"kita langsung ke tempat tio. lu udah mantau dia kan?" tanya dinda pada dodi.


"iya di. beres." jawab dodi.


÷÷÷÷÷


mereka berdiri di dekat semak-semak, memperhatikan sebuah rumah kecil yang jadi markas tio dan kawan-kawannya kumpul.


dinda menyuruh kelima orang yang ikut untuk menunggu di luar. jika dia dan dodi tidak keluar dalam 20 menit baru mereka boleh masuk.


"di," james memengang pergelangan tangan dinda.


"apaan, ini bukan waktunya nyebrang jalan james." ucap dinda. melihat tangan james di pergelangan tangannya.


"sttt...." dinda menaruh satu telunjuk di bibir james.


"berisik james," ucap dinda pelan tepat di telinga james.


james langsung diam seketika. otomatis bengong.


sedikit terpana mungkin dengan dinda. menurutnya sexy. owgh.. james melupakan dimana dia berada.


dinda, dodi, dan angel sudah mengendap-endap memasuki rumah itu. james dengan langkah cepat menyusul.


terdengar tio dan kawan-kawannya sedang berbincang dan tertawa, mereka bermain kartu sambil minum-minum.


dinda mengetuk pintu, tok..tok..


"stttt..." ucap salah satu anak buah tio. "ada orang bos."


"buka sono." ucap tio.


saat pintu di buka, dinda langsung menendang anak buah tio, dan langsung terjungkal kebelakang.


dodi, angel, dan james ikut masuk ke dalam rumah itu.


dodi langsung menutup pintu rumah, mengganjal menggunakan balok kayu yang di bawanya.


tio bangkit dari duduknya.


"woow kita kedatangan tamu," ucap tio.


"ada apa nona, kau ingin bermain bersama kami." ucap tio mengejek.


"lu yang benama tio." tanya dinda pada tio


"owgh rupanya gadis manis ini mencari ku." tio tertawa terbahak-bahak. "ada apa hah kau memcari ku. minta ku puaskan ya." ucap tio.


dinda yang mendengar sudah mengepal tangannya. lantas menghadiahi satu pukulan keras tepat di wajah tio. tanpa pertahanan tio langsung tersungkur jatuh.


anak buah tio yang lain sudah menyerang.


angel, james dan dodi juga sudah mulai menghajar satu persatu anak buah tio. mereka tumbang dengan mudah.


sedangkan dinda sudah menghajar tio berulang kali. tio sempat memukul wajah sebelah kiri dinda, dan pipi dinda tampak lebam.


tio dapat di lumpuhkan oleh dinda.


dinda menginjak lengan kanan tio. menekan dengan sepatu kets yang di pakainya.


tio sudah mengaduh kesakitan. meminta ampun untuk di lepaskan.


"siapa lu?" tanya tio dengan suara yang sudah serak. "gue gak kenal lu, dan gak pernah ada urusan sama lu. kenapa lu mukulin gue dan teman-teman gue??."


"dod," panggil dinda.


dodi memghampiri dinda. "lu pasti kenal dia?" tanya dinda pada tio, sambil menatap dodi.


"do..di..." ucap tio terbata menahan sakit ditangannya.


"lu pasti mengenal ipul, anak yang lu hajar sampai babak belur."


tio tau benar siapa yang dimaksud dinda.


"gue teman mereka." ucap dinda.


"gue gak suka jika teman-temen gue di ganggu. apa lagi sampai di buat berdarah."


"lu mencari masalah dengan orang yang salah tio."


hardik dinda.


"cihh... anak panti itu rupanya. gue gak perduli, bahkan jika dia mati." ucap tio


"bosan hidup lu ya....." dinda berteriak marah.


diambil batang kayu yang tergeletak. dihantam ke jari kanan tio.


tio menjerit memegang tangannya. sudah dipastikan jari tangan kanan tio patah bahkan remuk.


james, berdiri mematung di tempatnya, melihat amarah dinda. dia tak menyangka dinda bisa terlihat sekejam itu. mulai sekarang james harus waspada dan takut pada dinda.


angel dan dodi hanya tersenyum menatap tio yang menahan sakit di tangannya.


"ini peringatan dari gue." ucap dinda pada tio.


"sekali lagi lu ngusik teman-teman gue. gue bakal patahin kedua tangan lu, kalo perlu kedua kaki lu juga, biar lu jadi pengemis di jalanan." ancam dinda.


mereka meninggalkan markas tio.


keliama orang yang disuruh menunggu, masih dengan setia menunggu di tempat mereka.


dinda dan ketiga temannya, tidak sampai 20 menit sudah membereskan anak buah tio.


"thanks ya guys." ucap dinda pada teman-temannya.


"nyatai di, kami malah belum melakukan apa-apa." ucap salah satu temannya.


mereka berpisah, pulang ke rumah masing-masing.


dodi pun sudah pulang ke rumahnya.


tinggal james dan angel.


"di, muka lu memar." ucap angel


angel membelai wajah dinda yang memar.


dinda menahan tangan angel.


"gue gak apa-apa gel." dinda tersenyum


"james lu anter angel pulang ya." ucap dinda


james menghela napasnya, dia tidak habis pikir dengan dinda. dinda terluka dan bilang gak apa-apa.


udah gitu kenapa angel perhatian banget sama dinda. james melihat mereka penuh tanda tanya.


"terus lu gimana di?" tanya james


"tenang aja, gak usah pikirin gue. udah sana cepet anter angel balik." perintah dinda


dengan terpaksa james menuruti ucapan dinda, untuk mengantar angel pulang.


james sebenarnya khawatir dengan keadaan dinda. tapi tampaknya dinda sendiri terlihat tidak merasa sakit sedikit pun.