![Adi [AdinDa]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/adi--adinda-.webp)
pak wahyu masih membagikan soal hingga sampai ke meja dinda, pak wahyu memanggil dinda pelan. "adinda" tapi dinda masih asik tidur.
pak wahyu menaikan sedikit volume suaranya. "adinda...", dinda malah bergumam, dan masih memejamkan matanya.
"yah si adi cari masalah sama pak wahyu" ucap lyli.
pak wahyu lantas menggebrak meja dinda, tidak terlalu kuat, tapi cukup mengejutkan dinda.
"A..DIN..DA..." brakkkkkkkkk.....
semua murid terkejut, dan menunduk takut, tidak ada yang berani membuka mulutnya.
dinda langsung terbangun, "iya bunda, ini dinda bangun, tapi lima menit lagi boleh gak?" ucap dinda dengan suara serak tapi nyawa belum kumpul semua.
teman-teman yang lain pada tertawa mendengar dinda. pak wahyu sudah geleng-geleng kepala.
"adinda, saya bukan bunda kamu" ucap pak wahyu tegas.
dinda merasa aneh, sejak kapan suara bunda jadi ngebas??? "apa ayah yang bagunin gue ya? wah bisa bahaya kalo ayah yang bangunin".
dinda langsung mengucek matanya, kemudian memperhatikan sekitar, "ahhh... ternyata gue di sekolah" ucap dinda pelan.
pak wahyu sudah melipat tangan di dada, sambil menunggu dinda menyadari keberadaannya.
dinda menoleh ke sebelah kanannya. dinda terkejut melihat pak wahyu, "hehe pagi pak? apa kabar pak? bapak sehat?" pertanyaan kurang kerjaan itu malah keluar begitu saja dari mulut dinda.
"pergi ke kamar mandi dan cuci muka kamu. perintah pak wahyu.
sambil nyengir dinda pergi keluar kelas menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya.
"aduh kok gue bisa ketiduran sih? oon..oon..oon..."
dinda memukul pelan kepalanya sendiri. dinda harus bersiap-siap pasti nanti di suruh menghadap pak wahyu. asal jangan diberi surat panggilan untuk orang tua saja, bunda bisa nyanyi seharian kalo tau di panggil ke sekolah karena dinda yang tertidur di kelas saat jam pelajaran.
÷÷÷÷÷
tak lama dinda kembali ke kelas, sudah duduk kembali di bangkunya. mengerjakan soal latihan yang di berikan pak wahyu.
"waduh matee lah ini, susah-susah lagi soalnya" keluh wayan sudah menggaruk kepalanya.
45 menit berlalu dan pak wahyu memberitahu agar mengumpulkan. kemudian pak wahyu membahas materi pelajaran selanjutnya.
mata pelajaran fisika pun berakhir. sebelum keluar kelas pak wahyu memberitahu pada dinda agar menemuinya di ruang guru saat jam istirahat.
"yah di, nasib deh lu ngadep pak wahyu, makanya besok kalo mau molor pake kaca mata" ledek babas dengan suara pelan pada dinda, karena pak wahyu masih di depan kelas.
"bastino..." panggil pak wahyu. babas pun menoleh karena namanya dipanggil. "kamu juga temui saya di ruang guru saat jam istirahat". kemudian pak wahyu keluar kelas.
sekarang giliran wayan yang ngeledek babas. "hahaha rasain kan, kena lu di panggil pak wahyu juga, makanya jangan ngeledek si adi"
"ahayyyy.... di panggil beduaan nih" ledek salsa.
"ehemmm..... ehemm..." timpal lyli.
"mau di kawinin kali lu bedua" salsa sudah tertawa ngakak. begitu pula dengan yang lain, gak ketawa sih, cuman senyum aja.
"gak apa-apa gue dikawinin sama adi, dari pada sama cewek centil kaya lu" hardik babas pada salsa.
"ya lu seneng bas, nah si adi ogah kali, kaya si adi mau aja sama lu" ucap abi yang sudah menggeplak punggung babas pake buku.
"iya bas, buat lu anugrah, buat adi musibah" sahut james.
"hahaha..." semua pada tertawa.
james memang jarang mengeluarkan banyolan atau candaan seperti yang lain, tapi sekali bersuara maka yang james ucapkan sangat mengena di hati yang mendengarnya. jeleep... gitu.
"bilang aja lu semua pada gak ikhlas kan kalo gue di kawinin sama adi" ucap babas dengan sombong dan percaya dirinya.
"ya iya lah, satu sekolah gak ikhlas kali bas, bukan kita doang" sahut wayan.
"buktinya adi diem aja tuh, berarti dia nerima gue" babas dengan percaya diri dan keyakinan yang diatas rata-rata.
dinda yang mendengar celoteh babas langsung terasa gatal tangannya, pingin nampol mulut si babas. tapi gak mungkin kan, bisa-bisa di panggil bu dona sang kepala sekolah.
dinda mengambil botol air mineral, dan melemparnya ke babas, botol itu tepat kena perut babas.
"auchhh..... di...., sakit tau" keluh babas memegangi perutnya. "belum jadi bini udah KDRT" ucap babas meringis.
dinda yang mendengar makin emosi. lantas berdiri menghampiri babas, mengapit leher babas di bawah ketiaknya.
"di... sakit, gak napas ini gue" babas memukul-mukul pelan tangan dinda yang mengalungi lehernya.
dinda menjitak babas berkali-kali, seperti emaknya sinchan. kalian masih ingat gimana emaknya sinchan kalo sudah menjitak kepala sinchan. ya begitulah kira-kira nasib babas sekarang.
"ampun di, ampun" mohon babas.
dinda melepaskan babas. "jangan ngomong aneh-aneh lagi lu ya" ancam dinda.
"ho..ohh..." jawab babas sambil mengusap kepala dan lehernya.
"SUKURIN..." ucap teman-teman yang lain bersamaan dan tertawa.
÷÷÷÷÷
dinda dan babas menemui pak wahyu di ruang guru. dinda di ceramahi dan di beri wejangan agar tidak tertidur saat jam pelajaran berlangsung. dinda mengakui kesalahannya, dan meminta maaf pada pak wahyu, juga berjanji tidak akan tidur lagi di kelas saat sedang belajar.
setelah menceramahi dinda dan mendengar dinda menyesali perbuatannya, pak wahyu memaafkan dinda. serta tidak jadi memanggil orang tua dinda.
"terus kenapa saya ikutan di panggil pak?" tanya babas yang masih setia berdiri bersebelahan dengan dinda. sebenarnya babas juga bingung kok dia ikutan di panggil juga.
"kamu bastino, potong rambut kamu" pak wahyu memberitahu.
"apa kamu mau saya yang memotongnya?" tanya pak wahyu.
"hehe... gak usah pak" jawab babas menggaruk kepalanya. "nanti saya potong ke salon aja pak"
"ya sudah kalian boleh kembali ke kelas"
babas dan dinda hendak keluar dari ruang guru, kemudian terdengar lagi suara pak wahyu.
"bastino, ingat, besok saya tidak mau melihat rambut kamu masih seperti sekarang, atau besok saya sendiri yang akan menggunduli" ucap pak wahyu tegas.
"iya pak" jawab babas pasrah.
"gile aja kan kalo rambut gue di potong sama pak wahyu, bisa cepak sana cepak sini, kaya gak tau aja pak wahyu kan paling ahli kalo motong rambut asal-asalan." dumel babas sambil jalan menuju kelas.
"lumayan kali bas, potong rambut gretongan sama pak wahyu" ledek dinda.
"dihh... ogah di, mending gue di suruh bayar aja lah. lu aja yang rambutnya panjang gitu gak di suruh potong, masa rambut gue baru segini udah di suruh potong aja." dumel babas.
"lah gue mah cewek bas, wajarlah rambut panjang"
"emang lu cewek???? gue kira jadi-jadian, abis galak banget"
"owgh... cari masalah sama gue" dinda sudah mulai mengepal tinju di tangannya.
"hehe... canda di, gitu aja marah, nanti berubah ijo lu"
"lu kira gue hulk"
"emang kan"
"se...bodo amat"
"adi, temenin gue ke barber shop ya, abis pulang sekolah" pinta babas sambil memainkan alisnya.
"kaya gue gak punya kerjaan laen aja bas"
"ayo lah di, kalo lu temein kan gue jadi semangat potong rambutnya"
"aneh sih lu bas, apa hubungannya coba. sono minta temenin salsa aja"
"mending gue sendirian aja di"
÷÷÷÷÷
Pesan WhatsApp
"adi, pulang sekolah bisa mampir ke panti, ada yang mau gue kasih tau" (ipul)
"bukannya kita mau jenguk dodi pul" (adi)
"gak perlu, dodi udah pulang ke rumahnya tadi siang" (ipul)
"lah udah sehat dia?" (adi)
"katanya sih males lama-lama di rumah sakit, kasian emak nanti bayar biayanya" (ipul)
"terus apa yang mau lu omongin? ngomong aja pul, gak usah pake tunggu nanti" (adi)
"nanti aja kalo lu udah di sini" (ipul)
"gue tunggu di" (ipul)
dinda jadi agak penasaran, kira-kira apa yang ingin dibicarakan ipul padanya. hingga jam pulang menjelang, dinda masih memikirkan apa yang kira-kira ingin dikatakan oleh ipul.
"di, kok ngelamun?" tanya james.
"james pulang sekolah lu mau kemana?"
"gak ada, balik rumah paling"
"temenin gue ke panti yuk"
"temenin atau anterin?"
"dua-duanya"
"ocee..."
÷÷÷÷÷
"tino, untuk apa kamu membeli anggur begitu banyak?" tanya mamah sinta.
babas yang lagi asik maen PS tidak menghiraukan pertanyaan mamahnya.
"anak ini kalo sudah main" geram mamah sinta. kemudian berdiri di depan tv menghalangi pandangan babas.
"mah... apaan sih, awas mah, nanti tino kalah nih."
"kamu denger gak mamah ngomong?" mamah langsung mematikan tombol tv. mati deh tvnya.
"yah mamah ganggu aja nih, mamah mau ngomong apaan sih? gak bisa ntar-ntar aja gitu."
"ini apa???" tanya mamah menyodorkan tagihan dari supermarket fresh fruits.
"buat apa kamu beli anggur sebanyak ini?"
"ya elah tino kira apaan, cuman tagihan doang kali mah, pake ganggu tino lagi main juga."