Adi [AdinDa]

Adi [AdinDa]
Episode SEPULUH



tino mengajak dinda kedalam rumah. mereka ada di ruang keluarga, sengaja menghindar dari keramaian. beruntung pesta berada di taman belakang dekat kolam renang, jadi di dalam rumah sepi.


"ngimpi apa gue, bidadari nyasar ke rumah gue." ucap tino yang tak lain adalah babas.


"huh... ngeledek lu bas?" sahut dinda


(masih ingatkan nama babas? bastino. kalo di rumah di panggil tino, ternyata tino alias babas adalah anak om bram dan tante sinta sahabat orang tua dinda)


"kok bisa lu jadi anak om bram?" tanya dinda


"pantes aja tadi gue gak asing sama wajah om bram, ternyata mirip sama lu, apa lagi rambutnya, sebelas duabelas sama lu."


babas hanya tertawa mendengar ucapan dinda.


mungkin itu lah istilah lahir dengan keberuntungan.


"kenapa?? sekarang lu naksir ya sama gue," babas bergaya sok keren depan dinda.


"muak sih bas, tetep aja kalo singkong di pakein jas, tetap dekil bas." ejek dinda.


"tapi kan singkong ini kualitas unggul di." babas masih membanggakan diri.


"sumpah di, kalo gue tau lu secantik ini, udah lama gue jadiin calon." ucap babas menatap kagum pada dinda.


eits... kenapa dengan babas, cowok somplak bisa terbius sama pesona adi, cewek galak nan perkasa. "sadar bas, sadar... sebelum kena azab." babas merutuki dirinya dalam hati.


tapi tidak bisa dipungkiri, dinda memang tampak berbeda malam ini. cantik bagai bidadari, bahkan artis girls band kalah cantik. itu sih menurut kaca mata babas ya. tapi sebenarnya dinda memang cantik loh.


"calon apa???" tanya dinda


"haha, calon pembokat di rumah gue." babas mulai dengan kekonyolannya.


peletak... dinda menjitak babas.


"busyet... sakit dul..."


"dandan kaya cinderella, kelakuan tetep kaya hulk."


dinda sudah mau menjitak babas lagi,


"ampun... ampun..." pinta babas, sambil menutup kepala dengan tangan.


"lu gak bakal sanggup ngegaji pembokat kaya gue." ucap dinda sinis


"gue juga mikir seribu kali jadiin lu pembokat gue, bisa benjut ini kepala gue, kena jitak mulu." gerutu babas


dinda berdecak,...


÷÷÷÷÷


babas mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi kamera, mengarahkan ponsel pada dinda, dan dengan cepat mengambil foto dinda, tanpa dinda bisa mencegahnya.


dinda langsung menutup muka dengan telapak tangannya. tapi gambar dinda sudah berhasil terjepret oleh kamera di ponsel babas.


"ngapain lu bas?" tanya dinda marah.


"jarang-jarang kan bisa liat lu kaya gini, jadi harus diabadikan di, terus share di sosmed. biar anak-anak satu sekolah pada tau."


"bas..." dinda berteriak, berusaha mengambil hp babas. mereka kejar-kejaran di ruang keluarga itu.


"babas berani lu lakuin itu, abis lu ya." ancam dinda


"hapus bas, hapus gak lu, cari mati lu ya bas."


dinda berhasil menangkap babas, mencengkram leher babas, sehingga ada di bawah ketiak dinda.


"kasih hp lu," dinda mengulurkan tangan meminta hp babas.


"gak mau," jawab babas


dinda menguatkan cengkraman pada leher babas.


"aduh.. sakit di, uhuk..uhuk... adi..., lepasin." babas memukul-mukul lengan dinda.


"kasih hp lu," perintah dinda.


"iya..iya.. nih." babas memberikan hpnya pada dinda.


dinda mengambil hp babas.


"ehem... permisi, tuan kecil gak apa-apa?" datang seseorang berpakaian pelayan, bertanya keadaan babas.


dinda langsung melepaskan cengkraman pada leher babas. merapihkan kembali gaun yang sempat berantakan, serta merapihkan rambut yang udah acak-acakan.


"uhuk...uhuk.. babas terbatuk." memegangi lehernya yang terasa tercekat.


"untung bibik dateng, kalo gak bisa mati keabisan napas saya." ucap babas


dinda melotot pada babas, lalu menjitak kepala babas.


"au... adi..." teriak babas


"gak bisa apa kalo gak jitak gue, mending lu cium gue aja gitu, kan gak sakit, malah enak."


dinda malah meninju perut babas, bug...


"gile..., si hulk ngamuk," ucap babas menahan sakit di perutnya


bibi yang melihat, malah cengir-cengir.


"saya gak papa bik, bibik bisa tolong ambilkan saya air mineral." pinta babas


"baik tuan kecil." jawab bibik, lantas segera pergi mengambil air yang di minta babas.


"adi, lu itu perempuan apa bukan sih? gak ada manis-manisnya, singa aja kalah garang sama lu."


babas duduk di sofa, napasnya masih ngos-ngosan akibat kejar-kejaran dan belum lagi perutnya yang kena bogem sama dinda.


babas mengambil hp nya dengan rasa kesal.


"kalo gue mati gimana?" tanya babas


"tinggal kasih makan ikan," jawab dinda asal


"buset dah... mahal tu ikan ya sekilonya, makannya cowok ganteng kaya gue," sahut babas


"tuan kecil, ini minumnya," bibi datang membawa air yang di minta babas.


babas mengambil minum itu, "makasih bi." lalu langsung meminum air itu hingga habis.


bibik sudah pergi meninggalkan babas dan dinda.


"gaya lu bas, dipanggil tuan kecil." ejek dinda


"bukan gue yang mau, nyokap gue tuh yang buat aturan." sahut babas.


÷÷÷÷÷


"gue juga gak nyangka kalo sahabat bokap gue itu ayah lu." ucap babas


"tadi sih bokap emang ngomong mau kenalin anak sahabatnya, tapi gue lebih gak nyangka kalo lu orangnya."


"kok lu gak pernah ngomong lu anak om bram. anak-anak yang lain pada tau gak?" tanya dinda


babas menggeleng, "buat apa di, gue gak suka nanti orang temenan sama gue gara-gara nama besar bokap gue."


"iya sih, emang, sama, gue juga gitu. males banget pake embel-embel nama bokap.


udah kaya anak ratu inggris aja gue, kemana-mana di kawal bodyguard terus pada hormat. cape deh.."


"nah itu lu tau, lu jangan bilang-bilang ya sama yang lain." pinta babas


"gak janji." jawab dinda singkat


"awas kalo lu sampe ngomong, gue ceritain kejadian malem ini ama si salsa. lu tau sendiri kan mulut salsa, dalam hitungan detik pasti langsung nyebar keseluruh penjuru sekolah."


"berani lu ngancem gue?" tanya dinda nantang


"ya kalo terpaksa mau gimana," sahut babas


ck.. "dasar lu singkong dekil."


"permisi tuan keci, di cari nyonya sama tuan besar." bibik memberitahu.


"iya bik, nanti saya ke sana ya." ucap babas.


"yuk ah, kita samperin bokap nyokap, nanti kalo kelamaan dikira lu perkosa gue lagi." ucap babas


"dihh... gak napsu gue bas, singkong dekil," ledek dinda


babas tertawa ngakak.


dinda bejalan mendahului babas, buat nemuin orang tua mereka.


"dekil tapi legit di," babas makin ngeledek


"cebong, buru lah. nanti beneran gue perkosa juga lu." ancem dinda


"tuu.... kan bener, jangan apa-apakan aku, aku masih sucih," babas bergaya kaya gadis polos dicentil-centilin.


"napsu juga kan lu sama gue di." babas makin menjadi


"dari pada ngeladenin lu, mending gue ngomong sama tembok bas."


"di... tungguin lah." babas berjalan cepat mengejar dinda yang sudah hampir jauh darinya.


÷÷÷÷÷


"papah lihat, kalian udah akrab ni?" tanya om bram pada dinda dan babas


"gitu deh pah, papah kan tau pesona anak papah ini, mana ada cewek yang bisa lepas, pasti kelepek-kelepek dong pah." babas membanggakan dirinya.


"hemm... si kupret ngebual lagi." maki dinda dalam hati


"auch..." babas menjerit saat dinda menginjak kakinya.


dinda hanya nyengir tak merasa bersalah.


"kenapa kamu tino?" tanya tante sinta


"gak papa mah, ini kaki tino di gigit semut," babas bohong tuh... biasa buat nutupin rasa malu. masa iya kalah sama perempuan. harga diri bro, mau taro dimana.


"ya udah cuci kaki sana, jangan lupa pake sabun. minta bibik obatin pake salep." tante sinta memperlakukan babas bak anak balita


"kalo nanati kaki kamu gatel kan mamah yang repot tino," ucap tante sinta.


dinda sudah menahan tawanya. ternyata cowok tengil, mulut besar, anak ketek emak juga. karena gak tahan dinda sampai menggigit bibir bawahnya sendiri menahan tawa yang sudah akan meledak.


"sial, mamah apaan sih, ancur dah, lebih bagus muka gue ditendang ke pelanet mars aja. abis besok gue di olok-olok sama si hulk." babas sudah menepuk jidatnya.


babas mengambil langkah seribu, meninggalkan tempat, dan sekalian pamit sama bunda dan ayah.


"anak jeng sinta lucu ya," ucap bunda.


"iya, si tino itu memang manja, tidur aja kadang masih suka ngemut jempol, kalo hujan petir malah minta temenin saya tidurnya. mungki karena dulu kepingin banget anak perempuan ya jeng, eh... pas lahir malah jagoan lagi. ya mau gimana lagi, udah lahir ya diterima aja apa yang di kasih tuhan."


dinda makin menahan tawanya, sungguh perutnya udah sakit. bagai dapat durian runtuh. rahasia terbesar seorang bastino terungkap jelas di depan matanya.


ini semua berkat tante sinta. nyokap babas yang mulutnya ceplas ceplos.


"lah jeng, bersyukur tino manja gitu. nah ini si dinda, anak perempuan tapi ampun saya, kelakuannya udah lebih parah dari anak laki. pake gaun aja tadi perang urat dulu sama saya."


"astaga bunda.. ternyata mulutnya emak-emak sama aja, gak ada yang bisa lawan. untunga aja si babas udah pergi, kalo gak, ahh... gak ngebayangin mulut comel si babas besok di sekolah."