
Tepat jam 5 sore, Irina dan Allegra baru kembali dari salon. Dua wanita cantik berbeda usia itu terlihat anggun dan semakin glowing setelah melakukan perawatan yang menghabiskan dana tidak sedikit.
Aslan sudah menunggu di halaman rumah, sejak siang tadi mondar mandir dengan resah, di tambah lagi perutnya terus bergejolak seperti di aduk-aduk yang terus menyiksanya karena harus bolak-balik ke kamar mandi. Melihat istrinya keluar dari mobil, Aslan langsung berlari pada istrinya lalu memeluk dengan erat.
"Sayang, aku merindukanmu. Kenapa lama sekali?!" protes Aslan sambil mendekap istrinya dengan erat.
"Maaf, tapi lepaskan aku dulu. Aku nggak bisa nafas," pinta Irina pada suaminya.
"Eh, iya, aku terlalu bersemangat. Tapi, aku nggak mau melepaskanmu, aku ingin terus memelukmu seperti ini." Aslan hanya melonggarkan pelukannya, seraya menelusupkan wajahnya ke leher istrinya, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu membuatnya tenang.
Irina menghela nafas panjang, pasrah dengan sikap suaminya. Dan juga sabar menghadapi suaminya yang super manja.
Allegra sejak tadi menjadi saksi bisu ke romantisan pasangan suami istri itu pun berseru, "dasar bayi besar!"
Aslan menatap ibunya sejanak sambil menjulurkan lidahnya, "Mama sudah menculik istriku seharian! Padahal aku nggak bisa jauh dari Irina. Cucu Mama sangat keterlaluan karena telah membuat Daddy-nya ini mual sepanjang waktu, dan akan merasa tenang kalau berada di dekat mommy-nya," jelas Aslan dengan nada kesal, lalu mengusap perut istrinya yang masih rata.
"Ya ... ya, karena kau pantas mendapatkannya!" jawab Allegra seraya berjalan mendekati Irina, lalu menundukkan setengah badan, menjajarkan wajahnya dengan perut Irina. Dia mengelus perut menantunya itu sambil berkata, "Cucu Oma memang sangat hebat, dan siksa Daddy-mu sampai lemas, he he he."
"Ma!" tegur Aslan, karena tidak terima dengan perkataan ibunya.
"Apa?" jawab Allegra seraya menaikkan kedua bahunya bersamaan, menatap acuh pada putranya, lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah santai.
"Sayang, jangan marah-marah terus," ucap Irina menenangkan suaminya yang terlihat sangat kesal.
"Bagaimana aku tidak marah kalau ..." ucapan Aslan terhenti saat Irina mencium bibirnya.
"Apakah kau sudah merasa lebih baik?" tanya Irina setelah ciuman itu terlepas.
"Sekarang malah jauh lebih buruk. Cacing raksasa yang bersembunyi di balik boxer-ku mulai bangun dan ingin di puaskan. Kau harus bertanggung jawab, Sayang," bisik Aslan tepat di dekat telinga istrinya.
Irina tersenyum mendengarnya, "kalau begitu kita harus ke kamar sekarang," balas Irina berbisik seraya mengerlingkan sebelah matanya pada suaminya.
Aslan mendengarnya pun senang bukan kepalang, kemudian segera menarik tangan istrinya ke dalam rumah, menuju kamar mereka.
*
*
"Ayang, apakah aku sudah cantik? Emh ... bagaimana penampilanku? Apakah sudah sopan?" tanya Meyda pada Dimas yang sedang fokus menyetir mobil.
Dimas tersenyum, menoleh sesaat pada wanita cantik di sampingnya ini. "Kau sudah sangat cantik dan sopan, aku menyukai penampilan barumu ini," jawab Dimas jujur, seraya menatap kekasihnya yang memakai pakaian tertutup. Meyda hari ini memakai blouse lengan panjang berwarna putih, yang di padukan dengan celana jeans panjang berwarna hitam. Penampilan Meyda sangat berbeda seperti biasanya yang selalu memakai pakaian terbuka.
"Serius? Tapi, aku merasa tidak nyaman," jawab Meyda seraya menyisir rambut panjangnya yang kini berwarna hitam legam, karena sebelumnya rambut Meyda berwarna rose gold.
"Kau harus membiasakan diri, Sayang," ucap Dimas seraya mengusap pucuk kepala kekasihnya dengan lembut.
"Apa pun untukmu, Ayang," jawab Meyda tulus.
Untuk sesaat mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Meyda memikirkan tentang tanggapan kedua orang tua Dimas. Sedangkan Dimas saat ini membayangkan menikah dengan Meyda lalu mempunyai anak yang lucu-lucu dan menggemaskan.
"Ayang, apa kita membeli buah tangan dulu untuk kedua orang tuamu? Maksudku, nggak enak 'kan kalau bertemu dengan orang tuamu tapi tidak membawa apa-apa, paling tidak pertemuan pertamaku dengan orang tuamu harus memberikan kesan yang baik," ucap Meyda pada Dimas.
"Sayang, kedua orang tuaku sangat baik. Mereka tidak membutuhkan oleh-oleh dari kita, karena mereka tidak terlalu menyukainya." Jawaban Dimas membuat Meyda merasa heran, tapi dia tidak mau ambil pusing. Bisa jadi kedua orang tua Dimas memang tidak suka oleh-oleh.
"Kita hampir sampai," ucap Dimas, menoleh dan tersenyum pada Meyda.
Meyda mengangguk pelan sebagai jawaban, sembari meremas kedua tangannya secara bergantian, pasalnya rasa gugup kembali melanda perasaannya.
*
*
Dimas dan Meyda berdiri berjajar, kedua mata mereka terpaku menatap ke arah depan. Meyda mengusap air matanya yang deras membasahi pipinya, kemudian beralih menatap Dimas dengan pandangan penuh kesedihan.
"Ayah, Ibu, aku harap kalian memberikan restu kepada kami. Ini adalah Meyda, calon istriku. Dia wanita yang sangat cantik, baik, dan sempurna. Aku sangat tergila-gila padanya."
Meyda menggeser posisi berdirinya, mendekati Dimas. Dia meraih salah satu tangan pria tersebut lalu menggenggamnya dengan erat.