1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Maldives



Maldives.


Dimas dan Meyda telah sampai di Maldives tepat jam 6 pagi waktu setempat. Kedua orang itu mengikuti petugas hotel yang menuntun mereka ke hotel yang sudah di reservasi oleh Aslan.


"Wah!" Meyda menatap takjub pada kamar hotel yang akan mereka tempati selama 1 minggu ke depan. Di tambah lagi kamar hotel tersebut menghadap langsung laut yang menampakkan keindahannya.


"Tempat tidurnya cuma satu?" tanya Meyda pada Dimas ketika petugas hotel sudah keluar dari sana.


"He-em, kayaknya kita harus berbagi ranjang." Dimas berkata sambil mengerlingkan sebelah matanya sembari merebahkan diri ke atas ranjang yang bertaburan dengan ribuan kelopak bunga mawar merah.


"Ih! Ogah! Mendingan tidur di sofa!" jawab Meyda, kedua matanya terarah ke sofa panjang yang letaknya di dekat jendela.


"Ayolah! Barangkali kalau kita tidur bersama bisa menghasilkan bayi yang lucu-lucu," ucap Dimas sangat absurd seraya mengusap-usap permukaan tempat tidur di sampingnya yang kosong, sembari menatap Meyda dengan mesum.


Meyda mengerutkan alisanya, beberapa detik kemudian kedua matanya membola sempurna, ekspresi wajahnya terlihat geli kemudian segera merebahkan diri sofa guna melepaskan rasa lelah dan jetlag yang melanda setelah menempuh perjalanan selama hampir 9 jam.


"Mey, ayolah!" bujuk Dimas dengan nada menggoda.


"Nggak!" jawab Meyda seraya mengubah posisi tidurnya yang telentang menjadi miring, membelakangi Dimas yang tidur di ranjang.


"Mey! Kamu nggak mau jalan-jalan di sekitar pantai?" tanya Dimas lagi.


"Jangan ganggu aku, Dimas! Aku capek, mau tidur!" sahut Meyda kesal sembari menutup telinganya dengan bantal sofa, berharap kalau suara Dimas tidak menembus gendang telinganya.


"Mey ... Meyda ..." panggil Dimas lagi, tapi sayang wanita berdarah tionghoa itu sepertinya sudah terlelap karena tidak menyahut. Punggung wanita itu juga terlihat naik turun dengan teratur, menandakan kalau dia sudah pulas.


Dimas melirik jam dipergelangan tangannya, menunggu 15 menit lagi, setelah itu dia akan memindahkan Meyda ke atas ranjang.


*


*


Sementara itu.  Aslan saat ini sedang merasakan suasana di Desa yang sangat asri dan sejuk. Dia belum pernah menghirup udara segera seperti ini.


"Betah ... Betah banget malahan! Pantes saja kamu kabur selama tiga bulan, ternyata di Desa sangat menyenangkan," jawab Aslan meledek istrinya, seraya mengambil sepotong buah mangga muda lalu mencocolkan ke garam. Aslan memasukkan sepotong mangga itu ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya dengan rakus.


Air liur Irina langsung penuh di mulut ketika melihat makan mangga muda yang pastinya sangat asam.


"Pagi-Pagi sudah ngerujak aja, apa nggak mules perutnya?" tegur Ibu Panti yang baru pulang dari pasar.


Aslan tersenyum lalu beranjak dari duduknya membantu membawa barang belanjaan ibu panti yang lumayan banyak, masuk ke dalam rumah. Irina menatap ibu panti dan suaminya yang terlihat sudah akrab padahal mereka baru bertemu. Irina bersyukur akan hal itu, karena Aslan di terima dengan baik.


"Jangan makan mangga di pagi hari. Kamu sudah makan nasi belum?" tanya bu panti ketika sudah sampai di dapur.


"Sudah, Bu, tadi Irina memasak nasi goreng sekalian untuk anak-anak," jawab Aslan seraya meletakkan tas belanjaan yang dia bawa ke atas meja dekat kulkas.


"Maaf ya, makanan di sini nggak mewah kayak di rumah kamu." Ibu panti tidak enak hati pada Aslan.


"Nggak apa-apa, Bu," jawab Aslan menenangkan.


"Kamu biasanya makan daging, eh di sini malah makan tempe sama tahu," sahut Ibu panti lagi sambil membongkar barang belanjaannya. "Ini belanja buat satu minggu, jadi belanjaannya banyak, soalnya pasar di sini hanya buka 1 minggu sekali," jelas Ibu panti pada Aslan.


"Kenapa nggak buka setiap hari, Bu?" tanya Aslan.


"Sudah ketentuan dari Kepala Desa kayak gitu. Jadi di sini pasarnya bukanya hanya di setiap hari kliwon saja," jelas Ibu panti.


"Kliwon? Apa itu?" tanya Aslan tidak paham dengan bahasa jawa.


"Hari Kliwon itu adalah hari kelima dalam pasaran jawa," jelas Ibu Panti.


"Oh, begitu," jawab Aslan tidak paham sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


😅