1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Maju Ke Depan



Dimas dan Meyda menikmati liburan dengan penuh kebahagiaan. Bercinta adalah salah satu rutinitas yang sering mereka lakukan di kala waktu senggang. Keduanya seolah tidak pernah merasa bosan, melakukannya lagi dan lagi tanpa rasa lelah.


"Besok kita harus kembali ke Jakarta," ucap Dimas pada Meyda yang masih berada di bawah kungkungannya. Mereka baru saja selesai melakukan percintaan yang panas di ruang santai. Bahkan penyatuan mereka saja belum terlepas, senjata Dimas masih tertancap sempurna di lembah milik Meyda.


"Iya, aku udah nggak sabar pulang," jawab Meyda seraya mengatur nafasnya yang masih terengah.


"Nggak sabar?" Dimas mengulangi perkataan Meyda, seraya menatap wajah cantik Meyda dengan lekat.


"Hu-um, pengen istirahat. Lagian di sini capek banget, nggak bisa menikmati liburan!" kesal Meyda seraya memanyunkan bibirnya.


Dimas tertawa pelan, kini dia paham maksud dari ucapan Meyda yang ingin segera pulang ke Jakarta.


"Kamu nggak suka?" tanya Dimas, seraya mencabut penyatuan mereka, lalu menggulingkan badannya ke sisi kiri, dan merebahkan diri di samping Meyda.


"Suka, kok ... suka banget malahan, tapi kamu sudah keterlaluan. Masa sehari lebih dari 4 ronde. Lemes ini dengkul!" sungut Meyda, seraya menatap sebal pada pria yang kini memeluknya dari samping. Dinginnya lantai hotel tidak membuat keduanya beranjak dari sana, justru hal itu membuat mereka betah rebahan di sana. Ya ... keduanya tadi bercinta di atas lantai, di ruang santai. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan tidak akan pernah terlupakan untuk keduanya.


"Habisnya enak sih. Kamu udah jadi canduku," jawab Dimas, mengecup pipi Meyda dengan mesra. "Sampai di Jakarta kita langsung menikah ya," ajak Dimas dengan semangat.


Meyda terkejut mendengar ajakan Dimas. Dia menatap Dimas dengan penuh keraguan. Bukan ragu tentang perasaannya, tapi ragu dan takut jika keluarga Dimas tidak menerimanya.


"Emh ... keluargamu bagaimana? Pasti mereka menginginkan wanita baik-baik untuk menjadi menantunya," cicit Meyda, tidak percaya diri.


"Entahlah, aku merasa tidak yakin dan takut, tapi tidak ada salahnya di coba untuk menemui mereka lebih dulu," jawab Meyda, memandang Dimas dengan tatapan ragu, dan takut.


Dimas menganggukkan kepala, "sampai di Jakarta, aku akan mengenalkanmu pada mereka," ucap Dimas.


"Secepat itu? Tapi, aku butuh persiapan," protes Meyda seraya mendudukkan diri, perasaannya sangat cemas dan khawatir.


"Bukankah lebih cepat lebih baik? Ayolah, Mey ... jangan banyak berpikir. Apalagi kita sudah melakukannya, dan pastinya benihku akan segera berkembang di rahimmu," jelas Dimas, ikut mendudukkan diri, merengkuh pundak Meyda dengan mesra, memeluk wanita itu dengan penuh kehangatan.


Meyda terdiam, memikirkan perkataan Dimas yang ada benarnya. Dia sudah melakukannya berulang kali dengan Dimas. Apalagi dia sudah tidak pernah menimum pil pencegah kehamilan semenjak dia sudah tobat dari pekerjaannya, dan pastinya rahimnya saat ini subur, apalagi satu minggu yang lalu dia baru selesai haid.


Meyda menggigit bibir bawahnya, dia ingin melangkah maju bersama Dimas, tapi dia takut mendapatkan penolakan dari keluarga pria tersebut. Meyda memejamkan matanya dengan erat, bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia harus tetap maju atau mundur?


Setelah beberapa saat berperang batin, akhir Meyda mendapatkan jawaban.


"Baiklah, aku mau bertemu dengan orang tuamu. Tapi, aku mohon tetap di sampingku, dan genggam erat tanganku ini," pinta Meyda pada Dimas, seraya meraih tangan Dimas lalu menggenggamnya dengan erat.


"Tentu, Sayang," jawab Dimas tersenyum lembut pada wanita yang di cintainya ini.


"Terima kasih." Meyda membalas senyuman Dimas tak kalah lembut.