1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Keracunan



Bi Inah berinisiatif menghubungi kedua orang tua Aslan, karena dia sangat kasihan kepada majikannya itu yang tidak berdaya di atas tempat tidur.


Allegra dan Gerry datang ke rumah putranya dengan langkah tergesa karena cemas dan panik bercampur menjadi satu, mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Aslan.


"Bi!" seru Allegra sambil menaiki anak tangga.


Bi Inah yang sedang membuat bubur di dapur pun segera meninggalkan pekerjaannya, lalu berlari menuju sumber suara yang memanggilnya.


"Iya, Nyonya," sahut Bi Inah dari dapur sambil membawa centong di tangannya.


"Aslan kenapa? Kenapa bisa sampai sakit?" tanya Allegra menatap Bi Inah yang berada di lantai bawah, sedangkan dirinya berada di tengah tangga.


"Saya juga tidak tahu, Nyonya. Tuan Aslan sudah beberapa hari ini sakit dan sama sekali tidak mau makan, badannya lemas dan wajahnya juga sangat pucat. Mungkin karena Tuan Aslan saat ini sedang merindukan Nona Irina," jawab Bi Inah.


"Heleh! Berarti dia sedang sakit malarindu! Dasar anak muda zaman sekarang suka berlebihan!" cibir Allegra seraya melanjutkan langkahnya lagi dan diikuti oleh suaminya.


Bi Inah mendongak menatap pasangan suami istri itu yang sedang menaiki anak tangga. lalu diamenaikkan kedua bahunya secara bersamaan, kemudian dia kembali ke dapur untuk melanjutkan membuat bubur.


"Aduh!!!! Gosong!!" pekik Bi Inah saat melihat bubur yang ada di dalam panci mengering dan tercium aroma gosong, karena dia lupa mengecilkan api. Dengan terpaksa Bi Inah membuat bubur yang baru dari awal lagi.


*


*


Allegra dan Gerry memasuki kamar putranya tanpa mengetuk pintu. Mereka berdua melihat Aslan terbaring lemat di atas tempat tidur mewah.


"Sayangnya Mama kenapa sakit?" tanya Allegra dengan nada sedih dan berjalan menghampiri putranya. Sedangkan Gerry terlihat tetap tenang, berjalan santai sambil menyimpan kedua tangannya ke dalam kantong celana, pria yang usianya sudah tidak muda lagi itu terlihat sangat tampan, matang dan berwibawa.


"Alle, jangan berlebihan," sahut Gerry seraya memutar kedua matanya dengan malas, sebal kalau melihat istrinya berdekatan dengan putranya, lebih tepatnya dia cemburu kalau Allegra memperhatikan pria lain meski putranya sendiri. Terdengar sangat keterlaluan, tapi itulah Gerry, semakin tua, semakin posesif pada istri tercintanya.


"Berlebihan kau bilang? Di mana hati nuranimu sebagai seorang ayah?!" kesal Allegra menjawab komentar suaminya yang julid.


"Aku tidak mempunyai hati nurani untuk kedua putra kita, karena mereka sudah besar, bukan anak kecil lagi!" jawab Gerry tak kalah kesal.


Allegra hanya menatap jengkel suaminya, dan tidak nafsu membalas ucapan Gerry yang terdengar menjengkelkan itu, lebih baik dia diam saja, karena jika terus membalas maka akan berujung berdebat panjang.


"Ma, Pa, kalian berisik!" protes Aslan dengan nada pelan dan kedua mata terpejam.


"Dasar anak nggak tahu diri! Seharusnya kamu berterima kasih pada orang tuamu yang masih perhatian sama kamu!" umpat Gerry sambil menarik salah satu kaki putranya yang tertutup selimut. "Bangun! Jangan jadi pria yang lemah dan lembek seperti ini!" seru Gerry pada Aslan yang meronta sambil menggerakkan kedua kakinya dengan kasar dan tidak beraturan, seperti anak kecil yang sedang marah karena tidurnya di ganggu.


"Mama!" rengek Aslan, mengadu pada ibunya.


"Gerry! Lepaskan kaki putraku!" omel Allegra menatap jengkel pada suaminya.


"Ck! Kali ini kau menang, Boy!" umpat Gerry seraya melepaskan salah satu kaki putranya dengan kasar, kemudian ia mendengus sambil melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di dalam kamar tersebut.


"Astaga! Sudah tua tapi tidak tahu diri!" Allegra berkacak pinggang, menatap suaminya tajam.


"What? Aku tidak melakukan apa pun, dia saja yang lebai!" balas Gerry dengan santai sambil mendudukkan diri di sofa.


"Kalian pergi saja kalau hanya ingin berdebat di sini! Membuat kepalaku semakin pusing, dan mual!" usir Aslan seraya beranjak dari tempat tidur lalu berlari ke kamar mandi ketika merasakan perutnya kembali bergejolak.


"HOEK!"


Allegra segera menyusul putranya ketika mendengar suara muntahan dari kamar mandi. Dia menatap putranya yang terlihat tersiksa memuntahkan isi perut di wastafel.


"Sayang, kamu kenapa? Masuk angin?" tanya Allegra cemas, seraya memijat tengkuk putranya.


"Entah, tapi sepertinya aku keracunan, Ma," jawab Aslan dengan nada pelan.


"Hah? Keracunan apa?!" Allegra semakin syok mendengarnya, dan memanggil suaminya agar segera menghubungi dokter.


***


Keracunan anu ya, As 🤣😂