1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Sebesar biji kacang hijau



"Maaf, Dim, kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dari aku. Karena aku nggak pantas buat kamu." Meyda sadar diri dengan kondisinya yang merupakan mantan wanita malam. Meski dia sudah meninggalkan dunia malam, tapi jejaknya akan selalu diingat dan tidak akan berubah dan tetap buruk di mata orang lain meski dia sudah tobat menjadi wanita baik.


"1000 kali kamu menyuruhku untuk menjauh maka aku akan terus bertahan untuk meyakinkanmu kalau kamu adalah wanita yang layak untuk aku cintai dan pertahankan. Percaya padaku, Mey. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku," ucap Dimas, memohon pada Meyda.


Meyda menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban kalau dia menolak Dimas.


Dimas menghela nafas panjang. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kembali di tolak oleh Meyda, tapi hal itu tidak akan mematahkan semangatnya. Dia akan tetap mengejar cintanya.


Meyda melanjutkan membereskan lapaknya, tanpa memedulikan Dimas lagi. Hatinya juga sakit dan menderita karena sudah menolak pria setulus Dimas, tapi mau bagaimana lagi, Dimas adalah pria yang baik dan tidak pantas untuk wanita kotor seperti dirinya.


*


*


 Di sisi lain, masih di Kota yang sama hanya saja berbeda lokasi. Aslan saat ini sedang membereskan semua pakaiannya ke dalam. Dokter dan perawat melarang Aslan agar tidak pergi karena kondisinya belum stabil, tapi Aslan tidak menghiraukannya.


"Aslan, dengarkan kata dokter kalau kamu belum sehat," ucap Irina membujuk Aslan yang masih terlihat pucat.


"Apakah kamu mau aku mengatakan kepada dokter kalau aku mampu bercinta denganmu selama 1 jam lebih?!" Ancam Aslan pada Irina yang sejak tadi melarangnya keluar dari rumah sakit tersebut.


Mendengar ancaman Aslan, tentu saja Irina langsung kicep dan memundurkan langkahnya.  Dia menatap Aslan dengan sebal karena pria tersebut telah membuatnya mati kutu.


Aslan tersenyum miring, puas melihat Irina tidak lagi berbicara.


"Tuan Aslan, ada baiknya, Anda harus tetap di rumah sakit ini karena kondisi Anda belum stabil," ucap dokter berusaha membujuk Aslan agar tidak keluar dari rumah sakit saat itu juga.


"Aku sudah sembuh, karena obatku sudah datang! Dokter tidak perlu khawatir lagi dengan kesehatanku!" jawab Aslan dengan nada angkuh dan kesal.


Aslan menatap dokter pria itu, kemudian dia merangkul pundak Irina dengan posesif. "ini adalah obatku, dan asal dokter tahu aku lemas, mual, muntah dan sampai tidak berdaya karena ulah calon penerusku." Aslan berkata dengan penuh bangga sembari mengelus perut rata Irina dengan penuh lembut dan penuh kasih sayang.


Dokter dan perawat di sana sangat terkejut mendengar penjelasan Aslan yang menyatakan kalau wanita di sampingnya itu tengah hamil. Padahal mereka berdua tahu kalau Aslan adalah seorang duda dan belum menikah lagi sampai sekarang, tapi mereka berusaha bersikap biasa dan menyembunyikan rasa terkejut mereka.


"Aslan!" Irina berbisik kesal, seraya menepis tangan Aslan yang masih asyik mengelus perutnya. Dia merasa malu dengan tingkah Aslan yang menjengkelkan.


"Oh, pantas saja, Anda sangat mual parah, itu karena Anda sedang mengalami sindrom couvade. Kalau begitu selamat Tuan, dan Anda bisa pulang sekarang juga, karena rasa mual dan pusing Anda tidak akan sembuh sampai kehamilan kekasih Anda melewati trimester pertama." Dokter menjelaskan sambil tersenyum lebar.


"Apa maksudmu?!" tanya Aslan tidak paham tentang trimester pertama.


"Trimester pertama adalahtahapan kehamilan yang terjadi selama 13 minggu atau kira-kira 3 bulan. Jadi, kurang lebih Anda akan mengalami mual dan pusing selama itu, dan itu pun kalau Anda beruntung, karena Anda bisa merasakan mual dan muntah sampai bayi Anda lahir kedunia." Penjelasan dari dokter membuat Aslan terkejut bukan kepalang.


"Anda pasti berbohong! Jadi aku harus mengalami mual dan pusing selama itu?!" Aslan tidak terima dengan penjelasan tersebut.


"Wah! Baru sebesar biji kacang tanah saja sudah menyusahkan aku!" lanjut Aslan ketika melihat dokter tersebut menganggukkan kepala dengan pasti.


"Apa kau bilang? Sebesar biji kacang hijau?!" Protes Irina menatap tajam Aslan, kedua rahangnya mengeras, karena tidak terima calon bayinya di samakan dengan biji kacang hijau.


Aslan menjadi kelabakan menghadapi kemarahan Irina.


***


Jangan lupa like, dan kasih dukungannya ya bestie semuanya😍😘