1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Bertemu dengan mantan mertua



"Irina sayang, jangan marah dong." Aslan mengejar Irina yang berjalan mendahuluinya keluar dari ruang rawatnya. Aslan sambil menenteng tasnya, ia terus mengejar Irina seraya memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.


"Lepas!" Irina menepis tangan Aslan yang akan memegang lengannya saat mereka berada di depan lift yang masih tertutup.


"Oke, aku minta maaf karena sudah menyinggung calon bayi kita. Jangan marah lagi, Sayang." Aslan meraih salah satu tangan Irina dengan lembut lalu memegangnya dengan erat, seolah taku kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Ya, Aslan sangat takut kalau Irina kembali meninggalkannya.


"Maafkan aku, Sayang," ucap Aslan lagi lalu mengecup punggung tangan Irina dengan mesra.


Irina mengerucutkan bibirnya sambil melirik Aslan dengan tatapan manja, kemudian menganggukkan kepalanya pelan, bertanda kalau dia memaafkan Aslan.


Aslan tersenyum lalu merangkum pundak Irina dengan mesra. Sedangkan Irina langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Aslan. Pasangan itu berdiri di depan lift yang masih tertutup. Mereka berdua terlihat sangat bahagia tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar sana.


Pokoknya kalau sudah jatuh cinta dunia seraya milik berdua, dan ta*k ayam juga rasanya kayak coklat. 🤣


TING


Tak berselang lama pintu lift terbuka. Irina dan Aslan menepi memberikan akses pada beberapa orang yang akan keluar dari lift tersebut. Tatapan Irina tiba-tiba terpaku pada seorang wanita paruh baya terlihat kurus keluar paling belakang dari lift tersebut.


"Ibu," gumam Irina namun masih di dengar oleh Aslan yang memeluknya.


"Siapa?" tanya Aslan pada Irina, lalu mengikuti arah pandangan Irina yang menatap wanita paruh baya berjalan melewati mereka berdua, sepertinya ibu Nining tidak menyadari keberadaan mereka.


"Ibunya Mas Yoga," jawab Irina.


Irina mendongak menatap Aslan dengan tatapan memohon, "aku boleh nggak bertemu dengan Ibu? Kali ini saja," ucap Irina.


"Nggak!" jawab Aslan dengabn tegas, dan tidak mau di bantah, lalu menarik tangan Irina menuju lift, akan tetapi wanita tersebut malah menahannya.


"Please," mohon Irina lagi pada Aslan.


Aslan menghembuskan nafas kasar,  menatap Irina dengan tatapan jengkel.


"Aku tahu, kalau mereka sudah jahat kepadaku, tapi apakah aku harus membalas kejahatan mereka? Biar bagaimana pun kita hanyalah manusia biasa yang sudah sepatutnya untuk memaafkan," jelas Irina berharap kalau Aslan pengertian kepadanya.


"Kamu sengaja ingin bertemu dengan mantan ibu mertuanya agar bisa melihat mantan suamimu yang penyakitan itu! Permohonanmu itu sama saja nggak mengerhargai perasaanku!" balas Aslan lalu masuk ke dalam lift sendiri, tanpa memedulikan Irina lagi. Rasa cemburu dan kesal bercampur di dalam dadanya.


Melihat Aslan sangat murka, akhirnya Irina mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan bu Nining. Dia langsung masuk ke dalam lift, berhadapan dengan Aslan lalu memeluk pria tersebut dengan sangat erat.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku tidak akan menemui bu Nining atau Yoga kalau kamu tidak mengizinkan," ucap Irina lalu mendongak, menatap Aslan yang masih terlihat marah kepadanya, karena pria itu langsung memalingkan pandangan saat dia memandang wajah Aslan yang tampan.


"Aslan, jangan marah ya.," bujuk Irina.


Ish, baru saja mereka berbaikan, tapi malah bertengkar lagi, dan sekarang gantian Aslan yang marajuk.


*


*


Bu Nining, bukan tidak melihat Irina dan Aslan saat di depan lift, hanya saja dia merasa malu pada mereka berdua, maka dari itu bu Nining lebih memilih pura-pura tidak melihat.


"Ibu kenapa lama sekali?" tanya Yoga dengan suara pelan.


Pria itu terbaring lemah di atas tempat tidur, dengan keadaan yang lebih memprihatinkan. Badannya tinggal tulang dan kulit, serta perutnya semakin membesar dan kedua mata menguning.


"Ibu tadi ketemu sama Irina," ucap bu Nining sambil meletakkan buah apel di atas nakas. Di dalam ruang rawat tersebut ada tiga pasien lain, tapi jarak mereka hanya di sekat dengan kain gordeng.


"Irina? Di mana, Bu? Aku ingin ketemu sama dia." Yoga sangat senang mendengarnya, dia berharap kalau Irina mau kembali padanya.


"Terlambat, dia sudah bahagia dengan pria lain! Jangan menyesal, karena semua ini sudah menjadi keputusanmu!" jawab bu Nining dengan nada kesal. Rumah dan tanah warisan dari suaminya sudah terjual habis untuk biaya rumah sakit Yoga. Bu Nining tinggal di rumah sakit selama yoga  di rawat di sana. Untuk makan sehari-hari, bu Nining bekerja menjadi tukang sapu jalanan.