1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Sampai di Desa



Irina meminta Aslan untuk membantu pengobatan Yoga. Awalnya Aslan menolak, akan tetapi melihat permohonan istrinya dan mengingat Yoga menjadi seperti ini lagi karena ulahnya, maka dari itu dia pun akhirnya menyetujui permintaan istrinya.


Ibu Nining sangat berterima kasih pada Irina dan Aslan yang sudah berbaik hati mau membantu pengobatan Yoga. Dia menjadi malu sendiri karena dulu pernah meremehkan dan berbuat jahat pada Irina.


"Irina ..." lirih Yoga menatap mantan istrinya dengan sendu.


"Cepat sembuh ya," ucap Irina seraya tersenyum tulus.


"Maaf," ucap Yoga pada Irina dengan suara yang tak begitu jelas.


"Kita saling memaafkan ya, karena aku dulu juga berbuat salah denganmu. Menempuh jalan pintas untuk kesembuhanmu. Dan benar katamu jika uang haram tidak ada artinya sama sekali ," ucap Irina seraya menatap kondisi Yoga yang semakin parah.


Yoga menangis terisak mendengar ucapan Irina.


"Sudah cukup, Sayang. Kita harus segera pergi," ajak Aslan pada Irina yang sudah menangis sedih. Aslan tidak ingin kalau Irina larut dalam kesedihan dan mengingat masa lalunya yang kelam.


Irina mengangguk lalu berpamitan pada bu Nining dan Yoga.


Pasangan suami istri itu keluar dari area rumah sakit, dan tujuan selanjutnya adalah Bandara. Mereka berangkat menggunakan Jet Pribadi menuju Desa.


Menempuh perjalanan selama 2 jam diudara, lalu dilanjut perjalanan melalui jalur darat dari bandara Kota Semarang menuju Desa membutuhkan waktu 2 jam lebih.


"Jauh sekali. Kenapa kau bisa hidup di Desa terpencil seperti ini?!" gerutu Aslan sambil memegangi leher lalu beralih memegang pinggangnya yang terasa sangat pegal.


"Sabar ... lagi pula tinggal di desa itu sangat menyenangkan," jawab Irina tersenyum pada suaminya.


"Menyenangkan apanya!" gerutu Aslan lagi sambil menyandarkan punggungnya ke jok mobil tersebut.


"Aslan, mobil ini terlalu mewah, nanti pasti akan menimbulkan kehebohan para warga Desa," ucap Irina pada suaminya.


Aslan dengan cepat menutup mulutnya, dan mencari kantong plastik.


"Huekkk!!" Aslan memuntahkan semua isi perutnya di kantong plastik tersebut. Irina dengan sigap memijat tengkuk suaminya dengan lembut.


"Kenapa mual lagi?" tanya Irina pada suaminya.


"Bau lemon dari aroma pengharum mobil. Aku paling benci dengan aroma ini!" geram Aslan setelah selesai menuntaskan rasa mualnya. Dia langsung mengikat kantong kresek itu lalu membuangnya ke arah luar jendela mobil.


"Sabar, Sayang, sebentar lagi kita sampai," ucap Irina seraya mengusap-usap dada bidang suaminya.


*


20 menit kemudian. Mobil yang di tumpangi Aslan dan Irina telah sampai di depan panti. Kedatangan mereka di sambut oleh Ibu panti dan anak-anak panti.


Tapi, karena mobil yang mereka naiki terlihat sangat mewah, menyita perhatian para warga Desa. Warga Desa langsung berkerumun menatap dan mengelus body mobil berwarna hitam mengkilap secara bergantian.


"Na, mobil anyar? Punyamu tah?" tanya seorang warga.


"Nggak, Bu. Cuma mobil rental," ucap Irina jujur.


"Olah! Dasar sok kaya! Kirain mobil kamu sendiri! Bubar-Bubar, ini bukan mobil Irina tapi mobil sewa!" seru satu warga tersebut sangat kecewa.


"Lah!" Aslan terkejut ketika mendengar seruan salah satu warga itu.


"Aneh banget, mereka yang berkerumun, tapi mereka sendiri yang membubarkan diri dengan perasaan kecewa." Aslan terkekeh sambil geleng-geleng kepala.