
Suara rintihan dan desahaan kenikmatan terdengar memenuhi setiap sudut kamar mewah tersebut. Seorang pria bergerak mendominan di atas tubuh sang istri. Maju-mundur dengan gerakan teratur dan penuh semangat.
Irina mencengkram bahu suaminya ketika suaminya semakin cepat menghujamnya. "Ahh..." desah Irina seraya menggigit bibir bawah dengan kuat ketika dia mencapai pelepasan yang kedua kalinya, tapi suaminya masih tetap terus menghujamnya, tanpa memedulikan pelepasannya yang cukup menguras tenaga.
"Aslan, pelan..." racau Irina saat suaminya semakin menggila di atas tubuhnya.
Aslan sudah seperti harimau yang kelaparan yang memakan mangsanya sampai habis tanpa sisa.
Mendengar permintaan istrinya, Aslan seketika langsung mengurangi tempo gerakannya, teringat calon buah hatinya yang tumbuh di dalam rahim sang istri. Tapi, kemudian, dia melepaskan penyatuan mereka, merubah posisi bercinta mereka dengan gaya DG. Style.
Suara desahaan Irina semakin menggema di ruangan kedap suara itu saat suaminya menghujamnya dari belakang. Terasa semakin nikmat, hingga sampai ke titik yang paling dalam.
Aslan mengerang berulang kali, seraya memejamkan mata, bibirnya mengecupi punggung istrinya, dan salah satu tangannya meremass gunung kembar istrinya dengan gemas, tak berselang lama dirinya mencapai pelepasan yang begitu dahsyat.
Di sisi lain, tepatnya di Maldives.
Setelah seharian berjalan-jalan di tepi pantai, Dimas dan Meyda sekarang sedang berada di teras hotel mengistirahatkan diri, sembari menikmati suasana sore hari. Dimas duduk di pinggiran kolam kecil sambil menatap keindahan laut yang terbentang luas di depan matanya. Sedangkan Meyda duduk berselonjor di gazebo sambil membaca majalah dan memakan lolipop. Meyda yang hanya memakai bikini berwarna merah membuat naluri Dimas sebagai seorang lelaki terpancing sejak tadi, tapi Dimas berusaha untuk menahan diri, dia masih menghargai Meyda, meski dia sangat menyukai wanita itu.
Dimas menoleh ke samping kiri, menatap Meyda yang memakan lolipop dengan cara cukup esktrime. Hal itu membuat pria tersebut semakin tidak tenang, dan otak kotornya menjadi traveling ria.
"Apa salahnya?" jawab Meyda cuek, lalu menjillat lolipop tersebut tanpa mempedulikan teguran Dimas.
"Mey! Kau ingin membangunkan singa tidur ya!" tegur Dimas lagi seraya beranjak berdiri, berjalan mendekati Meyda yang masih asyik dengan lolopopnya.
"Apa masalahmu sih? Ini hanya lolipop, kenapa kau marah seperti ini!" kesal Meyda menatap sengit pada Dimas yang juga menatapnya tajam.
"Aku tidak marah, hanya saja melihatmu memakan lolipop seperti itu membuat milikku menjadi bangun, apa kau tidak lihat!" sungut Dimas seraya menunjuk ke sela pahanya yang terlihat menggembung.
Meyda melirik ke arah sela paha yang menggembung itu untuk sesaat, seraya berkata, "ohhhhhh," lalu Meyda kembali membaca majalah di tangannya, tanpa mempedulikan Dimas lagi.
"Mey!" seru Dimas hampir frustrasi. Dua hari dalam kamar hotel yang sama dengan wanita yang di cintainya membuatnya sangat tersiksa. Apalagi Meyda selalu memakai pakaian sexy, seketika menguji imannya yang setipis tissu.
"Apa sih? Berisik tahu nggak! Syuhhh ... pergi sana!" Meyda malah mengusir Dimas dari sampingnya.
Dimas menghembuskan nafas kasar, sepertinya dia harus mengambil jalan pintas untuk mendapatkan Meyda. Tanpa banyak kata, dan penuh keberanian. Dimas mendekati Meyda lalu mengangkat tubuh wanita itu masuk ke dalam hotel dengan paksa.
"Dimas!!!" teriak Meyda, meronta di gendongannya.