
“Maaf, karena sudah membuatmu marah,” ucap Aslan saat dia merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi miring, menghadap ke arah Irina.
“Iya, maafkan aku juga karena sudah bersikap berlebihan kepadamu,” jawab Irina seraya tersenyum, menatap Aslan yang juga tengah menatapnya.
“Masih marah lagi?” tanya Aslan, mengusap pipi mulus dengan gerakan lembut dan hati-hati.
Irina menjawab dengan gelengan kepala di barengi dengan senyuman manis yang membuat Aslan semakin mabuk kepayang pada wanita tersebut.
Tanpa bantak bicara, Aslan langsung menarik Irina ke dalam pelukannya, melabuhkan ciuman lembut di bibir yang sudah menjadi candunya itu. Salah satu tangan kekarnya merambat turun menyentuh titik sensitif wanitanya.
Terbuai, dan tergoda itulah yang di rasakan Irina saat ini. Dia membalas ciuman Aslan tak kalah lembut. Dan pasrah hingga membuka kedua kakinya dengan lebar saat pria tampan itu mulai menjajah bagian intinya.
Suara lenguhan dan desaahan keluar dari bibir Irina saat merasakan kenikmatan yang tiada terkira. Aslan kini sudah berada di atas tubuhnya, menggagahinya dengan posesif, dan selanjutnya dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di area sensitifnya.
“Apa ini?” pikir Irina, kemudian dia membuka kedua matanya, menatap Aslan dengan lekat, seolah meminta penjelasan.
“Aslan, kamu ...” suaranya kembali tertelan ke tonggorokan saat pria tersebut dengan cepat membungkam bibirnya dengan ciuman yang penuh gairah, membuai dirinya dalam titik kenikmatan yang tidak terbantahkan.
Kini hanya suara dessahan yang keluar dari bibir Irina, saat merasakan benda keras menghujam titik sensitifnya bertubi-tubi.
Aslan sudah sembuh?
Ya ... pria tersebut sudah sembuh, buktinya dia begitu kuat dan perkasa, hingga membuat Irina sampai tidak berdaya.
“TIDAK!!!” teriak Yoga dalam tidurnya. Keringat membanjiri tubuhnya, dan wajahnya terlihat sangat pias ketika baru saja terbangun dari mimpi buruk.
Bu Nining yang terlelap di sofa terlonjak kaget saat mendengar teriakan Yoga, dia segera beranjak bangun, menghampiri putranya.
“Yoga, kamu mimpi buruk?” Bu Nining menuangkan air dari teko ke dalam gelas kaca, lalu memberikannya kepada putranya. Yoga segera meminum air tersebut hingga tandas, lalu memberikan gelas yang sudah kosong kepada ibunya.
Bu Nining mengambil beberapa lembar tisu untuk mengusap kening putranya yang di basah karena keringat.
“Mimpi buruk apa hingga membuatmu seperti ini?” tanya Bu Nining penasaran, sembari menatap wajah putranya yang terlihat pias dan mengeras seolah sedang menahan sebuah amarah.
“Duniaku seakan runtuh, Bu. Aku bermimpi kalau Irina selingkuh dan bercinta dengan pria lain.” Yoga menangkup wajahnya, menangis sedih di dalam dekapan ibunya. Mimpi itu terasa nyata, bahkan dia bisa mengingat jelas wajah Istrinya saat menikmati sentuhan pria lain. Hati Yoga bagai di remat hingga hancur tak berbentuk. Rasanya sangat sakit, hingga membuatnya ingin mati.
“Sttt, hanya mimpi, Ga. Tidak akan menjadi kenyataan. Maka dari itu Ibu selalu menyuruhmu untuk selalu berpikiran positif pada istrimu, agar alam bawah sadarmu juga ikut positif,” jelas Bu Nining pada putranya yang masih menangis.
Yoga mendongak menatap jam yang tertempel di dinding, waktu sudah menunjukkan jam 1 malam. Mitosnya, bila bermimpi tengah malam maka akan menjadi kenyataan. Yoga mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, berharap kalau mitos itu tidak akan terjadi, ia berharap kalau istrinya selalu setia kepadanya.
Aslan mengusap keringat yang membasahi kening Irina, kemudian mengecupnya dengan mesra. Irina tersenyum lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh tersebut. Meski durasi percintaan mereka tidak lama, tapi kemajuan pesat untuk Aslan.
“Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?” tanya Irina dengan nada kesal.
“Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Hanya saja, saat berdekatan denganmu tubuhku langsung bereaksi,” jawab Aslan menatap Irina dengan dalam, lalu menggulingkan tubuhnya dan berbaring di samping Irina.
Irina menganggukkan kepala, paham dengan penjelasan pria tersebut, meski berakhir dengan menelan ludahnya dengan kasar, “5 hari lagi genap 1000 jam,” ucap Irina.
“Lalu?” Aslan menjawab cuek. Dia sudah tahu arah pembicaraan Irina, Dia tidak akan melepaskan Irina, seperti janjinya pada waktu itu, dia akan memiliki Irina seutuhnya tanpa memedulikan kalau Irina sudah mempunyai suami.
Irina menghela nafas kasar, ketika melihat respons Aslan yang cuek. Percuma membahas masalah ini karena Aslan tidak akan mendengarkannya.
“Tidur!” titah Aslan dengan suara datar dan dingin, tidak lupa tatapan tajamnya dilayangkan kepada Irina.
Di Club malam. Seorang pria sedang mengorek informasi rivalnya dari seorang pria yang mengenal Dimas dengan baik. Karena club malam itu adalah langganan Dimas.
“Well, jadi wanita itu adalah seorang pelacur?” Seorang pria menyeringai ketika berhasil mendapatkan informasi besar yang sangat mengejutkan dirinya. Dia mendapatkan informasi tersebut dari seseorang yang bekerja di club malam yang pernah melihat Aslan dan Irina melakukan sesuatu di dalam mobil saat di parkiran club malam pada waktu itu.
“Benar, Tuan,” ucap pria tersebut sambil menundukkan kepala.
“Terima kasih informasinya. Ini hadiah untukmu.” Kevin mengambil 10 lembar uang berwarna merah dari dompetnya, lalu memberikan kepada pria tersebut.
“Terima kasih banyak, Tuan, terima kasih banyak!” jawab pria tersebut sangat senang lalu menerima uang tersebut dengan tangan terbuka. Kemudian segera pergi dari hadapan Kevin.
Pria tersebut berjalan sambil bersiul-siul, sambil mengibaskan 10 lembar uang di tangannya. Dia sangat happy, hanya memberikan secuil informasi dia mendapatkan uang satu juta. Sungguh keberuntungan untuknya.
Namun, kebahagiaannya tidak berlangsung lama, dia di hadang oleh Meyda saat akan kembali ke meja bartender untuk membantu rekan kerjanya.
BUGH!!
“Arghhh!” Pria tersebut memekik sambil menunduk dan memegangi perutnya saat mendapatkan pukulan keras dari seorang wanita yang tak lain adalah Meyda.
“Apa yang lu katakan sama dia?!” tanya Meyda sembari mengambil uang yang di pegang pria tersebut lalu memasukkannya ke dalam br* nya.
“Nggak! Aku nggak mengatakan apa pun!” jawab pria itu, meringis menahan rasa sakit dan ngilu di ulu hatinya.
“Sepertinya satu pukulan nggak bikin lu kapok!” geram Meyda lalu menendang dua lato-lato milik pria tersebut menggunakan salah satu kakinya.
BUGH!
“Arghhh!!” pria tersebut lagi-lagi merintih kesakitan. “Arghh! Telorku pecah!” pekik pria tersebut sebelum tersungkur di atas lantai.
Karena club malam itu sangat ramai, dan sangat berisik oleh musik, maka tidak ada yang memperhatikan atau mendengar suara mereka berdua.
Meyda berjongkok, lalu mencengkram erat rahang pria tersebut, “katakan!” tegas Meyda.
“Aku memberitahukan kalau temanmu yang pernah kau bawa ke sini adalah seorang pelacur,” jawab pria tersebut.
“Brengsek!!” umpat Meyda lalu berdiri dan menginjak tangan pria tersebut dengan heel-nya. Pria tersebut berteriak kesakitan, namun suara teriakannya itu kalah dengan suara dentuman musik Dj yang begitu memekakan telinga.
“Sekali lagi kalau lu berani ngomong macam-macam lagi sama orang itu, maka lu bakal mati di tangan gue! Paham nggak!!!” teriak Meyda penuh emosi.
Pria itu pun mengangguk ketakutan, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
“Huh! Demi 500 juta, gue berubah menjadi monster!” geram Meyda kesal seraya mengibaskan rambut panjangnya, lalu menatap pria tersebut yang terkulai tidak berdaya.
Kini saatnya Meyda beraksi, mumpung sasaran empuk ada di depan matanya.
Meyda memasuki ruangan VIP di mana Kevin berada sendirian di sana sambil menikmati vodca.
"Selamat malam, Tuan," sapa Meyda dengan suara sensual, membuat siapa pun akan tergoda saat mendengarnya.
Kevin menoleh, menatap wanita cantik dan sexy berjalan ke arahnya. Pria tersebut memperhatikan wanita tersebut dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas lagi menatap lekat wajah cantik wanita tersebut yang mempunyai mata sipit dan dua lengsung pipi jika tersenyum.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" tanya Kevin dengan suara datar.
"Oh, aku hanya berinisiatif saja. Kebetulan tadi pintu ruangan ini tidak tertutup, dan aku melihat Anda duduk sendirian di sini. Sangat di sayangkan sekali, bila pria se-tampan Anda dianggurin," jawab Meyda seraya mendudukkan diri di samping Kevin.
Meyda yang hanya memakai bra corp top berwarna putih yang di padupadankan dengan rok jeans mini berwarna hitam terlihat sangat sexy dan sangat hot. Bukit kembarnya terlihat sangat montok mencuat keluar seolah ingin tumpah. Membuat pandangan Kevin melirik ke arah sana. Sebagai pria normal tentu saja dia tergoda saat melihat barang bagus.
"Siapa namamu?" tanya Kevin menatap Meyda dengan lekat.
"Panggil aku Mey," jawab Meyda dengan suara lembut di barengi dengan senyuman yang sangat menggoda.
Meyda menatap Kevin yang terlihat sangat tampan bila di lihat dari dekat, membuat dirinya hampir oleng karena ketampanan pria tersebut.
"Astaga, ingat 500 juta. Tapi, kalau sekaligus bermain-main boleh 'kan? Habisnya nggak tahan. Pasti ukurannya XXL," batin Meyda sambil melirik ke arah sela paha Kevin. Otak kotornya, mulai traveling nakal.
"Apa yang kamu lihat?" pertanyaan Kevin membuat Meyda sangat terkejut kemudian segera mengalihkan pandangannya dan bersikap seolah gugup.
"Maaf, Tuan. Mata saya ini tidak bisa dikondisikan kalau melihat barang bagus," jawab Meyda terkekeh sembari menutup bibirnya, bergaya sok imut dan anggunly.
"Kamu terlalu jujur." Kevin menatap wanita cantik itu sembari memberikan sebotol vodca, akan tetapi wanita tersebut menolak.
"Maaf, kalau kejujuranku membuat Anda tidak nyaman, kalau begitu saya permisi," pamit Meyda seraya beranjak dari duduknya, bersiap melangkah pergi akan tetapi langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh Kevin.
"Yes!! Ikan Kakap masuk perangkap!" batin Meyda bersorak.
***
Bestie, jangan lupa like dan dukungan lainnya.