
Yoga di bawa ke rumah sakit di bantu oleh beberapa tetangganya. Bu Nining menangis histeris ketika putranya harus kembali masuk ke ruang operasi karena luka jahitan di perut Yoga kembali terbuka.
"Bagaimana caranya aku membayar biaya rumah sakit ini jika tidak mempunyai uang sama sekali," ucap Bu Nining di sela isak tangisnya. Tak berselang lama ada sebuah ide terlintas di otaknya.
"Irina! Aku harus menghubungi Irina!" Bu Nining merogoh ponselnya dari dalam tas, kemudian ia menghubungi menantunya itu, tapi sayang nomor Irina sudah tidak aktif, sepertinya wanita itu sudah mem-blokir nomornya.
"Astaga! Kenapa di saat seperti ini nomernya tidak bisa di hubungi, aku harus bagaimana ya Tuhan?!" Bu Nining menangis histeris sambil terus berusaha menghubungi Irina.
*
*
Di tempat lain, masih di belahan bumi yang sama, tepatnya di dekat taman kota, Aslan saat ini sedang berbicara pada anak buahnya yang dia tugaskan untuk mencari Irina.
"Saya sudah menyebar seluruh anggota saya, di terminal, stasiun dan bandara yang ada di kota Jakarta ini untuk mencari keberadaan Nona Irina, tapi tidak ada tanda-tanda Nona Irina pergi ke tiga tempat yang saya sebutkan tadi," jelas pria gondrong dan mempunyai gigi emas di bagian depan, tampangnya juga terlihat menyeramkan.
"Aku tidak mau tahu! Cari wanitaku sampai dapat, jika tidak ... kau akan tahu akibatnya!!" amuk Aslan, wajahnya terlihat memerah dan kedua matanya berkilat menandakan jika pria tersebut benar-benar sangat marah.
"Ba-baik, Tuan," jawab pria gondrong tersebut ketakutan.
"Aku akan memerintahkan anak buahku untuk mencari Nona Irina ke seluruh kota ini," lanjutnya pria tersebut.
Aslan mendengus lalu segera masuk ke dalam mobilnya, dia juga akan mencari Irina dengan caranya sendiri, dia akan menyewa hacker terbaik untuk melacak keberadaan Irina.
*
*
"Bang, lampu merah berhenti ya," ucap Irina pada sopir angkot yang ngebut.
"Siap!" jawab sopir angkot, lalu segera mengerem kendaraannya saat berhenti tepat di dekat lampu merah.
Irina turun dari angkot sambil menyeret kopernya dengan susah payah, lalu menyerahkan uang 10 ribu kepada sopir tersebut, tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Huh!
Irina menghembuskan nafas kasar, ketika dia harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki selama 15 menit menuju tempat tersebut.
"Semangat Irina, karena hanya di situlah tempatmu pulang," gumam Irina menyemangati dirinya sendiri sambil menyeret kopernya, melanjutkan perjalanannya.
Setelah 15 menit jalan kaki, Irina telah sampai di depan bangunan tua bercat putih yang mulai memudar. Keningnya berkerut, karena bangun tersebut terlihat tak berpenghuni. Kedua kaki Irina mendadak lemas, ketika baru menyadari kalau ada banner di dekat pintu gerbang bangunan rumah tersebut.
Banner tersebut, bertuliskan "Di SITA BANK"
"Di sita? Lalu semua orang yang ada di rumah itu pindah ke mana?" tanya Irina sangat cemas dan panik. Karena penasaran, akhirnya Irina memberanikan diri untuk bertanya pada warga sekitar.
"Rumah itu di sita Bank sejak dua bulan yang lalu. Dan para penghuninya di pindahkan ke luar kota," jelas seorang wanita paruh baya yang kebetulan melintas di depan rumah tersebut.
"Luar Kota? Apakah Ibu tahu tepatnya di mana?" tanya Irina penuh harap. Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian menyebutkan alamat baru dari penghuni rumah yang di sita itu.