
Kenyataannya tidak sesuai dengan ekspetasi. Aslan yang sudah enak-enak membayangkan bergumul di bawah selimut dengan istrinya harus kecewa karena Irina langsung mengajaknya pergi ke desa.
"Kita naik pesawat saja," ucap Aslan pada Irina yang sedang membereskan pakaianya ke dalam koper kecil.
"Di sana sangat jauh dari bandara, Aslan. Sebaiknya kita tetap menempuh jalur datar," jawab Irina pada pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Berapa jam menempuh jalur darat?" Aslan menatap istrinya yang kini sudah selesai membereskan pakaiannya.
"Kurang lebih 10 jam." Irina tersenyum meringis pada suaminya.
Aslan menghela nafas kasar, sambil menatap sebal istrinya yang terlihat sangat menggemaskan.
"Sayang, kau tahu kalau aku ini terkena sindrom couvade? Jadi nggak bisa melakukan perjalanan sejauh itu, di tambah lagi kamu juga sedang hamil dan sangat berbahaya untuk kandunganmu," ucap Aslan pada istrinya yang kini duduk di tepian tempat tidur.
"Jadi gimana?" Irina bertanya, seraya menggoyangkan kedua kakinya yang menggantung, dan kedua matanya mengedar ke seluruh kamar mewah itu. Dia baru menyadari kalau kamar tersebut tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti dulu, saat terakhir kali dia keluar dari kamar itu.
"Kita naik Jet Pribadi milik keluargaku, bagaimana?" bujuk Aslan pada istrinya.
"Emh ... tapi, aku takut ..." cicit Irina sambil menundukkan kepala.
"Takut?"
Irina menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Takut kenapa?" tanya Aslan menatap wajah cantik istrinya dari samping.
"Takut karena tidak pernah naik pesawat! Jangan ketawa!" jawab Irina, dengan berakhir mengancam suaminya, seraya menunjuk wajah suaminya yang terlihat mengkerut, menahan tawa.
Aslan menganggukkan kepala. sembari melipat bibirnya dengan kuat, dan pipinya menggembung seperti ikan buntal. Aslan sekuat tenaga menahan tawanya sampai pipinya terasa pegal, tapi dia tidak bermaksud menertawakan istrinya yang belum pernah naik pesawat, akan tetapi dia ingin tertawa karena melihat ekspresi lucu dan menggemaskan yang terlihat di wajah Irina.
Aslan membuka mulutnya sambil menghela nafas berulang kali, kemudian merangkum pundak istrinya dengan mesra. "Ada aku, jadi jangan khawatir. Kamu nggak perlu takut, karena naik pesawat itu sama saja kayak baik bus. Tapi, sebelum itu kita harus ke rumah sakit untuk mengecek kandunganmu, guna memastikan kalau si junior sehat dan bisa melakukan perjalanan menggunakan pesawat," jelas Aslan pada istri cantiknya.
"Baiklah," jawab Irina pada akhirnya, setuju dengan keputusan Aslan.
*
*
Di sinilah mereka saat ini berada, sudah berada di rumah sakit setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam. Pasangan suami istri yang masih anget-anget itu berjalan menuju dokter kandungan, beruntung saat itu tidak banyak pasien, jadi mereka datang langsung dipersilahkan masuk ke ruangan dokter dan segera menjalani pemeriksaan.
Setelah di periksa, kandungan Irina sangat sehat, dan kuat, jadi bisa menempuh perjalanan jauh.
"Akhirnya, kita bisa ke desa," ucap Aslan ketika keluar dari ruangan dokter sambil menggandeng tangan istrinya.
"Kenapa kamu terlihat sangat bersemangat pergi ke desa?" tanya Irina menatap suaminya sambil tertawa pelan.
"Karena aku sangat penasaran dengan desa yang sudah kamu tinggali selama beberapa bulan ini," jelas Aslan seraya mengecup pipi istrinya dengan mesra.
Irina tersenyum, dia mengelus jambang pria tersebut dengan gemas sambil terus berjalan, keluar dari rumah sakit tersebut, tapi langkah mereka terhenti ketika melihat Ibu Nining sedang mendorong kursi roda yang di duduki seorang pria yang tak lain adalah Yoga.
Irina mendongak menatap suaminya, dengan tatapan memohon, seolah dia meminta izin agar di perbolehkan mendekati mantan suaminya.
Aslan menghela nafas panjang, lalu menganggukkan kepala, memberikan izin pada istrinya, kemudian dia menarik tangan Istrinya dengan lembut, mengikuti ibu Nining dan Yoga yang berjalan menuju lift.
"Ibu, Yoga!"