
Satu minggu telah berlalu setelah Aslan dan Irina berpisah. Aslan menyibukkan diri dengan pekerjaannya agar bisa menghilangkan bayang-bayang Irina yang ada di dalam kepala meski hanya sejenak.
Lalu Irina? Wanita itu kembali kehidupannya seperti semula di mana dirinya menjadi seorang buruh cuci demi mendapatkan penghasilan untuk membantu perekonomian keluarga. Sedangkan suaminya sudah keluar dari rumah sakit, tapi harus tetap kontrol satu minggu sekali, dan belum boleh melakukan aktifitas apa pun.
“Irina, tolong buatkan nasi goreng dan teh hangat untuk ibu. Kasihan ibu baru selesai beres-beres rumah,” ucap Yoga pada istrinya yang baru memasuki rumah.
Irina menghela nafas kasar seraya menyeka keringat yang membasahi keningnya. “Aku juga capek, Mas. Baru pulang kerja,” ucap Irina pada suaminya.
“Kalau kamu ‘kan masih muda, sedangkan ibu sudah tua, kasihan ibu. Lagian bukankah ini sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai menantu merawat mertua? Kok sekarang kamu mengeluh?” Yoga berbicara panjang lebar, namun semua ucapannya yang keluar dari mulutnya itu selalu menyudutkan istrinya.
“Aku bukannya ngeluh. Tapi, aku juga capek, ingin istirahat sebentar,” jawab Irina dengan nada sedikit kesal. Tidak tahukan suaminya itu, jika dirinya ini sangat lelah secara fisik maupun psikis. Kenapa dia baru menyadari kalau suami dan ibu mertuanya ini sangat menyebalkan, dan tukang perintah. Dulu dia terlalu bucin kepada suaminya dan juga selalu tunduk pada ibu mertuanya. Tapi, kini dia telah sadar jika suami dan ibu mertuanya tidak sebaik yang dia bayangkan.
“Kenapa kamu jadi sewot begitu, semenjak berhenti bekerja dari pekerjaanmu yang tidak jelas itu!” Yoga lagi-lagi menyudutkan Irina dengan segala prasangka buruknya.
Sepertinya Irina harus memanjangkan ususnya yang artinya harus mempunyai kesabaran yang panjang agar tidak muda terpancing emosi dengan setiap perkataan yang terlontar dari mulut suaminya.
“Pekerjaan yang Mas katakan nggak jelas, sudah membantu kamu hidup sampai saat ini!” balas Irina sambil berjalan melewati suaminya yang duduk di kursi ruang tamu, menuju dapur untuk membuatkan nasi goreng untuk mertuanya.
Sampai di dapur. Irina berharap mendapatkan ketenangan, tapi nyatanya dia harus menebalkan telinganya saat mendegar ocehan ibu mertuanya.
“Nggak baik membantah ucapan suami, Rin. Lagian, kenapa kamu nggak kerja lagi di sana sih? Di sana sepertinya gajinya sangat besar, dan bisa mencukupi keluarga kita.” ucap Bu Nining sambil mencuci piring.
“Kata Ibu nggak boleh membantah ucapan suami, jadi aku lebih baik berhenti bekerja dari sana dari pada ribut terus sama Mas Yoga. Bukankah aku sudah menjelaskannya berulang kali?!” jawab Irina dengan telak.
Bu Nining menipiskan bibirnya, seraya meletakkan beberapa piring yang sudah bersih ke dalam rak dengan kasar. “Kamu ini kok jadi membantah terus sih!” dumelnya.
Irina membuang nafas kasar, seraya melanjutkan kegiatannya membuat nasi goreng dan teh hangat untuk ibu mertuanya. Dia lelah berdebat setiap hari, lebih baik dia diam. Karena diam itu emas.
*
*
Dimas menghela nafas kasar sambil meletakkan kepalanya di atas meja sebelum menjawab pertanyaan bossnya itu.
“Dim!!!” Aslan memanggil asistennya dengan nada keras karena Dimas tidak menjawab pertanyaannya.
“Bisa nggak kasih aku waktu buat bernafas? Capek tahu!” keluh Dimas pada Aslan yang tengah menatapnya tajam.
Bagaimana dirinya tidak capek, jika Aslan kembali ke setelan pabrik. Kembali dingin, datar, menyebalkan, ambisius dan workaholic. Sudah satu minggu ini Dimas menemani lembur bossnya itu sampai tengah malam. Belum lagi jadwal pekerjaan hariannya yang super padat membuat Dimas hampir pingsan karena kurang istirahat.
“Dasar lemah! Apa ini yang di sebut laki-laki!” ejek Aslan sambil melemparkan pena ke arah Dimas yang mulai kembali duduk tegak.
“Kau sendiri apa?! Dasar impot ...” Dimas langsung melipat bibirnya saat hampir keceplosan bicara, di tambah lagi bossnya sudah melayangkan tatapan yang sangat tajam.
“Kenapa berhenti bicara? Ayo lanjutkan ucapannya!” titah Aslan sambil tersenyum iblis pada asistennya.
“Apa? Memangnya aku bicara apa?” tanya Dimas pura-pura bodoh. Kemudian dia berdehem pelan seraya mencondongkan setengah badannya ke depan, “kamu tahu bos, kalau Kevin telah membatalkan pernikahannya dengan Sofia. Setelah ini aku yakin kalau Sofia itu pasti akan kembali mengejarmu,” ucap Dimas mengalihkan pembicaraan.
“Sebelum itu terjadi, segera singkirkan dia dariku, dan jangan biarkan dia mendekatiku!” tegas Aslan.
“Siap bos!!!” jawab Dimas seraya mengangkat tangan kanannya lalu meletakkan di dekat keningnya, memberikan hormat kepada atasanya.
“Dan rencana kita untuk membuat Kevin jera sepertinya akan berjalan lancar, karena Meyda telah berhasil membuat Kevin masuk perangkapnya,” lanjut Dimas.
“Good job!” Aslan puas mendengarnya.
***
Jangan lupa like dan dukungan lainnya, makasih semuanya 😘