1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Kedatangan Irina



Tepat jam 5 sore, Irina telah sampai di Jakarta, lelah dan letih di rasakannya setelah menempuh perjalanan jauh selama 10 jam lebih. Irina memutuskan untuk beristirahat sejenak, mendudukkan diri di kursi yang tersedia di terminal.


“BLOK M ... BLOK M.” 


“Grogol ... Grogol ...” 


“Kalideres ... deres ... deres ...” 


Suara kernet bus dalam kota bersahut-sahutan mencari penumpang di terminal tersebut. Irina memperhatikan area terminal yang terlihat sangat ramai. Dia menghela nafas sejenak, sebelum melanjutkan perjalanannya. Seorang kernet bus menghampirinya dan bertanya arah tujuannya.


“Ke mana, Mbak? Kalideres?” tanya kernet tersebut sambil menyelempangkan handuk kecil di pundak.


“Jakarta Selatan, Bang,” jawab Irina, lalu segera beranjak dari sana, menuju bus yang akan mengantarnya ke tempat tujuan.


*


*


“Hoekk ...” Sementara itu Aslan masih mual dan muntah yang tak kunjung reda. Badannya semakin kurus, karena tidak ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. Pria tersebut terkulai lemas setelah memuntahkan isi perutnya yang berupa cairan kuning pekat yang rasanya sangat pahit dan asam. Aslan membuang kantong plastik yang dia gunakan untuk menampung muntahannya ke tempat sampah yang terletak di dekat tempat tidurnya.


“Boss, kenapa jadi begini, sebenarnya kamu sakit apa?” Dimas sore itu menjenguk Aslan setelah pulang kerja. Dimas sangat kasihan pada Aslan yang terlihat tak berada di atas tempat tidur.


“Entah, Dim. Rasanya kayak mau mati saja,” jawab Aslan lemah.


“Hussss ... nggak boleh ngomong kayak begitu! Kalau ada malaikat lewat bagaimana, bisa keok kamu dan nggak bisa ketemu sama Irina!” Dimas memarahi Aslan yang bicara sembarangan.


“Ya Tuhan. Jangan deh, nggak mau mati dulu.” Aslan menarik ucapannya, seraya memukul bibirnya berulang kali dengan pelan.


“Makanya jangan sembarangan ngomong!” Dimas tertawa ketika melihat ekspresi Aslan yang ketakutan.


“Udah ada info terbaru belum tentang Irina?” tanya Aslan pada Dimas yang duduk di kursi yang di sediakan di dekat tempat tidur pasien.


Aslan kecewa mendengar jawaban Dimas. Pria tersebut rasanya ingin menangis karena sangat merindukan Irina.


“Mau minum, As?” tanya Dimas mengalihkan pembicaraan saat melihat raut wajah Aslan berubah sedih.


“Nggak!” jawab Aslan singkat, padat dan jelas, tanpa menatap Dimas, karena pandanganya kini berpusat ke langit-langit ruang rawatnya.


“Emh ... orang tuamu sedang pulang sebentar, karena keponakanmu masuk rumah sakit lagi,” ucap Dimas lagi, berharap kalau Aslan tidak banyak pikiran. Dia memang teman yang solid, selalu ada untuk Aslan.


Aslan menoleh pada Dimas, dia terkejut ketika mendengar keponakannya kembali masuk rumah sakit. Tapi, saat ini tidak bisa apa-apa, bahkan turun dari tempat tidur saja tidak sanggup, padahal dia ingin menjenguk keponakan kesayangannya, yang tak lain adalah putri Arkan—saudara kembarnya.


DRTTT ... DRTTT


Dimas segera mengambil ponselnya yang bergetar panjang menandakan ada panggilan masuk. Dimas merogoh kantong jasnya, lalu segera mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Bi Inah.


“Halo,” jawab Dimas saat ponselnya sudah melekat di telinga kanannya.


“Tuan Dimas, bisa ke rumah Tuan Aslan sekarang? Di sini ada Nona Irina.”


Dimas beranjak berdiri, terkejut sudah pasti, tapi tak berselang lama dia tersenyum dan segera mematikan ponselnya secara sepihak kemudian keluar dari ruang rawat tersebut tanpa berpamitan pada Aslan.


 ***


Nggak sabar banget lihat Aslan dan Irina kembali di pertemukan 🥰


Hallo bestie semuanya. Sekarang tak perlu susah cari point untuk kasih dukungan buat emak. Cukup tonton video iklan saja sebanyak 10 kali.


Dukung karya emak sebanyak-banyaknya, karena akan ada hadiah untuk 3 peringkat tertinggi saat novel ini sudah tamat🙏❤