1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Tanpa Lelah



"Ayang Dimas, sekarang katakan siapa yang telah mengambil perjakamu," ucap Meyda penasaran seraya mengusap dada bidang yang berkeringat. Yap ... kedua baru saja selesai mengakhiri pertempuran panas mereka pada malam hari itu. Dan tentu saja setelah melakukan penyatuan dua ronde.


"Kenapa kau begitu penasaran?" tanya Dimas seraya memeluk Meyda lalu mengecuip bibir wanita tersebuit dengan mesra.


"Aku cemburu dan marah!" jawab Meyda jujur dengan perasaannya. Mendongak menatap Dimas sambil cemberut.


Dimas tersenyum lalu mengurai pelukannya, dan meremas salah satu gunung kembar yang sekarang jadi mainan favoritnya. Dia gemas dan candu dengan tubuh Meyda.


"Yang mengambil perjakanya itu kamu," jawaban Dimas tentu saja tidak di terima oleh Meyda.


"Jangan bohong!" Meyda menatap sengit pada Dimas yang masih memainkan gunung kembarnya dan sesekali memilin pucuknya dengan gemas, hingga membuatnya menggigit bibir karena mulai kembali bergairah.


"Aku serius, Mey," jawab Dimas lirih dan serak, menatap Meyda dengan pandangan berkabut gairah. Ah, sial! Kenapa hanya karena memainkan dua gunung kembar ini membuat miliknya kembali bangun dan meronta ingin di puaskan? Pikir Dimas.


"Beneran?" tanya Meyda lagi, untuk memastikan.


"Iya, kau adalah wanita pertama untukku," jawab Dimas serius.


Meyda terdiam, kedua matanya berkaca-kaca, hatinya menghangat saat melihat kejujuran dari kedua mata Dimas.


"Maaf, karena kau harus mendapatkan wanita yang sudah tidak perawan," ucap Meyda lirih, menatap Dimas lekat.


"Aku tidak masalah tentang hal itu, yang terpenting sekarang adalah aku mencintaimu, begitu pula denganmu, mencintai aku," bisik Dimas seraya menarik salah satu tangan Meyda dan mengarahkan ke sela pahanya.


"Sepertinya dia ingin lagi," bisik Dimas serak, bertanda kalau di ingin kembali mengulang percintaan panas mereka.


"As you wish." Meyda mendudukkan diri, karena dia tahu apa yang harus dilakukannya. "Kau pasti akan sangat menyukainya," bisik Meyda ketika dia memegang benda pusakan milik Dimas lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Mulai melakukann tugasnya dengan profesional, memberikan kepuasan pada pria yang di cintainya itu.


Dimas merem-melek keenakan sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali saat kenikmatan itu semakin menjalar keseluruh tubuhnya.


"Mey ..." Dimas mengerang sambil menarik senjatanya dari bibir Meyda. Dia sudah tidak tahan lagi dan rasanya ingin meledak. Dengan gerakan cepat, dia menerjang tubuh Meyda hingga telentang, lalu membuka kedua kaki wanita itu dengan lebar, seraya memasukkan senjatanya ke dalam lembah yang sudah sangat basah dan licin.


"Ahhh." Meyda mengerangh tertahan sambil menggigit bibir bawahnya, saat milik Dimas memenuhi bagian intinya. Terasa begitu sesak, dan penuh kenikmatan yang sulit di jelaskan dengan kata-kata.


Malam itu mereka melakukannya lagi dan lagi tanpa merasa lelah sama sekali, justru keduanya sangat semangat berbagi kenikmatan dan peluh hingga menjelang pagi.


*


Tepat jam 11 siang waktu setempat. Dimas dan Meyda baru terbangun dari tidur mereka. Meyda merenggangkan badannya yang terasa remuk karena selamam suntuk pria tersebut terus mengajarnya dengan berbagai gaya.


"Katanya ini pertama kalinya untukmu, tapi kenapa kau begitu pro!" sungut Meyda seraya menepis tangan Dimas yang akan menyentuh gunung kembarnya.


"Aku bukan pria polos, Sayang. Tentu aku belajar dari film yang sering aku lihat," jawab Dimas sambil tersenyum lalu mencaplok pucuk dada gunung kembar itu secara bergantian.


"Enak susunya," ucap Dimas sangat absurd, membuat Meyda menjadi malu dan kesal sendiri pada pria yang sedang menjadi bayi besar ini.


****


Kalau kurang panas, bacanya sambil nangkring di atas kompor ya🤣🤣


Jangan lupa like dan komentarnya🥰