1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Kedatangan Meyda



Meyda duduk berhadapan dengan Aslan pada pagi hari itu. Wanita cantik dan bermata sipit itu deg-degan ketika di tatap tajam oleh Aslan. Jantungnya berdetak cepat bukan karena terpesona dengan pria yang ada di hadapannya itu, akan tetapi dia hanya merasa sedikit takut pada aura Aslan yang gelap dan menyeramkan.


"Lo nyuruh gue ke sini buat bahas Kevin?" tanya Meyda.


"Nggak! Ini tentang Irina," jawab Aslan seraya memberikan sebuah amplop putih kepada Meyda. "Berikan amplop ini kepada Irina," pinta Aslan.


"Me? Lo nyuruh gue? Kenapa nggak lo aja sendiri." Meyda mengolok Aslan dan enggan menerima amplop yang di sodorkan kepadanya.


"Meyda, jangan membuatku marah!" Aslan menaikkan nada bicaranya, kedua tatapan elang itu semakin menajam saat menatap Meyda.


"Ha ha ha ha, lo lucu banget, sekarang lo merasa bersalah sama Irina?" tanya Meyda masih mengejek Aslan yang terlihat masam. Dia segera menerima amplop tersebut dan memasukannya ke dalam tas.


"Ini bukan tentang merasa bersalah atau tidak. Ini masalah hati, aku hanya ingin tahu, apakah dia bahagia dengan pilihannya atau tidak," jelas Aslan seraya mendesah kasar.


Ck!


Terdengar decapan dari bibir Meyda dibarengi dengan senyuman miring. "Jelas dia bahagia dengan suami tercintanya. Lo gimana sih!" balas Meyda, tak hentinya mengolok pria berkuasa yang ada di hadapannya itu.


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Kamu tahu sendiri 'kan perjuangan Irina seperti apa untuk mencari biaya pengobatan suaminya. Dia menderita, dan dia tidak bahagia!" tegas Aslan ada Meyda yang sejak tadi terus mengoloknya.


"Lah, terus Irina bahagianya sama siapa dong? Sama lo?" Meyda masih saja tidak kapok mengolok Aslan.


"Sebenarnya kamu punya masalah apa sih sama aku? Kenapa dari tadi kamu terus saja mengolokku!" ucap Aslan penuh kekesalan.


"He he he, jangan marah dong. Gue nggak maksud ngolok lo kok. Cuman gue nggak yakin sama diri lo yang bakalan bisa membahagiakan Irina. Meski pun gue dan Irina nggak terlalu dekat, tapi gue tahu karakternya, dia wanita yang kuat dan sangat mandiri. Mending lo mempersiapkan diri deh kalau suatu saat Irina tiba-tiba hilang dan menjauh dari lo," jawab Meyda sambil beranjak dari duduknya, dan berpamitan kepada Aslan yang mematung di tempat.


"Apa maksud dari ucapan wanita itu?" gumam Aslan seraya meraba dadanya, entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat, dan dadanya terasa nyeri saat membayangkan Irina pergi dari hidupnya untuk selamanya.








Irina bekerja keras, menjadi buruh cuci dari pintu rumah ke rumah lainnya. Setiap harinya dia harus mencuci di 5 rumah, dia mulai berangkat jam 6 pagi sampai jam 3 sore. Lelah ... itulah yang dia rasakan setiap hari. Belum lagi saat sampai di rumah dia juga harus menahan kesabaran menghadapi ibu mertua dan juga suaminya.


Irina segera menggelengkan kepalanya pelan, agar bayangan Aslan segera lenyap dari ingatannya. Tapi, sayangnya, semakin dia berusaha lupakan Aslan, dia malah semakin merindukan pria tersebut.


"Semangat Irina, jangan hiraukan bayangan pria itu." Irina mensusgesti dirinya sendiri agar bisa melupakan Aslan walau hanya sejenak.


*


*


"Permisi!" Meyda berseru di depan pintu rumah sederhana yang terbuka pada pagi menjelang siang hari. Yap, rumah tersebut adalah rumah yang di tinggali oleh Irina, beserta suami dan ibu mertuanya.


"Iya!" Terdengar sahutan dari dalam rumah, tak berselang lama muncul seorang wanita paruh baya yang Meyda yakin kalau wanita tersebut adalah ibu mertua Irina.


"Cari siapa ya?" Bu Nining memperhatikan penampilan Meyda dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas menatap wajah Meyda yang tampak asing di matanya, karena sebelumnya mereka berdua belum pernah bertemu.


Meyda pun turut mematut penampilannya, ia rasa tidak ada yang salah karena dia berpakian cukup sopan, meski pun kaos yang dikenakannya sangat ketat, dan celana jeans-nya sobek di bagian lutut.


"Cari siapa, Mbak?" tanya Bu Nining lagi karena wanita muda yang ada dihadapannya ini malah diam, tidak menjawab pertanyaannya.


"Saya cari Irina, dan saya teman kerjanya. Irina ada?" jawab Meyda.


"Irina lagi kerja, pulangnya nanti jam 3 sore. Ada perlu apa?" Bu Nining menatap Irina lekat.


"Ada perlu penting, kalau begitu saya akan kembali lagi jam 3 sore nanti, saya permisi, Bu." Meyda segera memundurkan langkahnya, dan pergi dari sana dengan cepat, karena dia mempunyai feeling tidak enak.


"Hei! Tunggu!" seru Bu Nining lalu berdecap, padahal dia ingin bertanya lebih lanjut tentang pekerjaan Irina.


"Apa benar tadi itu teman kerjanya Irina? Dia bilang akan kembali jam 3 sore. Wah, nggak boleh ketinggalan ini. Aku penasaran sekali dengan perkerjaan Irina yang menghasilan banyak uang," gumam Bu Nining lalu masuk ke dalam rumah.


"Yang datang siapa, Bu?" tanya Yoga.


"Temannya Irina."


"Lalu mana orangnya? Kok nggak kelihatan?" Yoga celingukan menatap ke arah pintu.


"Sudah pergi, katanya ada perlu penting sama istrimu," jelas Bu Nining.


"Wah, jangan-jangan dia mau mengajak Irina bekerja lagi. Nggak bisa di biarkan!" gumam Yoga kesal.