
Rahang dan tangannya terkepal kuat ketika emosi menguasai hati dan pikirannya. Akan tetapi Aslan berusaha untuk tetap menahan emosinya sekuat tenaga.
Kedua matanya menatap tajam pada wanita yang berdiri di hadapannya. Rasanya dia ingin mencaci maki wanita itu akan tetapi dia tidak mampu untuk melakukannya.
“Kamu pasti kelelahan. Ayo, masuk ke rumah.” Aslan berkata seraya menggandeng tangan Irina masuk ke dalam rumah.
Wanita itu diam tak menyahut, tapi dia juga tidak menolak permintaan Aslan yang membawanya masuk ke rumah, menuju kamar mereka.
Aslan membuang nafas kasar seraya berkacak pinggang menatap tajam Irina yang berdiri diam dan tertunduk di dekatnya.
“Sekarang katakan kenapa kamu ingin mengakhiri semua ini! Apakah kamu lupa dengan semua perjanjian yang sudah kita sepakati?!” geram Aslan, meluapkan emosinya.
“Maafkan aku, Aslan. Aku tentu ingat semua kesepakatan kita. Tapi aku mohon berikan aku kebebasan untuk sementara waktu karena Mas Yoga sudah mulai curiga,” jelas Irina kepada pria yang masih terlihat sangat emosi itu.
“Persetan dengan suamimu yang penyakitan itu! Sampai kapan pun kau tidak akan pernah aku lepaskan!” balas Aslan penuh emosi, menatap tajam pada wanita yang ada di hadapannya ini.
“Aslan aku mohon!” Irina mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Bahkan dia rela bersimpuh di hadapan pria tersebut dan terus memohon agar pria itu melepaskannya.
Aslan berdecih lalu menarik tangan Irina agar berdiri kembali, akan tetapi wanita itu tidak mau dan tetap kekeuh bersimpuh di dekat kakinya. Hal ini membuat Aslan semakin di rundung emosi dan perasaan yang mulai tidak menentu.
“Sekali lagi aku mohon lepaskan aku untuk sementara waktu,” pinta Irina, terus memohon kepada pria tersebut.
Aslan menghela nafas kasar, dia mensejajarkan diri, berjongkok di dekat wanita tersebut. Dia menjadi tidak tega kepada Irina yang terus mohon kepadanya. Lagi pula hanya untuk sementara waktu ‘kan? Hal yang bersifat sementara itu tidak lama ‘kan, pikir Aslan.
“Berapa lama yang kamu butuhkan?” tanya Aslan seraya mengusap air mata Irina yang membasahi pipi mulusnya.
“1 bulan,” jawab Irina dengan cepat, menatap Aslan dengan dalam.
“Sangat lama, aku tidak bisa,” jawab Aslan seraya mengehala nafas panjang, rasa begitu berat melepaskan Irina walau hanya sebentar.
Aslan terdiam, dia seolah sedang memikirkan permintaan Irina. Saat ini dia yang merasa dilema.
“Aku akan memikirkannya. Ayo, berdiri!” Aslan beranjak, lalu membantuh Irina berdiri dari bersimpuhnya.
“Aslan ...”
“4 hari lagi tepat 1000 jam, aku akan memberikan jawabannya,” ucap Aslan tegas lalu segera keluar dari kamar tersebut sambil mengacak rambutnya frutrasi.
Irina menghela nafas panjang, dia sangat berharap Aslan melepaskannya untuk sementara waktu.
Melepaskannya sementara waktu? Tentu saja hal itu hanya untuk di jadikan Irina alasan agar bisa lepas dari Aslan selamanya.
Meskipun dia merasa nyaman dengan Aslan, dan menganggumi pria tersebut, akan tetapi pilihannya tetap jatuh pada suami sahnya.
Mungkin Irina terlihat sangat egois, tapi mau bagaimana lagi dia harus melepaskan salah satunya walau terasa sangat berat.
Tapi, kenapa Irina bisa seyakin itu akan lepas dari jerat Aslan untuk selamanya? Apakah wanita itu lupa kalau Aslan adalah sang penguasa?
****
Galau 'kan?
Sama emak otor juga galau tingkat kabupaten🥹
Jangan lupa like, mau up 3 bab.