
Irina duduk di kursi kayu jati berhadapan dengan ibu panti di dalam ruangan sempit. Deritan suara kipas angin tua menjadi irama musik yang mengiringi keheningan di dalam ruangan tersebut. Irina menatap getir pada meja tua dan lapuk yang menjadi penyekat antara dirinya dan ibu panti.
Ibu panti menghela nafas panjang, lalu menelan ludahnya getir sebelum membuka suara.
“Irina, panti ini sedang kesulitan ekonomi, tidak ada satu pun donatur dalam satu bulan ini, tabungan semakin menipis, dan 40 anak di panti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ucap Ibu panti dengan suara nyaris tercekat. Ibu panti sangat takut, jika kejadian beberapa bulan yang lalu saat masih berada di Jakarta terulang lagi, di mana bangunan panti di sana di sita bank karena tidak bisa melunasi hutang yang lewati perjanjian. Ibu panti ingin menyerah, akan tetapi dia kasihan pada anak-anak panti yang tidak memiliki siapa pun selain dirinya. Setetes cairan bening meluncur mudah dan membasahi pipinya yang sudah di penuhi dengan garis-garis halus.
Irina turut merasa getir, dia mengangkat kedua tangannya untuk menggenggam erat kedua tangan ibu panti yang di letakkan di atas meja. Irina berusaha menenangkan Ibu panti dengan cara mengusap salah satu punggung tangan yang kurus dan keriput itu dengan penuh kelembutan.
“Pasti ada cara untuk menyelamatkan panti ini, Bu. Aku di besarkan di panti ini, maka aku juga akan mempertahankan panti ini dengan sekuat tenaga,” ucap Irina terdengar sangat meyakinkan.
“Aku mempunyai tabungan, ibu bisa memakainya, dan aku juga akan ke Jakarta untuk kembali bekerja,” lanjut Irina dengan penuh semangat.
“Ibu nggak akan mengizinkanmu kembali bekerja dengan kondisi seperti ini, Irina. Jakarta sangat jauh dari desa ini, membutuhkan waktu 10 jam lebih untuk sampai ke sana, apalagi kondisimu sedang berbadan dua.” Ibu panti tidak setuju dengan rencana Irina yang ingin kembali ke Jakarta.
Irina menunduk, seraya mengelus perutnya yang masih rata. Irina menelan ludahnya dengan kasar, niat hati ingin melupakan dan menjauh dari Aslan, tapi dia malah membawa benih pria tersebut, membuat Irina semakin galau karena tidak bisa melupakan pria itu.
Satu minggu yang lalu, Irina mengalami kram perut yang sangat hebat, dia pun segera memeriksakan diri ke puskesmas. Setelah dokter memeriksa perutnya, betapa terkejutnya dirinya saat dokter mengatakan kalau dirinya tengah hamil muda. Karena tidak percaya, Irina pun meminta untuk mengeceknya sendiri dengan tespack, dan ternyata hasilnya positif. Dan saat ini kehamilannya sudah memasuki usia 3 bulan.
Walau janin di dalam kandungannya dari hasil hubungan gelapnya dengan Aslan, Irina akan membesarkannya dengan setulus hati.
Irina kini berada di dalam kamarnya, wanita cantik itu berjalan menuju lemari tua yang ada di sudut kamar. Entah kenapa sejak tadi pikirannya tertuju pada tas slempang yang sudah dia abaikan selama 3 bulan ini.
“Sebenarnya ada apa dengan tas slempang ini? Kenapa sejak tadi pikiranku tertuju kepada tas ini.” Irina bergumam sambil mengambil tas slempang berwarna coklat, lalu mendudukkan diri di tepian tempat tidur sambil membuka tas tersebut yang membuat hati dan pikirannya penasaran sejak tadi.
Tatapan Irina tertuju pada amplop putih yang sudah sedikit robek di bagian atas. Irina segera mengambil dan menatap isi amplop tersebut. Kedua matanya membola sempurna dan mulutnya menganga lebar tapi dia segera membekapnya dengan salah satu tangannya.
“Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari segala kesulitan kami.” Irina terharu ketika melihat dua benda yang pernah di berikan Aslan kepadanya. “Tapi, apakah aku boleh menggunakan dua benda ini?” tanya Irina sambil mengambil black card dan kartu ATM dari amplop tersebut.
“Masa bodo, aku membutuhkan banyak uang untuk anak-anak di panti ini.” Irina segera beranjak dari duduknya, memasukkan dua benda itu ke dalam kantong celananya, kemudian keluar dari kamarnya dan berpamitan pada Ibu Panti.
“Bu, aku akan ke kabupaten, ingin mengambil uang tabungan,” pamit Irina pada Ibu panti yang masih di dalam ruangan.
“Irina, maafkan ibu karena sudah membebanimu,” ucap Ibu panti tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, Bu, aku melakukan semua ini dengan ikhlas,” jawab Irina seraya mengecup punggung tangan Ibu panti dengan sopan.