
"Aku harus mengambil uang lebih dulu sebelum kembali ke desa," ucap Irina ketika dia sudah berada di dalam taksi bersama Aslan.
"Berapa banyak uang yang kamu butuhkan?" tanya Aslan pada Irina.
"Sangat banyak, dan tidak terhitung."
"Kau terkesan meremehkan aku. Begini saja, aku akan menjadi donatur panti itu tapi dengan satu syarat yaitu kamu harus menikah denganku, bagaimana?" jawab Aslan sekaligus bertanya pada Irina yang duduk di sebelahnya.
"Ternyata kamu nggak mau rugi, ya!" cibir Irina, seraya melirik sebal pada Aslan.
"Ya, karena itulah aku. Tidak akan mau rugi, apalagi itu menyangkut tentang kamu dan calon baby kita. Bagaimana kau mau menerima lamaranku?" tanya Aslan lagi, seraya mengecup punggung tangan wanitanya.
"Hei! Ternyata kamu sedang melamarku? Ish, tidak romantis sekali!" olok Irina, pura-pura marah dan tidak terima pada Aslan.
"Aku bukan tipe pria yang romantis Irina, setidaknya aku sudah berusaha keras untuk mengungkapkan perasaan dan keinginanku untuk menikahimu, bagaimana? Apakah kamu setuju menikah denganku?" Aslan menatap Irina dengan tatapan penuh damba, berharap kalau wanita yang ada di sampingnya itu mau menerima lamarannya.
"Mau menolak pun percuma karena kecambahmu sudah bertunas di rahimku," jawab Irina mengerucutkan bibir seraya menatap Aslan yang juga tengah menatapnya.
"Jangan bilang kalau kau terpaksa menerima lamaranku?!" Aslan memicingkan kedua mata, lalu menarik hidung mancung Irina hingga membuat wanita itu memekik kesakitan dan meminta ampun pada Aslan.
"Sakit!" rengek Irina dengan manja ketika Aslan melepaskan hidungnya. Irina mengusap-usao hidungnya yang terasa sakit, dan dia yakin kalau hidung mancungnya itu berwarna merah dan sedikit panjang seperti pinokio.
"Rasakan itu!" balas Aslan seraya mendengus kesal.
"Aku 'kan hanya bercanda, tapi kenapa kau begitu serius menanggapi ucapanku?!" dengus Irina seraya menggeser duduknya, menjauhi Aslan yang tampak masih kesal padanya.
Aslan menghela nafas kasa, entah kenapa belakangan ini dia mudah tersinggung. Apakah ini ada hubungannya dengan calon bayinya? Jika iya, dia akan tersiksa lahir dan batin. Aslan mendekati Irina, lalu merengkuh pundak wanita itu dengan kasih sayang.
"Maafkan aku ya. Hidung merah, sekali lagi maafkan aku." Aslan mencolek hidung Irina pelan, lalu membawa wanita itu ke dalam dekapan hangatnya.
"Dari dulu kamu memang sangat menyebalkan. Untuk kali ini aku memaafkanmu," jawab Irina cemberut, seraya membalas pelukan pria tersebut.
"Terima kasih, tapi selanjutnya aku tidak akan membuat kesalahan yang sama," ucap Aslan.
*
*
Taksi yang Aslan dan Irina kendarai telah berhenti di depan pintu gerbang rumah mewah Aslan.
Aslan keluar dari mobil terlebih dahulu lalu mengulurkan tangannya pada Irina, membantu wanita itu keluar dari taksi tersebut.
"Terima kasih, Pak," ucap Aslan pada sopir taksi yang duduk di balik kemudian, lalu dia membayar ongkos dengan uang cash. Setelah itu dia membawa Irina masuk ke dalam rumah mewahnya.
Ternyata di dalam rumahnya ada kedua orang tuanya yang sudah menunggu dengan raut kesal bercampur cemas.
"Kenapa kamu memaksa keluar dari rumah sakit Aslan? Lihat wajahmu masih sangat pucat, dan kamu juga pasti masih lemas!" omel Allegra pada putranya yang baru memasuki rumah.
"Ma, jangan marah-marah dong. Aku pulang karena tidak bisa berjauhan dengan Irina," jelas Aslan pada ibunya.
"Alasan!" sahut Gerry tersenyum smirk seraya menatap putranya dengan tatapan mengolok. Sepertinya Gerry sangat senang dan bahagia kalau putranya dimarahi oleh Allegra.
"Maafkan aku, Ma. Aku sudah berusaha membujuk Aslan untuk tetap di rumah sakit, tapi dia nggak mau," jelas Irina dengan perasaan bersalahnya.
"Tidak apa-apa, Irina. Anak satu ini memang paling bandel dan sulit di kasih tahunya," jawab Allegra pada Irina.
"Ma, aku akan mengantarkan Irina kembali ke Desa." Perkataan Aslan tentu saja membuat kedua orang tuanya sangat terkejut.
"Pulang ke Desa? Memang selama ini Irina tinggal di Desa?" tanya Allegra menatap Irina, meminta penjelasan.
"Iya, Ma. Aku tinggal di panti," jawab Irina lalu menjelaskan perjalanannya hingga sampai ke panti tersebut.
Allegra dan Gerry menganggukkan kepala setelah mendengar penjelasan Irina, bertanda kalau mereka sudah paham.
"Kalian boleh pergi ke Desa tapi dengan syarat, kalian harus menikah lebih dulu." Allegra memberikan keputusan dengan tegas, seolah tidak ingin dibantah.