
Tepat jam 3 sore, Irina pulang ke rumahnya dengan tubuh yang sangat lelah. Bertepatan dengan datangnya Meyda di sana.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Irina panik saat melihat Meyda berjalan di halaman rumahnya. Irina yang belum masuk ke dalam rumah, celingukan menatap sekitar, takut kalau ada Yoga atau Ibu mertuanya yang melihat Meyda.
"Aku ke sini atas perintah Aslan. Penting," bisik Meyda sembari menatap ke arah pintu rumah tersebut. Secepat kilat, Meyda menarik tangan Irina, mengajak wanita tersebut berbicara di tempat lain.
Tapi, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan kedua wanita tersebut dari kejauhan. Siapakah itu?
Rahasia dong!🤣
Di sinilah, Meyda dan Irina berada, di depan minimarket sambil menikmati es krim.
"Jadi, untuk apa Aslan menyuruhmu datang kemari?" tanya Irina menatap Meyda yang asyik menikmati es krimnya.
"Aslan, minta gue untuk nyerahin ini ke lo." Meyda merogoh tasnya, dan memberikan amplop berwarna putih pada Irina.
"Apa ini?" tanya Irina sembari menerima amplop tersebut.
"Mana gue tahu! Coba buka sekarang, gue juga penasaran," ucap Meyda pada Irina yang menganggukkan kepala bertanda setuju.
Irina membuka amplop putih itu dengan cepat. Dia membulatkan kedua matanya saat melihat dua kartu ATM dan kartu kredit di dalamnya, juga ada sepucuk surat di sana.
Rasa penasaran Meyda sudah terpuaskan ketika sudah melihat isi amplop tersebut. Kini dia kembali fokus makan es krimnya lagi.
Irina dengan perlahan membuka sepucuk surat, kemudian membacanya dengan seksama.
Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan. Sama halnya seperti hubungan kita yang berakhir penuh tanda tanya.
Irina, apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja di sana.
Terima dua kartu itu dan gunakan semaumu. Di kartu ATM sudah aku kirimkan uang sebesar 1 Miliar yang aku janjikan kepadamu. Itu bukan bayaranmu, melainkan sebuah ucapan terima kasih dariku. Aku harap, kamu tidak menolak pemberianku.
I love you more than anything.
Kedua mata Irina berkaca-kaca ketika selesai membaca surat dari Aslan.
"I love you too, Aslan," balas Irina namun hanya di dalam hati.
Irina melipat kertas itu menjadi beberapa bagian dan menjadi kecil. Dia mendongak, menatap langit sore yang terlihat mendung, sama seperti hatinya yang saat ini merasa mendung dan di selimuti kesedihan.
Cinta bertepuk sebelah tangan, apakah kata-kata itu pas untuk hubungan keduanya? Karena mereka tidak bisa saling memiliki karena sebuah keadaan yang tidak memungkinkan.
Tak semua perjalanan cinta bisa selalu berjalan mulus dan membahagiakan. Ada kalanya perasaan yang kita miliki diuji oleh keadaan, dan orang yang kita cintai.
Tentu saja pasti memilukan, tetapi pada akhirnya kita tidak bisa memaksa. Manusiawi jika tidak terima, manusiawi juga merasa payah dan tak berarti. Tapi bukankah tidak semua cinta bisa saling memiliki.
Intinya harus ikhlas.
Irina mengusap air matanya yang menetes membasahi pipi. Dia menghela nafas panjang, kala sebuah rasa sesak mulai terasa. Irina memasukkan dua kartu dan sepucuk surat itu ke dalam kantong celananya. Tatapan matanya beralih pada Meyda yang masih asyik makan es krim.
"Mey, terima kasih banyak," ucap Irina.
"He-em, santai saja," jawab Meyda tanpa menoleh, karena es krim yang ada di tangannya lebih menarik dari apa pun.
"Aku pulang dulu ya," pamit Irina dan diangguki oleh Meyda.
***
Mewek ngetik bab ini, huaaa 😭
Jangan lupa dukungannya buat Irina 😘