1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Lepaskan aku, Aslan!



Wanita, jika memiliki 2 laki-laki di dalam hatinya, maka laki-laki pertama di pertahankan karena status, sedangkan laki-laki yang kedua akan menjadi pemenang dalam hatinya meski sulit untuk bersama.


Kalimat di atas menggambarkan perasaan Irina saat ini. Hanya saja Irina belum menyadari bahwa nama Aslan mulai bertahta di dalam hatinya. Yang dia rasakan kepada Aslan saat ini adalah sebuah rasa nyaman.


"Bila ragamu di sini akan tetapi jiwamu melayang di tempat lain, lebih baik kamu pergi dari sini!" seruan Yoga menyadarkan Irina dari lamunannya.


Wanita tersebut menoleh, menatap suaminya dengan tatapan yang sulit untuk dijabarkan.


Yoga merasa jengah dan emosi, karena istrinya seharian hanya bengong di dalam kamar inapnya. Padahal dirinya juga membutuhkan perhatian, namun Irina seolah tidak memedulikannya.


Bu Nining melerai putranya dengan lembut agar tidak memarahi Irina. Wanita paruh baya itu merasa sebal juga pada putranya yang terlalu berlebihan, hingga membuatnya merasa tidak enak hati kepada Irina.


"Apakah kehadiranku menganggumu, Mas? Jika iya, aku akan pergi," ucap Irina dengan lirih, menatap suaminya dengan nanar.


Yoga diam tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya ke arah tembok, malas menatap wajah istrinya, karena bayang-bayang mimpi buruknya itu terus saja berputar di kepalanya, membuatnya selalu emosi saat mengingatnya.


"Sudah, Rin. Jangan dengarkan ucapan Yoga, emosinya sedang tidak stabil," ucap Bu Nining menghampiri menantunya yang duduk di kursi.


"Sejauh ini aku berusaha kuat dan bertahan, semua sudah aku korbankan demi kesembuhannya, akan tetapi dia sama sekali tidak menatapku atau pun menghargai perjuanganku! Aku capek, Bu, aku ingin berhenti tapi aku tidak bisa, Mas Yoga masih butuh pengobatan dan perawatan medis, dan pastinya biayanya sangat mahal." Irina mencurahkan segala rasa yang dia pendam selama ini. Rasa yang begitu menyesakkan dada dan membuatnya terjebak pada dua pilihan yang begitu rumit. Air mata itu menetes deras di pipi, dia menangis di dalam pelukan ibu mertuanya yang selama ini sangat baik kepadanya. Di sela tangisnya yang begitu memilukan, dia menghembuskan nafasnya berulang kali, berharap dadanya yang terasa sesak sedikit melonggar, akan tetapi usahanya itu sia-sia. Rasa sesak di dalam dada kian menjerat hingga membuatnya kesulitan bernafas.


Yoga yang mendengarkan curahan hati istrinya ikut meneteskan air mata. Dia menatap Irina yang sedang di peluk oleh ibunya. Ingin rasanya dia mengatakan 'sudah jangan menangis lagi' akan tetapi kata-kata yang tersusun rapi itu seolah tertahan di ujung lidahnya yang terasa kelu. Yoga yang terbaring di atas tempat tidur, berusaha keras untuk bangun dan mendudukkan diri, akan tetapi entah kenapa hari ini dia tidak memiliki tenaga sama sekali. Tubuhnya terasa lemas, dan seluruh badannya sakit, akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk duduk. Dia menatap istrinya dari kejauhan yang masih menangis di pelukan ibunya.


"Maafkan aku, Rin," gumam Yoga, yang terlalu pengecut untuk mengucapkan kata maaf kepada istrinya. Keegoisannya mulai menyerang kala mimpi yang terlihat nyata itu menari-nari di kepalanya.


Yoga yakin kalau mimpi itu bukanlah sekedar mimpi akan tetapi sebuah petunjuk untuknya.


Dia kembali ke rumah Aslan menggunakan taxi. Satu jam perjalanan akhirnya dia sampai di rumah mewah Aslan. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, ternyata Aslan sudah pulang kini pria tersebut menyambut kedatangan Irina.


"Ada apa? Kenapa wajahmu sembab?" tanya Aslan seraya menaikan ujung dagu Irina, menatap lekat kedua mata indah itu yang terlihat memerah.


"Aku tidak apa-apa," jawab Irina seraya menepis pelan tangan Aslan. Dia sedang malas berbicara, dan tidak ingin diganggu.


"Apakah pria penyakitan itu melukaimu?!" tanya Aslan mengeraskan rahangnya, kedua matanya semakin menajam dan terlihat sangat mengerikan.


"Dia suamiku! Kamu tidak punya hak mengatainya seperti itu!" tegas Irina menatap tajam Aslan, akan tetapi tatapan tajamnya itu berubah sendu, dan tidak berselang lama air matanya kembali menetes di pipi.


"Kamu mulai berani melawanku, Rin!" geram Aslan.


"Aku lelah, jangan mengajakku berdebat!" balas Irina tanpa rasa takut sedikitpun pada pria yang ada di hadapannya itu.


"Irina!!" Aslan semakin emosi saat wanitanya berani melawannya.


Irina mengusap wajahnya dengan kasar sekaligus menyusut air matanya yang mengalir di pipi.


"4 hari lagi genap 1000 jam. Aku ingin mengakhiri semua ini! Lepaskan aku, Aslan," ucap Irina dengan suara yang bergetar. Sejujurnya dia merasa sangat berat saat mengambil keputusan tersebut, tapi mau bagaimana lagi, dia harus mengorbankan salah satu di antara dua pria yang bertahta di dalam hatinya.


Aslan membatu ketika mendengar permintaan Irina.