
Malam itu Meyda menemani Kevin minum club malam sampai pria itu mabuk. Setelah Kevin mabuk, Meyda melancarkan aksinya. Wanita tersebut memberikan beberapa pertanyaan kepada pria tersebut.
"Tuan Kevin, kenapa Anda mencari tahu tentang Irina?" tanya Meyda sambil mengguncang bahu Kevin yang bersadar di sofa.
"Karena aku ingin membuat Aslan menderita! Dia tidak boleh bahagia." Kevin dengan suara yang tidak jelas, karena posisi kepalanya tertunduk dalam.
"Anda ini kejam sekali!" Meyda memukul kepala Kevin sedikit keras. Kesal dan emosi pada pria tersebut.
"Hei!! Sialan!!" umpat Kevin seraya mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh Meyda.
Meyda menatap sengit kepada Kevin. Mumpung pria tersebut sedang mabuk dia kembali menonyor kepala Kevin dengan gemas. "Rasakan itu, dasar otak udang! Sampai kapan pun kau tidak akan bahagia kalau di dalam hatimu hanya ada kebencian belaka! Anak siapa sih kamu bisa-bisanya punya pikiran dengki seperti ini!" cerocos Meyda pada Kevin yang sudah mulai tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum.
"Hei, jangan pingsan dulu!" Meyda kembali menggucang bahu Kevin agar pria itu segera tersadar kembali.
"Hemmmmm." Kevin bergumam sambil menggaruk pipinya, lalu menggeliatkan badannya, seolah mencari posisi nyaman di sofa tersebut.
"Katakan dulu kepadaku, apa rencana Anda selanjutnya?!" Kali ini Meyda berbicara sambil menggoyangkan wajah Kevin, tapi sayangnya pria tersebut sudah tidak sadar. "Hih, menyebalkan!" umpat Meyda memukul lengan pria itu.
Karena sudah akan menjelang pagi, dan club malam itu akan tutup, Meyda dengan berat hati harus mengantar pria tersebut pulang. Wanita tersebut meminta bantuan kepada dua bodyguard yang berjaga di club malam itu untuk membawa Kevin ke dalam mobilnya.
"Kalau bukan uang 500 juta, gue malas bersusah payah mengantarin lu!" sungut Meyda ketika sudah sampai di dalam mobil, menatap Kevin yang terbaring di jok belakang. "Untuk saat ini lu jadi aset gue, mau nggak mau gue harus berpura-pura baik sama lu, kampret!" lanjut Meyda mengumpat, lalu melajukan mobilnya keluar dari area parkir club malam tersebut.
"Ck! Lupa gue, alamatnya di mana ya?" Meyda menghentikan mobilnya, untuk mencari identitas Kevin. Setelah mendapatkannya, barulah dia kembali menjalankan mobilnya mengantarkan Kevin menuju apartemen pria tersebut.
Sampai di lobby apertemen. Meyda meminta bantuan security untuk membawa Kevin menuju unit apartemen pria tersebut.
"Huh!" Meyda mengehela nafas panjang, setelah tugasnya hari ini selesai. Dia masuk kembali ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya menuju rumahnya. Besok dia akan menemui Dimas untuk memberikan laporan tentang Kevin.
*
*
"Iya," jawab Irina menatap Aslan sekilas, karena dia saat ini sedang menyisir rambut.
"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu, karena pagi ini ada meeting penting." Aslan mendekat, lalu memeluk Irina dari belakang, lalu mengecup pipi wanita itu berulang kali.
Irina tersenyum menatap Aslan dari pantulan cermin yang ada di hadapannya, kemudian ia mengusap rahang tegas pria tersebut yang ditumbuhi dengan bulu-bulu kasar.
"Kamu akan di antarkan oleh sopir. Ingat, waktumu hanya satu jam saja," ucap Aslan penuh penekanan lalu menggigit cuping telinga wanita dengan gemas.
"Aslan, untuk hari ini saja, tolong berikan aku waktu lebih. Aku mohon." Irina membalikan badan, tanpa mengurai pelukan pria tersebut. Kini dia menghadap pada Aslan, menatap pria tersebit dengan tatapan memohon.
"Aslan, please." Irina langsung berjinjit dan mencium bibir tebal itu dengan mesra. Anggap saja saat ini dia sedang marayu Aslan dengan cara murahan.
Mendapatkan ciuman dari wanitanya, tentu saja Aslan tidak menolak, dan langsung membalas ciuman Irina dengan penuh gairah.
"Aku membebaskanmu untuk hari ini saja, tapi berikan aku kepuasan!" Aslan tentu saja tidak mau melewatkan kesempatan berharga ini.
"Baik," jawab Irina setelah memikirkannya. Dia merindukan suaminya, dan ingin menemani Yoga sepanjang hari.
Ya tuhan betapa rendahnya diriku ini, pikir Irina, tapi semua itu dia lakukan untuk kesembuhan suaminya.
***
Jangan lupa like dan dukungan lainnya❤