1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Minum Racun!



“Jadi selama ini Nona Irina ke mana saja? Tahu nggak kalau Tuan Aslan mencari keberadaan Nona seperti orang kesetanan,” tanya Bi Inah pada Irina yang duduk di dekatnya, tepatnya di ruang tamu.


“Masa sih?” Irina seolah tidak percaya dengan ucapan Bi Inah.


“Iya, mana mungkin saya bohong. Dan Selama ini Nona ke mana?” tanta Bi Inah lagi karena Irina tidak menjawab pertanyaannya.


“Saya nggak ke mana-mana kok, Bi,” jawab Irina seolah tidak ingin memberitahukan tempat tinnggal barunya kepada siapa pun.


“Jadi, Aslan ke mana, Bi? Dia masih kerja? Soalnya aku tidak bisa lama-lama di sini,” ucap Irina sambil celingukan mencari keberadaan Aslan di rumah tersebut. Sebenarnya dada Irina saat ini sedang bergemuruh saat memasuki berada di rumah mewah tersebut—rumah yang mempunyai banyak kenangan, meski dia tinggal di sana hanya 1000 jam.


“Tuan Aslan sakit karena setiap hari memikirkan Anda. Kenapa Nona pergi? Kenapa Anda meninggalkan Tuan Aslan yang sangat mencintai Anda?” jawab Bi Inah sekaligus bertanya sambil menatap Irina dengan nanar, menandakan dia saat ini sedih dengan kondisi Aslan, tapi juga merasa terharu karena Irina telah kembali. Dan semoga Irina tetap tinggal di rumah tersebut dan menikah dengan Aslan, harapan Bi Inah di dalam hati.


“Sakit? Sakit apa?” Irina terkejut sekaligus cemas mendengarnya, tapi dia segera menepis perasaannya itu. “Dan untuk pertanyaan Bibi, mohon maaf aku tidak bisa menjawabnya,” lanjutnya.


Bi Inah menarik nafas panjang, dia paham kalau tidak seharusnya bertanya seperti itu pada Irina, karena pertanyaannya itu terlalu sensitive yang membuat Irina enggan untuk menjelaskan.


“Maafkan, Bibi karena banyak bertanya sama Nona Irina,” ucap Bi Inah tidak enak hati.


Irina mengangguk dan tersenyum tipis secara bersamaan.








Dimas menghentikan langkahnya, tatapannya tertuju pada seorang wanita yang sudah membuat bossnya kalang kabut sampai di rawat di rumah sakit. Tanpa banyak bicara lagi, Dimas mendekati Irina yang sedang mengobrol dengan Bi Inah. Irina tidak menyadari kedatangannnya, karena wanita tersebut membelakanginya.


“Irina! Ikut aku sekarang juga!” Dimas langsung menarik tangan Irina, membuat wanita itu terkejut, seraya menyentakkan tangannya yang di cekal oleh Dimas, namun dia gagal karena cekalan Dimas sangat kuat di salah satu pergelangan tangannya.


“Dimas! Aku tidak mau! Kamu ingin membawaku ke mana!?” Irina protes karena Dimas tidak melepaskan tangannya, jadi terpaksa ia mengikuti Dimas.


Bi Inah melihat kejadian itu pun diam saja, meski Irina beberapa kali berteriak meminta tolong kepadanya.


“Kau harus bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah kamu perbuat!” tegas Dimas seraya menjejalkan badan Irina ke dalam mobil bagian depan.


“Kekacauan apa?” tanya Irina bingung, menuntut penjelasan pada Dimas yang kini sudah duduk di balik kemudi.


“Aslan hampir mati karena ulahmu! Kamu harus ikut denganku untuk menemui Aslan di rumah sakit!” jawab Dimas seraya melajukan mobilnya keluar dari area rumah tersebut.


DEG!


Jantung Irina berdetak sangat cepat ketika mendengar jawaban Dimas. “Aslan hampir mati?” tanya Irina lagi dengan raut wajah yang syok bercampur sedih, dan kedua matanya berkaca-kaca.


“Dia minum racun!” jawab Dimas mengarang bebas, agar lebih mendramatisir.


“Apa? Bagaimana bisa?!” Irina sangat terkejut dan hampir pingsan dibuatnya.


Dimas diam tidak menjawab pertanyaan Irina, karena pria itu sedang menahan tawa.


***


Dimas menyebelin banget, tapi suka 🤣🤣