1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Masih Mual



"Maafkan kami, Mbak, kami tidak bisa mencairkan uang Anda karena Bank-nya berbeda," ucap teller Bank pada Irina yang berdiri berseberangan dengannya.


Irina merasa sangat kecewa dengan penjelasan teller wanita tersebut. Dia sudah jauh-jauh datang ke Kabupaten untuk mengambil uang, tapi sayang pihak Bank tersebut tidak bisa mencairkan uang yang ada di ATM-nya.


"Jadi, apakah ada solusi lain? Soalnya aku hanya mempunyai ATM ini saja," ucap Irina seraya memegang ATM-nya yang bertuliskan 'Bank Asia'. Di Kabupaten hanya ada 1 Bank saja yaitu 'Bank Rakyat',  dan di kantor Bank tersebut tidak ada mesin ATM, jadi kalau ingin mengambil uang langsung ke teller-nya dengan membawa buku tabungan dan KTP.


"Solusinya, Anda harus ke Kantor Pusat di mana Anda membuka tabungan Bank itu," jelas teller Bank tersebut.


"Ke Kantor Pusat, jadi saya harus ke Jakarta? Apa nggak ada solusi lain lagi?" tanya Irina merasa keberatan jika harus ke Jakarta.


"Di Kabupaten sebelah ada Kantor Bank Asia, tapi Anda harus membawa buku tabungan beserta KTP Anda," jelas teller lagi dengan sabar.


Irina langsung lemas ketika mendengar penjelasan teller tersebut. Dia pun segera mundur dan tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih pada wanita yang berdiri di balik meja tersebut.


"Bagaimana ini? Masa aku harus ke Jakarta. Tapi, disisi lain aku membutuhkan uang banyak demi keberlangsungan panti," gumam Irina sembari berjalan keluar dari kantor Bank tersebut.


Ck!


"Kenapa Aslan hanya memberiku ATM saja sih! Kenapa nggak sekalian sama buku tabungannya? Ngeselin!" sungut Irina seraya mempercepat langkah kakinya, menuju terminal bus untuk kembali ke desa karena jarak antara Kabupaten menuju desa membutuhkan waktu 2 jam lebih.


*


*


*


Aslan berjalan memasuki rumahnya, dia hari ini hanya bekerja setengah hari karena tidak tahan dengan rasa mual dan pusing yang sedang dia rasakan.


Bibi datang tergopoh-gopoh menghampiri Aslan yang berjalan tertatih memasuki rumah.


"Tuan kenapa? Sakit?" tanya Bibi cemas.


"Sudah tahu tanya! Cepat buatkan aku teh hangat!" jawab Aslan dengan nada sewot.


"Ba-baik, Tuan." Bibi segera berlari menuju dapur untuk membuatkan teh hangat keinginan majikannya.


"Ah, sial!! Kenapa rasa pusing dan mual ini nggak kunjung hilang!" umpat Aslan sambil berjalan meniti tangga, menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Sampai di dalam kamar, Aslan langsung merebahkan diri di atas ranjang. Dia menatap langit-langit kamar seraya meletakkan salah satu tangannya di kening. Nafasnya naik turun tidak beraturan ketika rasa mual mengaduk-aduk perutnya.


"Shiit!" Aslan mendudukkan diri, kemudian segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


"HOEK!"


Aslan menunduk di wastafel, mengeluarkan isi perutnya, tapi sayang yang keluar hanyalah cairan bening saja. Pria tampan itu bergegas keluar dari kamar mandi setelah selesai dengan urusannya, dia kembali merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi meringkuk seperti bayi.


Tak berselang lama, Bi Inah mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamarnya sambil membawa segelas teh hangat yang sudah di campur dengan madu untuk majikannya.


"Tuan, di minum dulu tehnya," ucap Bi Inah seraya meletakkan segelas teh itu di atas nakas.


"Hemm!" Aslan hanya menjawab dengan deheman saja sambil memejamkan kedua mata. Tubuhnya benar-benar lemas dan tak berdaya.