1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Ayam Mercon Aduhai



Awalnya menolak dan terus meronta di pelukan Aslan, tapi  sekarang Irina justru tunduk di bawah kekuasan Aslan yang selalu membuat Irina tak berdaya.


"Jadi di sini ada benihku?" Aslan mengusap perut rata Irina dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang, rasa hangat menjalar ke relung hatinya yang paling dalam dan menyebar keseluruh jiwa dan raganya saat tangannya menyentuh perut Irina.


"As, geli," ucap Irina seraya melirik Aslan menciumi perutnya secara beruntun. "Aslan, bisa menghentikannya? Aku ingi  berbicara serius denganmu," ucap Irina memohon pada Aslan yang kini menurunkan celana jeans yang dia kenakan. Irina dengan cepat mendudukkan dirim, menahan kedua tangan Aslan yang ingin menjamah bagian intinya.


"Irina, aku sangat merindukanmu, dan aku ingin menjenguk benihku yang sudah berkembang di dalam rahimmu, kenapa kamu malah melarangku?!" kesal Aslan, menegakkan badannya dan menatap Irina sangat tajam.


"Aslan aku serius! Aku ingin berbicara mengenai uang yang ada di ATM-ku!" tergas Irina mengabaikan Aslan yang merajuk padanya.


"Please, aku membutuhkan uang itu untuk keberlangsungan yayasan panti yang sudah merawatku sejak kecil," lanjut Irina, memohon pada Aslan.


"Kenapa kamu nggak ambil sendiri uang itu di ATM?" tanya Aslan menatap Irina sebal.


"Aku tidak tahu PIN-nya," jawab Irina mengerucutkan bibirnya, menatap singit pada Aslan yang masih sebal kepadanya.


"PIN-nya tanggal lahirmu sendiri, masa kamu lupa? Bukankah Black Card milikmu PIN-nya sama dengan ATM-mu," jelas Aslan menatap Irina sambil geleng-geleng kepala.


"Oh iya ya? Argghh!! Kenapa bisa melupakannya?!" Irina memekik kesal tapi tak berselang lama dirinya tersenyum senang. "Tahu gitu aku nggak perlu jauh-jauh ke sini," ucap Irina sangat bahagia.


Jawaban Irina membuat Aslan melotot horor.


"Apa kamu bilang? Jadi kamu kembali ke sini bukan karena ingin meminta pertanggung jawabanku? Tapi kamu ke sini karena hanya  ingin tahu nomer PIN ATM-mu?!" Aslan menatap tajam Irina seraya berkacak pinggang. Bisa-bisanya wanita yang berada di dekatnya ini mempunyai pikiran konyol seperti ini, jika dia tidak mencintai Irina, mungkin dia akan menendang Irina sampai ke ujung dunia.


"Kenapa kamu marah?" tanya Irina dengan polosnya, menatap Aslan sambil mengedipkan kedua matanya lucu seperti anak kucing yang sedang merayu majikannya.


Haiss!!! Aslan mengumpat karena tidak tahan kalau melihat wajah Irina seimut dan menggemaskan seperti itu.


"Kau harus bertanggung jawab!" Aslan beranjak berdiri menuju pintu kamar rawat tersebut lalu menguncinya.


"Kenapa di kunci? Dan kamu mau apa?!" Irina panik seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sepertinya Aslan akan menghabisinya.


Ya Tuhan, tolong aku! jerit Irina di dalam hati.


"Tentu saja ingin memberikanmu pelajaran!" jawab Aslan yang sudah kembali mendudukkan di samping Irina.


"Aslan! Jangan seperti ini," rengek Irina ketika tubuh di rebahkan dengan kasar di atas sofa.


Dan Aslan dengan cepat mengungkung tubuh Irina, seolah tidak akan melepaskan wanitanya. Dia menundukkan kepalanya, lalu melabuhkan ciuman kerinduan di bibir ranum Irina dengan penuh kelembutan.


*


*


"Aku merindukan goyanganmu," ucap seorang pria menggoda wanita cantik yang berdiri di balik meja kasir.


"Oke, cantik." Pria tersebut mengerlingkan sebelah matanya dengan nakal, lalu memberikan sejumlah uang pada Meyda.


"Ini apa Om?" tanya Meyda menatap lima lembar uang berwarna merah dari pria tersebut.


"Buat jajan, Om ikhlas memberikannya," jawab Pria tersebut lalu segera pergi dari sana sambil melayangkan kiss bye pada Meyda.


"Thanks, Om." Meyda membalas kiss bye pria tersebut dengan senang hati lalu memasukkan uang tersebut ke kantong celananya.


Meyda sudah tobat dari dunia gelapnya, kini wanita cantik itu merintis usaha 'Ayam Mercon Aduhai', membuka lapaknya di salah satu Mall Kota Jakarta. Meski keuntungannya tidak banyak, yang terpenting halal dan  bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya.


"Ehem!! Seneng banget ya habis dapat uang jajan dari Om-Om!"


Kedua mata Meyda membulat sempurna saat melihat Dimas berdiri di balik meja kasir. Wanita cantik itu langsung menghampiri Dimas lalu meloncat dan memeluk tubuh Dimas dengan sangat erat. Dia sudah seperti anak koala yang memeluk induknya.


"Ayang Dimas, kamu cemburu ya?" goda Meyda pada Dimas yang kini menurunkan badannya.


"Nggak!" jawab Dimas ketus, menatap tajam Meyda.


Meyda tersenyum lalu mengecup pipi Dimas dengan mesra.


"Udah jangan marah lagi. Kamu sudah makan siang belum?" tanya Meyda mengalihkan pembicaraan.


"Untuk apa aku marah, lagi pula di antara kita nggak ada hubungan apa-apa!" balas Dimas dengan nada jengkel.


Meyda tersenyum saja menanggapi ucapan Dimas. Dia langsung menarik Dimas ke dalam area Food Court miliknya.


"Kamu mau makan apa? Biar aku siapkan," ucap Meyda setelah menyuruh Dimas duduk.


"Apakah para pelangganmu sering ke sini?" Dimas mengabaikan pertanyaan Meyda.


"Mereka kesini hanya untuk silatuhrami saja, tidak lebih. Lagian mereka juga sudah tahu kalau aku sudah tobat," jawab Meyda pada Dimas.


"Mereka?" beo Dimas menatap tajam Meyda.


"Ayang, kenapa sih kamu sejak tadi marah-marah terus?" tanya Meyda heran pada Dimas yang tidak seperti biasanya.


"Mey, harusnya kamu peka dong, aku itu ..." ucapan Dimas terhenti saat ada ada pembeli yang memanggil Meyda.


"Ceker merconnya satu, Kak," seru seorang pembeli dari balik meja kasir.


"Sebentar ya. Nanti kita lanjut lagi obrolannya." Meyda segera beranjak mengampiri pembelinya.


Dimas menghembuskan nafas kasar sembari mengibaskan salah satu tangan di depan wajahnya, "kenapa hari ini sangat panas ya?"