1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Bayaran Untuk Yoga!



Kevin telah di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polisi telah menemukan beberapa bukti, seperti sisa racun yang dia gunakan untuk meracuni Meyda. Aslan sedikit lega karena rivalnya akhirnya akan mendapatkan hukuman setimpal. Tapi, hal itu belum membuatnya senang karena ada satu hal lagi yang harus dia selesaikan, yaitu masalahnya dengan Irina.


Aslan sangat mencemaskan wanita yang di cintainya itu. Dia bergegas ke rumah Irina untuk menjemput wanita tersebut. Namun sayang, kedatangannya terlambat karena Irina ternyata sudah di usir dari rumah tersebut. Aslan menarik rambutnya frustrasi, wajahnya memerah menahan amarah, kesedihan dan juga penyesalan yang teramat besar di dalam rongga dadanya. Kenapa tidak sejak awal dia menahan Irina pergi dari rumahnya, kini dia sudah kehilangan jejak wanita yang di cintainya. Aslan terus menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Irina. Aslan segera menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaaan Irina, sedangkan dia sendiri masih di rumah sederhana milik Yoga untuk memberikan perhitungan kepada pria tersebut.


Saat ini Aslan bertatap muka dengan pria yang bernama Yoga. Pria kurus, berkulit sawo matang dan lumayan tampan itu adalah suami Irina, lebih tepatnya OTW menjadi mantan suami.


"Kau mengusirnya?!" tanya Aslan dengan penuh penekanan, menahan emosi.


"Kau siapa? Apakah kau adalah pria yang sudah menyewa jasa Irina?!" balas Yoga dengan tidak punya otak, menatap tajam pria gagah dan tampan yang ada di hadapannya itu. Dia pikir, pria yang telah menyewa jasa istrinya adalah pria paruh baya, berkepala pelontos, dan perut gendut, tapi nyatanya dia salah. Pria tersebut justru lebih tampan. lebih gagah, dan lebih dari segala-galanya darinya.


Sial!


Tiba-tiba ada api cemburu yang berkobar di dalam hatinya, ketika membayangkan kalau Irina bercinta dengan pria muda dan tampan itu.


"Tanpa menjawab pertanyaanmu, aku rasa kamu sudah tahu siapa aku!" jawab Aslan melayangkan tatapan tajam pada pria yang berdiri di hadapannya.


"Jadi benar kau adalah pria itu!" Yoga tersenyum sinis dan penuh emosi.


Sumpah demi apa pun, Aslan ingin melayangkan tinju ke wajah pria menjengkelkan itu.


"Kau mengusirnya?!" Aslan mengulagi pertanyaanya yang belum di jawab oleh Yoga.


"Iya, aku mengusirnya. Karena aku tidak sudi mempunyai istri bekas orang lain!" balas Yoga penuh penekanan, kedua sorot matanya begitu tajam, akan tetapi auranya tetap saja kalah dengan Aslan yang notabennya adalah seorang pria dingin dan sangat arogant.


Kedua tangan Aslan terkepal sangat erat, tidak hanya itu, rahangnya juga mengeras, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi saat ini. Namun, akal sehatnya masih berfungsi, jadi sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun.


"Apakah di matamu dia begitu menjijikkan?!" tanya Aslan, menatap tajam pria tersebut.


"Sangat ... sangat menjijikkan!" jawab Yoga dengan lugas dan tak berperasaan sama sekali.


"Cih! Apakah kau tidak tahu malu? Kau bisa berdiri di sini, di tengah ruangan ini karena perjuangan Irina! Apakah segitu hinanya dirinya di matamu, hingga kau tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusan yang di berikan oleh Irina?!" sentak Aslan penuh penuh penekanan, matanya memerah, dan wajahnya mengeras, bertanda kalau kesabarannya kian menipis.


"Haruskah aku bersyukur karena di tolong dengan uang haram yang Irina dapatkan?!" jawab Yoga dengan nada kesal.


"Jangan sebut namanya dengan mulut sampahmu itu! Dan jangan jadi orang yang munafik!" geram Aslan, berjalan dua langkah mendekati Yoga, kemudian kedua tangannya menarik kerah pria tersebut dengan kuat, tak lupa tatapan tajamnya di layangkan pada Yoga, bagaikan ujung tombak yang siap di lemparkan ke masangsanya.


"Lepaskan aku!!" sentak Yoga, emosi, seraya berusaha keras melepaskan kedua tangan Aslan yang mencengkram kerah bajunya.


"Harusnya sejak awal aku lakukan ini kepadamu!" Aslan berkata pelan namun terdengar sangat mengerikan.


BUGH!


Tanpa di sangka, Aslan membenturkan kepalanya ke kening Yoga dengan keras.


Tidak puas sampai di situ. Aslan mengepalkan tinju lalu melayangkannya ke wajah Yoga dengan sangat kuat.


BUGH!!!


BUGHH!!!


Yoga yang tidak sempat melawan berteriak kesakitan, hingga akhirnya jatuh ke lantai keramik yang dingin itu.


"Anggap saja ini adalah bayaran karena kau sudah menyakiti Irina-ku!!!" bentak Aslan dengan kuat dan emosi.


"Kau tidak mau di tolong dengan uang haram 'kan? Jadi untuk apa kau hidup!!" Aslan menendang kaki Yoga, kemudian beralih menginjak perut Yoga yang masih ada bekas jahitan operasinya.


BUGH!!!


"Sakit!!!" teriak Yoga kesakitan, dan minta ampun kepada Aslan yang terus menghajarnya.


"Cuih!!" Aslan meludahi Yoga yang terkapar di atas lantai, kemudian dia segera pergi dari sana, membiarkan Yoga merintih kesakitan seorang diri di rumah tersebut.


Sementara itu, Dimas saat ini dengan cemas dengan keadaan Meyda yang sedang berada di ruang UGD. Tim Medis sedang berusaha menyelamatkan Mayda yang sudah berada di ujung kematian karena racun yang sudah di konsumsi.


Sejak tadi Dimas mondar-mandir tidak tenang, sambil menggigit ujung kuku jarinya, sesekali menyeka keringat yang membasahi lehernya.


"Ini semua gara-gara aku, andai saja aku tidak menyuruhnya menjebak Kevin, semuanya tidak akan seperti ini. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Meyda tiada," gumam Dimas dengan segala pikiran negatifnya.


*


*


Bu Nining yang baru pulang belanja dari warung berteriak histeris ketika memasuki rumah dan melihat putranya tergeletak tak berdaya di atas lantai.


"Yoga!!!"


***


Tegang nggak sih di bab ini? Kok rasanya puas begitu ya, wk wk wk.


BTW, follow IG emak ya @thalindalena


thank you 😘