
Dua hari berada di kampung, kini saatnya Aslan dan Irina kembali ke Jakarta. Aslan akan menjadi donatur tetap di panti asuhan itu. Semua penghuni panti itu sudah menjadi bagian dari keluarganya, maka dari itu dia juga akan membangun panti tersebut agar lebih layak dan menjadi lebih baik lagi.
Perjalanan menuju Jakarta sangat melelahkan sama seperti saat mereka datang ke Desa tersebut, di tambah lagi Aslan masih lemas dan mual membuat perjalanan mereka sedikit terhambat, tapi akhirnya mereka sampai di tujuan dengan selamat pada sore hari.
Aslan bisa bernafas lega dan mengistirahatkan diri di kamar setelah menempuh perjalanan jauh.
"Aslan! Ganti baju dulu, baru setelah itu tidur." Irina menggoyangkan lengan suaminya beberapa kali tapi tidak ada pergerakan dari pria berbadan kekar itu.
"Aslan!" Irina dengan gemas menusuk pinggang suaminya, hingga membuat pria itu terkejut dan langsung mendudukkan diri.
Ck!
Aslan berdecak kesal sambil menggosok salah satu matanya, dia menatap sebal pada istrinya yang mengganggu tidurnya. "Aku lelah!" ucap Aslan dengan nada merajuk, lalu kembali merebahkan diri di atas tempat tidur, menggerakkan kedua kakinya bersamaan, seperti anak kecil yang sedang marah kepada ibunya.
"Oh ... Astaga!" Irina menepuk jidatnya sembari menatap suaminya seperti anak kecil kurang sajen.
"Aku malas ganti baju, bisakah kamu menggantikan pakaianku, Sayang?" mohon Aslan sembari menatap istrinya dengan tatapan manja.
"Kenapa kelakuanmu berubah menjadi bayi sih?!" gerutu Irina, meski begitu, kedua kakinya bergerak menuju ruang ganti dan mengambil satu stel pakaian suaminya, tak beselang lam kembali lagi ke dekat tempat tidur, mulai membuka pakaian suaminya dengan susah payah.
"Aslan! Jangan membuatku kesulitan!" kesal Irina sambil memukul pelan punggung suaminya, karena pria itu malah menariknya hingga terjatuh di atas tempat tidur, dan mengungkungnya dengan posesif.
"Prank! Ah, akhirnya aku bisa di atasmu!" Aslan tersenyum puas karena rencananya berhasil mengerjai istri cantiknya.
"Dasar licik! Lepaskan aku!" pekik Irina, bibirnya cemberut karena suaminya telah mempemainkannya.
"Nggak mau!" jawab Irina, meronta di bawah kungkungan suaminya.
"Yakin tidak mau? Kalau begini apakah kau masih menolakku?" bisik Aslan seraya meraba dua gunung kembar istrinya yang masih terbungkus dengan pakaian rapi. Dia ngusap bagian ujung gunung kembar itu lalu menekannya, menimbulkan sensasi erotis yang membuat sekujur tubuh istrinya meremang dan mengejang.
"Aslan ..." bisik Irina dengan suara lemah dan sedikit terengah, kedua matanya menatap sayu suaminya yang masih menguasainya.
"Hemmm?" jawab Aslan hanya deheman saja, seraya menyibakkan dress yang di kenakan oleh istrinya, memperlihatkan lekuk tubuh sexy dan sangat sempurna.
"Sayang ... main cacing-cacingan yuk? Cacingnya sudah bangun ini," bisik Aslan seraya meraih tangan istrinya lalu mengarahkannya ke sela pahanya agar menyentuh cacing raksasa yang sudah meronta ingin dikeluarkan dari sarangnya.
"Kenapa ukurannya sangat besar?" tanya Irina dengan nada heran, karena terakhir mereka melakukan 1 minggu b yang lalu milik Aslan tidak sebesar ini.
"Karena dia akan semakin mengembang kalau sedang bahagia. Ayok ..." Ajak Aslan yang mulai melucuti semua pakaiannya.
Irina merinding melihat cacing raksasa milik suaminya yang berubah menjadi cacing hulk, begitu kekar, besar, panjang dan berotot.
Glek!
Irina menelan ludahnya dengan kasar ketika suaminya mulai melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya, lalu merebahkannya di atas tempat tidur dan mulai mengungkungnya lagi.
Dan selanjutnya ...