
Esok harinya. Tepat jam 11 siang waktu setempat, Dimas dan Meyda telah menempuh perjalanan pulang ke Jakarta. Pasangan yang sedang di mabuk cinta itu sejak tadi tersenyum dan berpegangan tangan saat berada di dalam pesawat.
Sementara itu. Aslan sedang duduk di balik meja kerjanya. Dia berulang kali memijat pelipisnya ketika rasa mual terus bergejolak di dalam perutnya, membuatnya menjadi tidak fokus kerja.
"Aku sudah tidak tahan lagi." Aslan beranjak berdiri, berlari menuju toilet, memuntahkan semua isi perutnya. Dia sungguh tersiksa, tapi anehnya kalau berdekatan dengan istrinya, dia sama sekali tidak merasa mual.
"Ya ampun." Aslan memijat tengkuk ketika sudah selesai memuntahkan isi perutnya. Kepalanya sangat pusing, tenggorokannya terasa perih dan panas, kedua matanya juga ikut sakit, mual dan muntah yang baru saja melanda meninggalkan sensasi yang luar biasa pada tubuhnya.
Aslan kembali ke meja kerjanya. Sepertinya hari ini dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. Badannya lemas, dan kepalanya sangat sakit, untuk itu dia memutuskan pulang, tapi sebelumnya dia menghubungi sopir kantor agar mengantarkannya pulang, karena dalam kondisi seperti ini dia tidak bisa menyetir mobil.
*
*
Irina dan Allegra sedang berada di salon kecantikan. Mereka berdua melakukan perawatan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Di salon kecantikan tersebut sangat ramai seperti biasa. Ada beberapa orang menunggu antrian di ruang tunggu sambil membaca majalah atau bermain ponsel.
Lagu Mahalini-Kisah Sempurna, diputar di dalam salon tersebut, suara sang penyanyi yang sangat merdu, serta lirik lagu yang terdengar sangat dalam dan penuh makna, membuat para pengunjung salon semakin betah dan rileks.
Dia yang pertama membuatku cinta
Dia juga yang pertama membuatku kecewa
Kamu yang pertama menyembuhkan luka
Tak ingin lagi ku mengulang keliru akan cinta
Jadi kisah yang sempurna
Tenggelam, jiwaku dalam angan
Tak kulihat lagi cahaya cinta
Dan kamu hadir coba bawa bahagia
Ketika ku masih mati rasa
Bahkan ada beberapa pengunjung salon yang ikut bersenandung mengikuti lirik lagu tersebut.
"Paham , Ma. Aku akan berusaha menjadi terbaik untuk Aslan," jawab Irina, tersenyum pada ibu mertuanya.
"Jangan berusaha, tapi harus menjadi terbaik untuk Aslan. Kamu tahu, Na, mantan istri Aslan itu sebenarnya ingin rujuk dengan Aslan. Wanita itu berulang kali datang ke Mama untuk meminta restu dan dukungan, tapi karena otakku masih waras, akhirnya aku memutuskan menendang wanita itu agar menjauh, tidak mengganggu Aslan dan rumah tangga kalian," ucap Allegra menggebu dan sangat kesal kalau mengingat mantan istri putranya itu.
Irina sangat terkejut mendengar ucapan ibu mertuanya, "kenapa Aslan tidak pernah cerita tentang hal ini, Ma?" tanya Irina.
"Karena semua itu sudah tidak penting bagi Aslan, selain itu juga dia sangat menjaga perasaan kamu. Kamu tenang saja, Aslan sudah cinta mati sama kamu, dia nggak akan tergiur sama rayap-rayap di luaran sana," jawab Allegra menenangkan menantunya yang terlihat resah.
"Terima kasih, Ma. Dan semoga saja hubungan kami selalu langgeng, amin," ucap Irina.
Allegra turut mengaminkan ucapan dan doa menantunya. Mereka berdua kembali terdiam, menikmati pijatan di kepala mereka.
Oborolan mereka terhenti ketika Irina menerima telepon dari Aslan. Irina melekatkan ponselnya di telinga kirinya, sambil mematut diri di cermin besar yang terbentang di depannya.
"Hallo, Aslan, ada apa?" jawab Irina.
"Sayang, kamu di mana? Kenapa tidak ada di rumah?" Suara Aslan terdengar berat, dan nafasnya terengah, seperti habis lari maraton.
"Aku lagi di salon bareng Mama. Kamu sudah pulang? Kok tumben?" tanya Irina, heran, karena tidak biasanya suaminya ini pulang siang.
"Cepat pulang, aku tunggu!" jawab Aslan tanpa mau di bantah, lalu menutup panggilan tersebut secara sepihak.
Irina menatap layar ponselnya dengan heran, panggilan sudah berakhir, dia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Ma, Aslan menyuruhku pulang," ucap Irina pada ibu mertuanya.
"Tapi, kita belum selesai melakukan perawatan. Kita udah bayar paket perawatan, jadi nggak mungkin bisa pulang sekarang," jawab Allegra, lalu meraih ponselnya, dan menghubungi putranya. Sambungan telepon terhubung, tak berselang lama Aslan menjawabnya.
"Hari ini Irina milik Mama, jadi kau tidak mempunyai hak untuk memerintahkan Irina pulang!" kesal Allegra pada putranya.
"Ma, tapi ..."
"Kau ingin di pecat jadi anak!! Awas saja kalau kau berani menghubungi Irina lagi! Kami akan pulang sore, jadi jangan manja!" kesal Allegra lalu menutup panggilan tersebut, tanpa memberikan kesempatan putranya bicara.
Di seberang sana. Aslan mengumpat dan ingin membanting ponselnya, tapi dia mengurungkan niatnya, akhirnya meletakkan ponselnya dia atas ranjang dengan asal, kemudian dia menghempaskan diri di atas ranjang, tapi dia segera bangkit lagi, berlari ke kamar mandi saat rasa mual kembali mengaduk perutnya.