
“HOEK!!” Aslan memuntahkan semua isi perutnya di wastafel kamar mandi kantornya. Kemudian, ia mengusap bibir dan membasuh wajahnya dengan air mengalir dari kran wastafel. Wajahnya tampak pucat dan kedua matanya memerah, karena sudah lima kali dia bolak-balik kamar mandi karena perutnya terus bergejolak.
Aslan berdiri sambil menumpukan kedua tangannya di pinggiran wastafel. Kepalanya mendongak ke atas, mual dan muntah yang baru saja dia alami menyisakan rasa sakit di tenggorokan dan membuat kepalanya berdenyut nyeri.
“Aku ini kenapa? Kenapa sejak kemarin selalu mual dan pusing?” gumam Aslan seraya menegakkan badannya, memikat tengkuknya yang terasa berat dan pegal.
“Sepertinya aku harus periksa ke dokter, bisa-bisa aku dehidrasi karena selalu muntah setiap ada air dan makanan yang masuk ke dalam mulutku,” lanjut Aslan masih bergumam, kemudian berjalan kembali ke meja kerjanya dengan langkah tertatih, dan kedua tangannya merambat ke dinding untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Aslan menghempaskan bokongnya ke kursi kekuasaannya dengan kasar. Dia melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya dengan malas, lalu membuka beberapa kancing kemejanya dan menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku.
Dada bidang yang di tumbuhi bulu-bulu kasar terlihat jelas setelah beberapa kancing kemeja itu di buka, membuat Aslan terlihat sangat sexy dan semakin tampan dengan penampilan berantakan seperti itu.
Tok ... Tok
Tak berselang lama terdengar ketukan pintu dari luar ruangannya. Aslan mempersilahkan masuk orang yang berada di balik pintu ruangannya itu.
“Boss,” sapa Dimas sambil membawa setumpuk berkas di tangannya.
Mual, itu yang di rasakan Aslan ketika Dimas semakin mendekat ke arahnya.
“STOP!!!” seru Aslan seraya mengangkat salah satu tangannya, memberikan kode pada Dimas agar berhenti dan tidak melanjutkan langkah ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Dimas heran.
Dimas mengerutkan kening sambil menggaruk salah satu ujung alisnya, bertanda kalau dia bingung dan heran dengan bossnya yang tiba-tiba bersikap aneh, meski begitu, Dimas mengikuti perintah bossnya, meletakkan berkas yang dia bawa di atas sofa.
“Emh, apakah Anda sakit?” tanya Dimas menggunakan bahasa formal jika berada di lingkungan kerja.
“Mungkin, tapi sana cepat keluar dari ini, bau parfummu membuat hidungku ingin lepas dari tempatnya!” usir Aslan sambil mengibaskan tangan kanannya dan menunjuk pintu ruangannya.
Terdengar lebay, tapi sungguh ... Aslan tidak sanggup mencium aroma parfume Dimas yang sangat menyengat di hidungnya.
Dimas masih berdiri di tempat, tidak beranjak sama sekali, tapi pria itu malah mengendus ketiaknya sendiri beberapa kali.
“Wangi kok, aku tidak ganti parfum,” ucap Dimas masih sangat heran.
“Aku bilang keluar dari sini, sialan!” bentak Aslan lantaran sangat jengkel pada asistennya.
“Biasa saja dong! Lagian kamu kenapa aneh banget hari ini!” Dimas tak kalah jengkel karena tidak di terima di bentak oleh bossnya tanpa alasan yang jelas, kemudian ia bergegas keluar dari ruangan tersebut dengan langkah lebar.
“Benar yang dikatakan Dimas. Aku ini kenapa?” gumam Aslan mendadak jadi melankolis.
****
Bestie, jangan lupa like, komentar dan dukungan lainnya 😘