
Meyda masih duduk di depan minimarket sendirian. Wanita tersebut pun masih menikmati es krimnya dengan santai.
"Sudah lama gue nggak menikmati es krim yang manis kayak mulutnya tetangga yang mau pinjem duit," gumam Meyda sambil tertawa pelan, kembali fokus pada es krimnya yang sudah habis, tapi Meyda tetap berusaha mengorek sisa es krim yang tersisa di sana karena merasa sayang kalau terbuang.
Tak berselang lama ada seseorang yang duduk di sampingnya, akan tetapi Meyda tidak memedulikannya, karena membersihkan sisa es krim dengan jarinya lebih menarik melebihi apa pun.
"Jadi kamu tinggal di sekitar sini?" tanya seorang pria yang baru saja duduk di samping Meyda.
Tubuh Meyda menegang, lalu menoleh ke arah sumber suara yang dikenalinya. Kedua matanya membola sempurna saat melihat pria tersebut.
"Tuan Kevin!" pekik Meyda lalu membuang wadah es krim yang ada di tangannya dengan asal, dia segera mengusapkan jari tangannya ke kaos yang dia gunakan. Dia malu karena ketahuan membersihkan sisa es krim.
"Bagaimana Anda bisa di sini?" tanya Meyda menatap curiga pada pria tersebut.
"Kebetulan lewat," jawab Kevin santai sambil tersenyum, menatap Meyda menyelidik.
"Oh." Meyda menganggukkan kepala beberapa kali meyakinkan Kevin kalau dia percaya dengan alasan yang di lontarkan pria tersebut.
"Kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Kevin lagi.
"Iya." Meyda menjawab singkat, lalu beranjak berdiri tapi di cegah oleh Kevin.
"Mau ke mana? Aku baru saja duduk. Temani aku di sini, aku akan mentraktirmu makan es krim." Kevin tersenyum simpul dan tentu saja senyumannya itu palsu.
"Tapi saya baru saja selesai makan es krim. Saya permisi." Meyda segera melepaskan tangan Kevin yang mencekal pergelangan tangannya.
"Kamu menolak ajakanku? Wah! Sepertinya kamu adalah wanita pertama yang berani menolakku!" Kevin berdecap kesal setelah mengatakan kalimat menjijikkan itu.
"Sebenarnya, apa yang sedang dia rencanakan?" tanya Meyda dalam hati, menatap Kevin dengan lekat.
Kevin tahu semua itu karena dia sudah merasa curiga pada Meyda maka dari itu beberapa hari ini dia mengikuti wanita tersebut kemana pun pergi. Termasuk ketika Meyda datang ke rumah Irina, dari situlah Kevin tahu kalau wanita itu telah bersekongkol dengan Aslan.
Yupz, jadi sepasang mata yang memantau Meyda dan Irina dari kejauhan adalah Kevin.
"Tuan, aku bukannya menolak ajakan Anda, tapi saya merasa tidak pantas berdekatan dengan Anda." Meyda segera mencari alasan agar pria tersebut tidak curiga kepadanya.
'Rayu dia, Mey, dan bicara yang manis-manis kayak sarang lebah yang mau di panen, biar pria brengsek ini nggak curiga,' ucap Meyda di dalam hati.
"Kata siapa kamu nggak pantas. Kamu cantik, sexy dan juga sangat menawan, jadi mana mungkin wanita sempurna seperti kamu tidak pantas berdekatan denganku," jawab Kevin sangat manis, membuat Meyda ingin muntah mendengarnya.
"Jadi, kamu mau 'kan aku traktir es krim, tapi tidak di sini," ajak Kevin sambil beranjak lalu menarik tangan Meyda menuju mobilnya yang terparkir di depan minimarket yang luas itu.
"Kita mau makan es krim di mana, Tuan?" tanya Meyda ketika di dalam mobil dan duduk manis di samping Kevin.
"Ke apartemenku," jawab Kevin tersenyum smirk, lalu menjalankan mobilnya menjauh dari minimarket tersebut.
"Waduh!" Meyda memekik di dalam hati. Perasaannya mulai was-was. Dia membuka tasnya, lalu mengambil ponselnya, dan berpura-pura main game, padahal dia sedang mengirim pesan pada Dimas agar segera datang ke apartemen Kevin.
***
Bestie, jangan lupa kasih like dan dukungan lainnya.
Mampir juga ke Novel baru Emak yang berjudul, ANAK GENIUS: MENDADAK JADI MOMMY.
Ojo lali, pokoknya wajib mampir, kalau enggak tak slepet satu-satu kalean ya!😂