1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
3 bulan telah berlalu



Tidak terasa sudah 3 bulan lamanya Aslan mencari keberadaan Irina, tapi sampai saat ini pria tersebut belum menemukan wanita yang dicintainya itu. Padahal keluarganya juga turut membantunya, tapi nihil, tidak ada hasilnya. Wanita tersebut bak hilang di telan bumi, sangat pandai bersembunyi, membuat Aslan frustrasi dan hampir menyerah. Namun, mengingat senyuman Irina dan rasa cintanya yang begitu besar pada wanita tersebut, semangat Aslan kembali berkobar.


*


*


Pagi itu, Aslan menjalani rutinitas paginya seperti biasa, dia duduk di ruang makan menikmati kopi sambil mendengar laporan dari anak buahnya yang sampai saat ini mencari keberadaan Irina hingga ke luar kota.


"Bagaimana?" tanya Aslan pada salah satu anak buahnya melalui sambungan Video call. Aslan memasang ponselnya di tripod yang ia letakkan di atas meja menghadap kearahnya. "Aku tidak mau mendengar kata gagal!" lanjut Aslan dengan suara dingin dan datar.


"Maafkan kami, Tuan." Mendengar jawaban anak buahnya, sontak saja membuat Aslan murka.


"Kenapa kalian tidak becus sama sekali, hah!!!! Aku sudah membayar kalian mahal dan waktu tiga bulan apakah tidak cukup untuk menemukan satu orang!!!" bentak Aslan dengan penuh emosi, rahangnya mengeras, dan tangannya terkepal kuat, jika anak buahnya itu ada di hadapannya, mungkin dia akan menghajar semua anak buahnya itu tanpa ampun.


"Tuan mencari satu orang di negara ini yang terdiri dari 34 provinsi bukan hal mudah. Bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami," jelas salah satu anak buahnya, sekaligus menenangkan bossnya yang sedang murka.


"Banyak omong!!! Cepat cari lagi wanitaku, dan segera temukan dia!!!" bentak Aslan lalu mengakhiri sambungan Video call tersebut.


Aslan memijat kepalanya yang terasa sangat pusing akhir-akhir ini, mungkin karena dia kurang istirahat, dan banyak pikiran.


"Irina kamu di mana, Sayang?" gumam Aslan seraya menangkup wajahnya dengan gusar. Pria tersebut menegakkan badannya, ketika Bi Inah datang menghampiri sambil membawa sarapan untuknya.


"Tuan, sarapan Anda," ucap Bi Inah seraya meletakkan omelet dan roti bakar di hadapan Aslan.


Aslan mengendus aroma omelet yang tercium berbeda dari biasanya. "Kenapa bau sekali? Apakah bibi menggunakan telur busuk?!" tanya Aslan penuh curiga, seraya menutup hidungnya karena aroma omelet itu membuat perutnya bergejolak.


"Astaga, Tuan. Mana mungkin saya menggunakan telur busuk untuk membuat omelet ini. Saya menggunakan bahan-bahan yang berkualitas tinggi, dan telurnya pun baru di beli pagi tadi," jelas Bi Inah dengan suara yang bergetar, menahan tangis, karena baru kali ini dia di tuduh sekejam itu.


"Ck! Aku 'kan hanya bertanya, kenapa Bibi sewot!" balas Aslan dengan ketus, kemudian ia mendorong piring yang berisi omelet dan dua roti bakar. "Singkirkan dari hadapanku! Aku mual melihatnya. Buatkan aku mie instan saja!" titah Aslan tidak mau di bantah.


"Baik, Tuan," jawab Bi Inah, membuang nafas panjang, lalu segera mengambil piring tersebut lalu membawanya ke dapur.


"Bibi! Bisa cepat sedikit, aku sudah sangat lapar!!!" seru Aslan dari ruang makan.


"Ba-baik, Tuan!" sahut Bi Inah, segera membuatkan mie instan untuk Aslan.


*


*


Di sebuah pedesaan yang sangat jauh dari Kota Jakarta. Seorang wanita cantik sedang menjemur baju di halaman rumah sederhana sambil bersenandung.


Ya ... wanita tersebut adalah Irina.


Di depan rumah sederhana namun berukuran cukup luas ada sebuah papan nama berwarna putih dan bertuliskan 'YAYASAN YATIM PIATU KASIH IBU'


"Irina,"panggil wanita paruh baya, yang tak lain adalah pengurus yayasan tersebut.


"Iya, Bu?" jawab Irina, segera menghampiri wanita tersebut yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ibu ingin bicara denganmu. Apakah kamu sudah selesai menjemur baju?" tanya wanita paruh baya itu.


"Sedikit lagi," jawab Irina.


"Kalau begitu selesaikan dulu, setelah itu temui ibu di ruangan. Ibu ingin membahas tentang keberlangsungan panti ini."


Irina mengangguk sebagai jawaban, kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Jangan terlalu lelah, ingat ada malaikat kecil di rahimmu." Ibu Panti mengingatkan, sebelum beranjak dari sana.