1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
OTW Jakarta



Irina pulang dengan tangan kosong, wanita tersebut merengut sejak tadi sambil masuk ke dalam rumah.


“Irina, kamu sudah pulang.” Ibu panti menyambutnya dengan senyuman. Wanita paruh baya itu kebetulan sedang duduk di ruang depan sambil membaca laporan keuangan bulanan.


Irina tersenyum getir, berjalan menghampiri ibu panti kemudian mendudukkan diri di samping wanita paruh baya tersebut.


“Bu, sepertinya aku harus ke Jakarta,” ucap Irina dengan nada pelan. Selama di perjalanan pulang yang panjang, Irina memikirkan keputusannya dengan matang. Dia harus ke Jakarta demi anak-anak panti yang membutuhkan biaya tidak sedikit.


“Kenapa? Ibu ‘kan sudah bilang jangan ke Jakarta, karena perjalanannya sangat jauh, terlalu beresiko untuk kandunganmu, Irina.” Ibu panti meletakkan kaca mata minusnya ke atas meja, kemudian menatap Irina dengan lekat, dari tatapan matanya itu menunjukkan sebuah kekhawatiran yang begitu besar.


“Bu, doa-nya yang baik-baik saja dong. Soalnya ini demi keberlangsungan panti ini. Aku tidak bisa mengambil uangku, karena buku tabunganku tertinggal di rumah Yoga,” jelas Irina sedikit berbohong tentang buku tabungannya yang tertinggal di rumah Yoga, karena pada dasarnya ibu panti tidak mengetahui perjalanan kisahnya dengan Aslan, bahkan ibu panti mengira kalau janin yang di kandungnya adalah benih mantan suaminya.


Ibu panti terdiam, seolah sedang mempertimbangkan permohonan Irina yang ingin ke Jakarta.


Lima menit lebih wanita paruh baya itu terdiam, membuat Irina semakin membulatkan keputusannya.


“Bu, besok pagi aku akan berangkat, mohon doa-nya agar aku pergi dan pulang dengan selamat, amin.” Irina segera beranjak dari duduknya, tanpa menunggu persetujuan ibu panti.


“Irina! Ibu belum selesai bicara!” seru ibu panti pada Irina yang sudah masuk ke dalam kamar. “Ya ampun anak itu sangat keras kepala.” Wanita paruh baya tersebut geleng-geleng kepala sambil berjalan menuju kamar Irina, tapi sayangnya pintu kamar Irina di kunci dari dalam, dan dia juga sudah mengetuk berulang kali tapi tidak di kunjung di buka oleh pemilik kamarnya.


“Ibu, kita sudah berulang kali minta bantuan pak lurah, tapi beliau selalu menolak permohonan kita. Jangan lagi pergi ke sana!” jawab Irina tanpa membuka pintu kamarnya.


“Irina,” lirih ibu panti sangat getir.


“Aku mohon, Bu, izinkan aku ke Jakarta, aku berjanji akan menjaga diri,” mohon Irina dari balik pintu kamarnya.


Ibu panti menghela panjang, kemudian berkata, “baik, ibu akan memberikanmu izin, tapi berjanjilah pulang dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun," jawab Ibu panti pada akhirnya dengan nada pelan, tapi masih di dengar Irina yang berdiri di balik pintu kamar.


Mendengar jawaban ibu panti, Irina pun tersenyum senang, kemudian segera membuka pintu kamarnya, lalu menghambu ke pelukan wanita paruh baya itu.


"Terima kasih banyak, Bu." Irina sangat senang sekali, meski di dalam hatinya saat ini sedang memendam sesuatu.


Ya ... sesuatu yang sejak tadi membuat dadanya berdegub tidak karuan, karena dia akan bertemu kembali dengan Aslan.


Seharusnya rasa itu sudah tidak ada, mengingat mereka berdua sudah berpisah dalam waktu yang cukup lama. Dan mungkin di Jakarta sana, Aslan sudah mempunyai kekasih baru yang lebih dari dirinya.