
Suara dessahan dan rintihan kenikmatan terdengar memenuhi ruang rawat tersebut. Irina berada dibawah kungkungan Aslan yang terus bergerak menghujam bagian intinya dengan tempo cepat.
Bibir mereka saling bertaut, lidah keduanya saling membelit dan bertukar salivanya. Rasa rindu yang menggebu menguar begitu saja saat tubuh mereka menyatu. Mereka bercinta dengan penuh gairah, seolah melepaskan dahaga yang selama ini terpendam. Percintaan tersebut sudah berlangsung cukup lama, hingga akhrinya keduanya mengerang panjang bertanda kalau keduanya telah mencapai pelepasan bersama. Aslan menyemburkan pasukan kecebongnya ke dalam rahim Irina yang sudah di tumbuhi calon berudunya.
Irina mengatur nafasnya yang terengah sambil merasakan area sensitifnya yang berkedut-kedut seolah tidak mampu menampung cairan milik Aslan, begitu penyatuan mereka di lepas, cairan tersebut langsung meluber dari area sensitif Irina.
"Makasih, Sayang. Rasanya lega setelah beberapa bulan menahan hasrat ini," ucap Aslan puas, lalu mengecup bibir Irina yang terlihat bengkak karena ulahnya.
"Iya, tapi aku capek," jawab Irina seraya mendorong dada bidang Aslan agar segera beranjak dari atas tubuhnya.
Aslan mendudukkan diri, seraya mengambil beberapa lembar tisue untuk mengusap sisa percintaan mereka, lalu membuang tisu yang sudah kotor itu ke tempat sampah.
"Setelah ini aku akan mengambil uang ke ATM dan akan segera kembali ke desa," ucapan Irina membuat Aslan terkejut dan langsung menatapnya dengan tajam.
"Kamu ingin pergi lagi meninggalkan aku?!" tanya Aslan mengeraskan harangnya, tidak terima dengan keputusan Irina. "Sebenarnya selama ini kau berada di desa mana? Apakah kau sengaja ingin pergi dariku lagi dan membawa calon anakku?!" lanjut Aslan semakin meradang ketika melihat Irina malah santai dan tidak terbebani dengan segala pertanyaannya.
"Aku sudah mengatakannya sejak awal kalau aku membutuhkan uang untuk membantu panti asuhan yang selama ini telah merawat dan membesarkan aku," jelas Irina seraya memakai pakaiannnya dengan santai di hadapan Aslan.
"Aku akan ikut denganmu! Setelah itu kita akan menikah!" tegas Aslan tidak mau di bantah, kedua matanya memerah dan wajahnya terlihat sangat dingin, bertanda kalau pria tersebut menahan emosinya yang akan meledak.
"Aku tidak suka di bantah! Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian!" tegas Aslan sekali lagi saat Irina baru akan membuka mulutnya, ingin protes kepadanya.
"Baiklah, aku pasrah dan tidak akan pernah menang melawanmu, tapi bagaimana dengan keadaanmu? Bukankah kamu sedang sakit?" tanya Irina menatap Aslan yang sudah memakai pakaian lengkap.
"Aku sudah sembuh, karena obatku adalah kamu," jawab Aslan terdengar membual, tapi sebenarnya dia berkata jujur pada Irina.
"Dasar gombal!" cibir Irina seraya memukul lengan Aslan dengan gemas, bibirnya mengerucut tajam, dan melirik Aslan dengan sebal.
*
*
Sementara itu, Dimas masih berada di Food Court milik Meyda yang akan tutup.
"Terima kasih sudah membantuku hari ini. Maaf merepotkanmu, Ayang," ucap Meyda pada Dimas yang membantunya membereskan lapaknya karena dagangannya sudah habis.
"Sama-sama," jawab Dimas singkat.
"Kamu masih marah sama aku?" Meyda menarik tangan Dimas yang berjalan melaluinya tanpa menatapnya sama sekali.
"Mey, sudah berulang kali aku katakan kalau aku suka sama kamu, harusnya kamu peka dong!" balas Dimas dengan nada kesal, menatap wanita cantik bermata sipit itu yang berada tidak jauh darinya.
"Dan sudah aku tekankan berulang kali kalau aku nggak pantas buat kamu. Aku manusia kotor, kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku," jawab Meyda dengan perasaan yang begitu sesak. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedihnya di hadapan Dimas.
"Aku nggak peduli dengan masa lalu kamu!" tegas Dimas, menatap Meyda dengan lekat.
"Untuk saat ini kamu nggak peduli, tapi nggak tahu kedepannya nanti. Bisa aja 'kan kalau suatu saat nanti kamu merasa malu dengan masa lalu aku saat ada orang lain mengungkitnya." Meyda membuang nafas kasar, untuk melonggarkan rasa sesak di dalam dada.
"Mey, apakah perlu aku membuat perjanjian hitam di atas putih agar kamu percaya dengan keseriusan aku?!" Dimas menatap kecewa pada Meyda yang seolah meremehkan ketulusannya.