
"Dimas!" pekik Meyda ketika tubuhnya di hempaskan di atas ranjang dengan kasar. Lalu pria itu menindihnya dan mencium bibirnya sangat buas.
Dimas menghentikan aksinya sejenak, menatap wajah cantik Meyda yang berada di bawah kungkungannya.
"Kenapa kamu kasar sekali!" umpat Meyda menatap tajam Dimas. Wajahnya merona merah, bukan karena malu tapi karena dia menahan marah pada pria yang masih mengungkungnya itu.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah memintamu secara baik-baik tapi kau selalu mengabaikan aku!" jawab Dimas tidak mau kalah. "Sekarang semua keputusan ada di tanganku. Mau tidak mau kau harus menerimanya!" lanjutnya seraya terseyum penuh kemenangan.
"Sudah aku katakan berulang kali, kalau aku tidak akan pernah bisa menerimamu! Aku dan kamu berbeda Dimas. Aku wanita kotor sedangkan kamu pria baik," jelas Meyda merasa putus asa saat mengatakannya. Kedua matanya memerah, menahan kesedihan dan air matanya.
"Aku bukan pria baik, dan aku juga bukan perjaka," terang Dimas pada Meyda yang tampak terkejut mendengarnya.
"Kenapa? Kamu terkejut kalau aku sudah nggak perjaka?" tanya Dimas pada Meyda yang masih terpaku, menatapnya tidak berkedip.
Bibir Meyda mengerucut, "siapa yang mengambil perjakamu?" tanya Meyda dengan nada tidak suka. Ada rasa nyeri dan cemburu di dalam dada.
Bagaimana bisa dia marah dan cemburu seperti ini? Semestinya dia sadar diri, dan berkaca karena dia lebih buruk dari pada Dimas.
Tapi, di sisi lain, Meyda juga ingin tahu masa lalu Dimas.
Dimas tidak menjawab pertanyaan Meyda, pria itu kembali mendundukkan kepala, mencium bibir Meyda dengan penuh kelembutan. Berusaha membuai Meyda dalam suasana erotis yang dia ciptakan.
"Dimas ... jawab dulu pertanyaanku," ucap Meyda di sela ciuman tersebut.
"Aku akan menjawabnya setelah urusan kita selesai," jawab Dimas lembut, lalu menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Meyda, memperdalam ciumannya.
"Urusan ap ... ahh ..." Meyda mendesaah sekaligus terkejut ketika salah satu tangan Dimas masuk ke dalam G-str*ng yang dia kenakan. Membelai lembahnya dengan gerakan sensual, lalu menyentuh biji kacang yang tumbuh di puncak lembahnya.
Meyda yang tadinya begitu kekeuh tidak ingin menerima Dimas, dan tidak mau menjalin hubungan cinta dengan Dimas tapi kini dia dengan suka rela membuka kedua kakinya dengan lebar. Mempersilahkan pria tersebut mencicipi tubuhnya sampai puas.
Dimas tersenyum penuh kemenangan, tapi kemudian dia menarik jarinya dari sela paha wanita itu, lalu memandang Meyda dengan tatapan penuh gairah.
"Apakah kamu mencintaiku, Mey?" tanya Dimas dengan suara deep voice yang terdengar sangat sexy di indra pendengaran Meyda.
Meyda mengangguk sebagai jawaban, "sejujurnya aku sudah mencintaimu sejak lama, hanya saja aku sadar diri kalau aku tidak pantas untukmu." Meyda menatap Dimas dengan dalam, dan tulus.
"Sttt ... jangan katakan itu lagi. Terima kasih sudah mencintaiku, Mey. Sekarang kamu mau 'kan menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Dimas dengan lembut, seraya mengecup kening Meyda penuh cinta.
Meyda merasa tersentuh dengan kata-kata romantis yang di katakan oleh Dimas. Kedua mata Meyda terlihat berbinar, kemudian dia menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Terima kasih," bisik Dimas tepat di depan bibir ranum Meyda yang terlihat bengkak karena ulahnya. Lalu Dimas mencium bibir Meyda dengan penub gairah dan rakus. Begitu pula dengan Meyda membalas ciuman tersebut tak kalah rakus. Nafas keduanya memburu, dan hawa panas mulai menguasai tubuh keduanya saat gairah mulai berkobar membakar jiwa dan raga pasangan yang sedang beradu di atas ranjang yang di bingkai dengan sprei berwarna putih itu. Semua pakaian di tubuh keduanya sudah terhempas entah kemana. Keduanya telah menyatu dengan penuh gairah dan cinta yang membara.
"Aku mencintaimu," bisik Meyda.
"Aku lebih lebih mencintaimu," balas Dimas di sela aktivitas mereka yang melenakan dan membuat keduanya semakin terbuai dalam permainan erotis dan romantis yang mereka ciptakan.
Suara desaahan dan lenguhan terdengar memenuhi setiap sudut kamar tersebut. Deburan ombak di laut sana terdengar keras menembus dinding kamar tersebut, seolah menjadi musik yang mengiringi percintaan panas mereka pada sore hari menjelang malam.
"Ahhh ..." Dimas bergerak mendominan di atas Meyda yang pasrah dengan segala permainannya. Mau di bolak balik kayak bakwan goreng juga oke!🤣
***
Aduhh ... otak volosku tercemar, maafkan emak yang khilaf ya bikin part anu 🤣🙈