1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Wejangan dari Dimas



Aslan datang ke rumah Dimas. Dia mencurahkan isi hatinya kepada temannya itu yang selama ini selalu ada untuknya.


“Menurutku sih, kamu harus melepaskan Irina untuk sementara waktu. Bagaimana pun juga kamu nggak ada hak untuk mengekang Irina begini, apalagi posisinya mempunyai suami. Meskipun kamu sudah membiayai semua pengobatan suaminya, anggap saja ini adalah sebuah pengorbanmu untuk Irina,” ucap Dimas memberikan saran setelah mendengar curahan hati teman sekaligus bossnya itu.


“Tapi aku sangat berat melepaskannya. Apalagi dia minta waktu 1 bulan. Bukankah itu waktu yang sangat lama?” jawab Aslan sekaligus bertanya kepada Dimas.


“Yaelah ... 1 bulan cuma 30 hari! Lebai banget sih!” cibir Dimas gregetan pada Aslan yang sudah bucin akut dengan istri orang.


“Hei! 30 hari itu sangat lama! Rasanya seperti 1 dekade!” balas Aslan dengan nada kesal dan melotot horor pada Dimas yang tersenyum meringis ke arahnya.


“Ya terserah kamu saja! Aku sudah memberikanmu saran yang terbaik. Jangan sampai karena masalah ini membuat Irina membencimu,” ucap Dimas memberikan wejangan kepada Aslan yang sangat keras kepala.


“Dia tidak akan pernah berani membenciku!” balas Aslan yakin.


“Apakah kamu tahu isi hatinya? Apakah kamu tahu perasaannya saat ini? Bisa jadi dia saat ini merasa menderita dan membencimu, bahkan ingin melarikan diri darimu untuk selamanya, tapi dia menahan semua itu karena kamu selalu menggunakan nama suaminya untuk mengancam wanita malang dan tak berdosa itu agar selalu berada di sisimu!” jelas Dimas panjang lebar, agar pikiran pria yang duduk berseberangan dengannya itu terbuka lebar.


Semua perkataan Dimas seolah menjadi cambukan untuk Aslan. Aslan terdiam, memikirkan semua perkataan Dimas yang benar adanya. Jika dia terus memaksa yang ada Irina malah semakin membencinya.


Jadi, apakah dia harus melepaskan Irina untuk sementara waktu? Hanya sementara saja ‘kan?


Aslan sepertinya harus mempertimbangkan semua keputusannya dengan matang.


Dimas menghela nafas kasar ketika melihat Aslan mematung. Dia yakin kalau pria yang ada di hadapannya itu sedang galau setingkat kabupaten.


“Katakan sekali lagi!” Aslan menatap tajam Dimas.


“Tak perlu aku ulang, kamu sudah paham ‘kan maksudku! Jadi lebih baik kamu lepaskan Irina lebih dulu, sebelum Kevin bertindak lebih jauh. Ini demi kebaikan kalian berdua,” jelas Dimas serius.


Dimas takut kalau Kevin mengorek informasi lebih dalam lagi maka pria tersebut bisa menghancurkan Aslan dengan mudah. Apalagi saat ini Irina adalah kelemahan Aslan.


Lagi-Lagi Aslan terdiam sambil mengambil nafas panjang berulang kali. Masalah satu saja belum beres, kini muncul lagi masalah lainnya. Pria tersebut menunduk memijat pangkal hidungnya ketika sakit kepala mulai mendera.


“Jadi, apakah aku harus melepaskan Irina?” tanya Aslan setelah sekian menit terdiam.


“Iya, tenang saja, lagi pula kalau kalian jodoh pasti Tuhan akan menyatukan kalian berdua,” jawab Dimas memberikan kata-kata motivasi kepada temannya yang sedang galau itu.


“Lalu apa rencana selanjutnya?” tanya Aslan tanpa merespons jawaban Dimas. Wajahnya kini terlihat semakin datar dan tatapannya kian menajam bagaikan mata elang yang menemukan mangsa dari kejauhan.


Dimas menjentikkan jarinya, bertanda kalau Aslan harus mendekat, kemudian ia membisikkan sesuatu di dekat telinga bossnya.


 ***


Kira-kira apa rencana Dimas ya? Penasaran 'kan? 😁


Jangan lupa like-nya bestie 😘