1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Semua telah terungkap



Dimas mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju apartemen Kevin. Dia juga sudah menghubungi Aslan agar segera menghubungi pihak berwajib. Karena ini kesempatan emas untuk menangkap Kevin apalagi semua bukti kejahatan Kevin sudah di tangannya.


"Sial!" umpat Dimas seraya mengerem mobilnya secara mendadak saat tiba di perempatan jalan karena adanya lampu merah bertanda semua pengendara jalan raya harus berhenti dan menaati peraturan.


Dimas menekan klakson mobilnya berulang kali, dengan perasaan jengkel luar biasa. Setelah menunggu 3 menit, akhirnya rambu lalu lintas berubah hijau. Dimas mengendarai mobilnya seperti pembalap kelas dunia.


Sementara itu, Meyda saat ini sudah berada di apartemen Kevin.  Gadis itu berusaha bersikap biasa saja, menyembunyikan rasa takutnya agar pria yang ada di depannya itu tidak curiga.


"Tuan Kevin, kenapa Anda membawa saya ke sini?" tanya Meyda sembari mengedarkan pandangan ke setiap sudut apartemen mewah tersebut.


"Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya kalau aku akan mentraktirmu makan es krim. Sekarang duduklah," ucap Kevin mempersilahkan duduk Meyda di sofa ruang tamunya.


Meyda mengangguk, lalu mendudukkan diri di sofa mahal dan empuk itu. Tapi, dia tetap waspada dengan Kevin, Siapa tahu 'kan pria tersebut menyerangnya kapan saja.


Kevin tersenyum smirk seraya berjalan menuju dapur untuk mengambil es krim. Kevin mengambil dua gelas untuk memindahkan es krim dari tempatnya ke gelas yang sudah dia siapkan, setelah itu dia menaburkan sesuatu ke permukaan salah satu es krim yang akan dia berikan pada Meyda.


"Aku pastikan kau akan tercekik setelah memakan es krim beracun ini! Beraninya kau bermain-main denganku!" geram Kevin terdengar sangat dingin dan menakutkan. Kemudian dia mengubah eskpresi wajahnya seperti semula, ramah dan hangat. Dia kembali ke ruang tamu, lalu memberika segelas es krim yang sudah di taburi racun kepada Meyda.


"Nikmatilah," ucap Kevin tersenyum tipis.


"Terima kasih, Tuan, tapi nanti saja," jawab Meyda seraya meletakkan es krim tersebut ke atas meja.


Kevin mengepalkan salah satu tangannya dengan erat, geram karena Meyda tidak langsung memakan es krim pemberiannya.


"Kamu ingin makanan lain?" tanya Kevin, namun Meyda menggelengkan kepala, bertanda kalau wanita itu tidak menginginkan apa pun.


"Kalau begitu, cepat makan es krimnya nanti mencair," bujuk Kevin dengan manis.


Meyda tersenyum lalu mengambil es krim tersebut dan mulai memakannya sedikit demi sedikit tanpa rasa curiga sama sekali, karena es krim itu rasanya sangat manis dan juga nikmat. Meyda tidak pernah memakan es krim seenak ini.


Kevin tersenyum iblis saat melihat wanita itu begitu lahap menikmati es krim beracun yang dia berikan.


"Uhuk!" Meyda tiba-tiba merasa tenggorokkannya panas, dia meletakkan sendok dan gelas yang dia pegang ke atas meja. Rasa panas di tenggorokkannya semakin menjadi, hingga membuat dirinya merasa kesulitan bernafas.


"Tuan, tolong berikan saya air," pinta Meyda memohon kepada Kevin yang terlihat santai sambil menikmati es krim dan menatapnya yang sedang kesakitan.


Ya tuhan, apakah aku akan mati? tanya Meyda di dalam hati, saat nafasnya mulai tersengal, dan tubuhnya mulai melemas, tergeletak di atas sofa.


"Ha ha ha ha." Kevin tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan ketika melihat Meyda semakin kesakitan.


Apa? Dasar iblis! Aku yakin kalau dia sudah meracuniku! Aku bersumpah, akan menghantuimu seumur hidupmu, sialan! umpat Meyda dalam hati sambil memegangi lehernya, dan kedua matanya mulai mendelik ke atas, nyawanya sudah berada di ujung tanduk.


Kevin berjalan mendekati Meyda, bibir pria itu menyeringai ke atas, terlihat sangat menakutkan. "Apakah kamu kesulitan bernafas? Mari aku bantu mencekik lehermu agar kamu secepatnya sampai ke neraka! ha ha ha." Kevin tertawa terbahak-bahak, tapi terdengar sangat mengerikan.


"Brengsek!" umpat Meyda di sisa kesadarannya.


"Terima akibatnya karena kamu sudah bermain-main denganku! Dan perlu aku ingatkan, jika temanmu yang bernama Irina itu sepertinya sudah di usir oleh suami dan ibu mertuanya," desis Kevin lalu kembali terbahak dan mencekik leher Meyda dengan kuat, hingga membuat wanita tersebut mendelik dan menjulurkan lidahnya.


BRAK


BRAK


Terdengar suara pintu di dobrak berulang kali sampai jebol. Beberapa anggota polisi memasuki apartemen tersebut sambil mengarahkan senjata api ke arah Kevin.


Kevin mengangkat kedua tangannya, dia sudah di kepung dan tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Salah satu seorang polisi mengeluarkan borgol lalu mengaitkan di kedua tangan Kevin.


"Sial!" umpat Kevin seraya meronta saat di suruh berjongkok.


Dimas dan Aslan berjalan mendekati Meyda yang nafasnya sudah terputus-putus.


"Dimas, segera bawa Mey ke rumah sakit!" titah Aslan.


Dimas segera menggendong Meyda, namun wanita tersebut mengucapkan satu kata sebelum tidak sadarkan diri.


"I-Irina," ucap Meyda lirih dan terbata.


Aslan mengepal kedua tangannya dengan kuat saat mendengar ucapan wanita tersebut, kemudian menghampiri Kevin dan melayangkan tinju ke wajah rivalnya itu berulang kali. Rasanya dia ingin melenyapkan pria tersebut jika dirinya tidak di tahan oleh beberapa polisi yang ada di sana.


"Tenang, Pak. Anda bisa di kenakan pidana jika tidak mengendalikan diri. Biar tersangka menjadi urusan kami," ucap salah satu polisi tersebut pada Aslan, lalu memerintahkan rekannya untuk mencari barang bukti di apartemen tersebut.


*


*


"Ternyata benar dugaanku jika selama ini kamu bekerja menjadi seorang wanita simpanan!" bentak Yoga sambil melemparkan beberapa foto ke arah istrinya.


"Mas, dengarkan aku dulu." Irina menangis dan memohon pada suaminya, kemudian memungut beberapa foto yang berserak di atas lantai, di mana dirinya sedang berpelukan dengan Aslan di pusat perbelanjaan. Dari mana suaminya mendapatkan foto-foto ini?


Apakah Aslan sengaja melakukannya? pikir Irina.


Jika benar Aslan pelakunya, maka Irina tidak akan memaafkan pria tersebut.


"Keluar kamu dari sini!! Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi!!!" usir Yoga pada istrinya penuh emosi.


****


Nggak bisa bayangin kalau di posisi Irina. Sedih banget😭