
Karena demi kebaikan mereka berdua. Akhirnya Irina dan Aslan menyetujui saran dari Allegra yang akan menikahkan mereka pada hari itu juga. Tapi, Irina harus meminta izin kepada ibu panti terlebih dahulu, sekaligus menjelaskan semua tentang Aslan dengan sejujur-jujurnya.
"Bagaimana, Bu?" tanya Irina melalui sambungan telepon, dia sudah menjelaskan semuanya kepada ibu panti.
"Terus terang ibu sangat terkejut jika bayi yang ada di dalam kandunganmu itu ternyata bukan bayi Yoga, tapi milik pria lain. Ibu serahkan semua keputusan ini kepadamu, karena kamu yang akan membina rumah tangga dan menjalaninya. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu Irina," ucap ibu panti dengan bijak pada Irina.
"Maafkan aku,Ibu, karena tidak jujur sejak awal pada ibu," ucap Irina dengan perasaan yang terharu dan merasa bersalah pada ibu panti.
"Tidak apa-apa. Semua bisa diperbaiki, ibu harap kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan, Irina. Ibu tutup dulu teleponnya, karena ada beberapa anak yang sedang rewel karena batuk pilek," ucap Ibu panti.
"Amin, Iya, Bu, terima kasih banyak," jawab Irina lalu mematikan sambungan telepon tersebut. Irina menghembuskan nafas lega, kemudian masuk ke dalam rumah tersebut, karena saat ini dia sedang berada di teras rumah, duduk di kursi jati yang diukir dengan sedemikan rupa.
Di dalam rumah. Aslan langsung memberondong Irina dengan beberapa pertanyaan.
"Bagaimana sayang? Apakah ibu panti setuju? Ibu panti marah atau tidak?" Aslan menatap Irina dengan cemas, hatinya juga was-was, takut kalau ibu panti tidak memberikan restu pada mereka.
"Aslan! Jika kamu bertanya seperti itu, Irina akan bingung ingin menjawab yang mana dulu!" omel Allegra pada putranya.
"Ma, aku tidak sabar dan sangat penasaran!" Aslan membela diri.
"Kamu diam saja, biar Mama yang bertanya!" tegas Allegra seraya mendekati Irina yang masih berdiri di dekat pintu rumah.
"Bagaimana Irina?" tanya Allegra dengan lembut.
"Ah, syukurlah." Allegra dan Gerry bernafas lega, sedangkan Aslan sudah jingkrak-jingkrak penuh kebahagiaan.
"Yes! Kawin!" seru Aslan seraya meninju udara berulang kali dengan penuh semangat. Wajahnya yang terlihat pucat langsung berubah cerah, dia seolah langsung melupakan rasa mual, dan pusing yang sedang mendera.
"Aslan! Jangan bikin malu!" omel Allegra dan Gerry bersamaan, sedangkan Irina tersenyum melihat tingkah Aslan yang ternyata sangat absurd.
Mendengar omelan kedua orang tuanya, dia langsung tersadar kalau sudah bersikap diluar batas, lalu menatap Irina yang juga tengah menatapnya, rasa malu kini baru terasa menguasai tubuhnya. Aslan langsung mendudukkan diri di sofa ruang tamu, seraya memasang wajah datar dan dingin.
Hancur sudah image arogan dan dingin yang selama ini melekat padanya, batin Aslan, terus merutuki dirinya.
"Kalian tunggu di sini, jangan ke mana-mana, Mama dan Papa akan pergi ke WO untuk mempersiapkan pernikahan kilat kalian!" ucap Allegra penuh semangat, lalu menarik tangan suaminya keluar dari rumah tersebut.
Setelah kedua orang tuanya sudah tidak terlihat. Aslan beranjak berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati Irina yang masih berdiri di tempat.
"Ciee, ternyata Tuan Arogan bisa bersikap konyol juga ya," goda Irina pada Aslan.
"Diam!" tegas Aslan, lalu mendengus kesal, menatap Irina dengan sebal.
"Cie ... cie ..." Irina semakin menggoda Aslan yang wajahnya kini bersemu merah. Irina tidak menyangka kalau Aslan yang garang ternyata bisa se-menggemaskan ini.