1000 HOURS WITH YOU

1000 HOURS WITH YOU
Pembalasan Irina



"Keluar kamu dari sini!! Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi!!!" usir Yoga pada istrinya penuh emosi.


Irina meremas foto di tangan kanannya dengan erat. Air matanya terus mengalir membasahi pipi, namun rahangnya juga mengeras kuat, kemudian dia menegakkan kepalanya, menatap suaminya dengan tatapan dingin.


“Apakah ini balas atas semua yang sudah aku lakukan kepadamu? Apakah kamu sadar kalau aku melakukan pekerjaan itu demi kamu, menyelamatkan hidupmu dari kematian! Aku rela melakukan apa pun demi kamu, karena aku terlalu mencintaimu. Tapi, sekarang aku sadar, jika kamu adalah pria yang tidak pantas menerima cintaku yang tulus ini! Sekarang, apakah kamu bisa mengembalikan uang 400 juta yang sudah di gunakan untuk biaya operasimu itu? Bisa atau tidak!!!!” sentak Irina dengan berapi-api, meluapkan segela rasa yang menyakitkan yang bercekol di dalam dadanya.


Kecewa, marah, dan sakit hati, itulah yang di rasakan Irina saat ini. Begitu kejam suaminya bersikap seperti itu kepadanya. Apakah suaminya itu sudah tidak punya hati nurani lagi. Dia rela menjual harga diri serta tubuhnya demi menyelamatkan nyawa suami bajingannya itu. Perjuangan Irina serasa sia-sia selama ini. Tahu begini, dia tidak melakukan apa pun untuk Yoga.


“Aku lebih baik mati dari pada di tolong dengan uang harammu itu!” balas Yoga tidak punya hati.


“Oh ya? Sekarang kamu sudah tahu segalanya, kenapa kamu tidak mati saja?! Aku harap Tuhan mendengar semua ucapan yang keluar dari mulutmu, dan mengabulkan permintaanmu itu!” balas Irina dengan penuh kekecewaan.


“Sudah berani membantah ucapanku?!” Yoga menatap tajam Irina.


“Karena kamu bukan suamiku lagi!” balas Irina tanpa rasa takut, bahkan dia dengan berani menatap Yoga tak kalah tajam.


Bu Nining yang sejak tadi menguping pertengkaran antara anak dan menantunya akhirnya keluar dari persembunyian, melerai mereka berdua agar tidak bertengkar lagi.


“Kalian berdua, jangan saling gede ego,” ucap Bu Nining pada anak dan menantunya secara bergantian.


“Terima kasih, Bu, atas nasehatnya. Tapi, nasehat itu hanya berlaku untul Yoga saja!” jawab Irina, menyebut nama suaminya tanpa embel-embel ‘Mas’ alias hanya nama saja.


Irina langsung beranjak dari sana menuju kamar untuk mengemasi semua pakaiannya ke dalam koper.


Di ruang tamu rumah sederhana itu, Bu Nining memarahi putranya habis-habisnya.


“Punya otak apa nggak kamu itu?!” sentak Bu Nining pada putranya.


“Bu, aku ...”


“Diam!!! Tidak usah banyak bicara kalau nggak tahu arti perjuangan! Seharusnya kamu berterima kasih pada Irina karena usaha kerasnya berhasil membuatmu berdiri dan di tengah ruangan ini! Ibu benar-benar kecewa sama kamu, Ga!” Bu Nining meluapkan kekecewaannya.


“Bu, tapi aku nggak bisa menerima wanita yang sudah di jamah oleh pria lain! Membayangkannya saja sudah jijik,” balas Yoga tidak mau kalah.


“Oh ... satu lagi, seharusnya sejak awal aku membiarkanmu mati!” lanjut Irina sembari menghentikan langkahnya,.


“Kurang ajar!” umpat Yoga.


“Ngapain kamu marah? Bukankah kamu tadi bilang kalau tidak ingin hidup dengan bantuan uang haram? Sekarang hati yang ada di dalam tubuhmu itu di dapatkan dengan cara haram, aku harap hati itu tidak berfungsi lagi dan membuatmu mati secara perlahan-lahan!” balas Irina sangat kejam, tapi Irina mempunyai alasan mengatakan hal itu semua, karena dia bukanlah wanita lemah yang gampang untuk di tindas.


Yoga mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, seraya menatap tajam istrinya yang sudah pintar membantah.


Irina menghela nafas panjang, kemudian melepas cincin yang melingkar di salah satu jari manisnya lalu meletakkannya di atas meja.


“Sesuai dengan keinginanmu, aku bukan lagi istrimu. Terima kasih atas kekecewaan dan penderitaan yang selama ini kamu berikan kepadaku. Dan aku harap, kamu nggak akan pernah bahagia!” ucap Irina menatap dingin pada pria yang sudah menemani hidupnya selama 7 bulan ini.


“Ya ampun, doamu jelek sekali Irina!” Bu Nining melayangkan protes kepada menantunya. “Apa semua ini tidak bisa di bicarakan baik-baik? Kalian masih saling mencintai ‘kan, maka jangan berpisah,” lanjut Bu Nining menatap anak dan menantunya secara bergantian.


“Doa orang yang tersakiti biasanya langsung menembus langit ke tujuh! Dan, maaf, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena aku baru sadar kalau putra ibu bukan pria yang baik. Saya permisi!” Irina menarik kopernya, keluar dari rumah sederhana itu.


“Irina!” teriak Bu Nining memanggil menantunya itu, akan tetapi Irina tidak memedulikannya.


“Bu, sudah, jangan di panggil! Dia tidak pantas berada di rumah ini!” ucap Yoga tidak berperasaan.


“Ibu memang suka dengan uang, apalagi kalau uang yang sangat banyak! Tapi, kamu sudah gila karena melepaskan wanita sebaik Irina. Ibu sangat kecewa sama kamu, Ga!” Bu Nining menumpahkan kekecewaannya.


“Ibu nggak rela melepaskan Irina karena wanita itu bisa menghasilkan banyak uang ‘kan?! Ibu jauh lebih jahat kalau benar seperti itu!” balas Yoga.


Bu Nining terdiam tapi mendumel di dalam hati, karena yang di katakan putranya sangat benar dan tepat sasaran.


 ****


Ketika emosi kita sedang di uji, mohon bersabar untuk baca part ini,🤣


Jangan lupa like, komentar serta dukungan lainnya 😘